STIT Muhammadiyah Paciran, Lamongan kembali mencatatkan prestasi akademik. Salah satu dosennya, Maftuhah, M.Pd., berhasil lolos sebagai presenter terpilih pada Seminar dan Konferensi Nasional yang digelar UIN Syekh Wasil Kediri pada Kamis-Jumat (20-21/11/2025).
Kehadiran Maftuhah menjadi wujud kontribusi nyata STIT Muhammadiyah Paciran dalam percakapan ilmiah tingkat nasional.
Kegiatan Seminar dan Konferensi Nasional yang diselenggarakan oleh UIN Syekh Wasil Kediri ini berlangsung sukses dengan menghadirkan para akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai wilayah Indonesia.
Acara ini menjadi ruang strategis untuk bertukar gagasan, memperkuat jejaring ilmiah, serta merespons perkembangan teknologi dan dinamika sosial yang terus bergerak.
Dalam forum ilmiah tersebut, Maftuhah tampil sebagai presenter terpilih setelah melalui proses seleksi karya ilmiah.
Presentasi yang ia sampaikan mendapatkan apresiasi dari peserta karena mengangkat isu yang relevan dengan pengembangan pendidikan Islam di era digital.
Kehadiran Maftuhah tidak hanya menjadi prestasi individual, tetapi juga memperkuat posisi STIT Muhammadiyah Paciran sebagai perguruan tinggi yang aktif berpartisipasi dalam pengembangan keilmuan.
Melalui kegiatan ini, Maftuhah membawa gagasan baru dan inspiratif yang nantinya akan dikembangkan dalam kegiatan akademik di kampus, termasuk mendorong inovasi pembelajaran dan peningkatan kualitas riset.
Seminar dan konferensi yang berlangsung selama dua hari ini menyajikan berbagai diskusi tematik terkait pendidikan, teknologi, dan isu-isu sosial kontemporer.
Dalam forum tersebut, Maftuhah, mempresentasikan penelitiannya berjudul “Integrasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pendidikan untuk Membangun Kemanusiaan dan Keberlanjutan: Studi Kasus Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan.”
Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu pendekatan strategis untuk menumbuhkan karakter humanis, toleran, serta adaptif terhadap dinamika sosial dan perkembangan teknologi.
“Perkembangan teknologi saat ini membawa kemajuan, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa polarisasi dan krisis kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, pendidikan moderasi beragama menjadi semakin penting,” papar Maftuhah dalam presentasinya.
Ia juga memaparkan bahwa penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi.
Hasil penelitiannya tersebut menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Sunan Drajat menerapkan moderasi beragama melalui tiga pilar utama, yaitu integrasi kurikulum, pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, dan keteladanan kepemimpinan.
Maftuhah menyebut bahwa nilai-nilai seperti tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i‘tidal tidak hanya diajarkan secara kognitif, tetapi juga diinternalisasikan melalui praktik keseharian santri dan keteladanan para kiai.
“Karakter santri terbentuk melalui pembelajaran dialogis, interaksi lintas budaya, serta kegiatan-kegiatan sosial yang menumbuhkan empati dan kepedulian,” terangnya.
Presentasi tersebut mendapat perhatian dari peserta konferensi karena relevan dengan upaya penguatan pendidikan Islam moderat di tengah perubahan sosial yang cepat.
Forum ini juga memberi ruang diskusi tentang bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat menjadi agen transformasi sosial yang mendorong harmoni dan keberlanjutan.
Para peserta, termasuk Maftuhah, pulang dengan beragam wawasan baru yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran maupun pengabdian masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments