Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Riya Merusak Amal: Saat Kebaikan Kehilangan Makna

Iklan Landscape Smamda
Riya Merusak Amal: Saat Kebaikan Kehilangan Makna
Ilustrasi Ai
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Malang
pwmu.co -

Pernah merasa sangat senang saat melakukan kebaikan, lalu ada orang lain melihat dan memuji? Atau bahkan sengaja membagikan amal di media sosial demi mendapatkan apresiasi?

Jika iya, kita perlu waspada. Bisa jadi, tanpa disadari, ada penyakit hati yang sedang mengintai: riya’.

Riya’ adalah melakukan amal bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena ingin dilihat, diperhatikan, atau dipuji oleh manusia. Secara lahir tampak sebagai kebaikan, namun secara batin bisa menjadi sesuatu yang berbahaya.

Amal yang disertai riya’ tidak akan bernilai di sisi Allah, meskipun tampak besar di mata manusia. Apa yang terlihat mulia di hadapan manusia, bisa jadi kosong dan sia-sia dalam penilaian-Nya.

Riya’ bukan sekadar kesalahan biasa. Dalam ajaran Islam, ia bahkan disebut sebagai syirik kecil karena mencampurkan niat ibadah kepada selain Allah.

Nabi Muhammad pernah mengingatkan bahwa ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke neraka pada hari kiamat:

  • Orang yang membaca Al-Qur’an agar disebut ahli baca
  • Orang yang berjuang agar disebut pemberani
  • Orang yang bersedekah agar disebut dermawan

Hadis ini menunjukkan bahwa amal sebesar apa pun bisa menjadi sia-sia jika tidak dilandasi keikhlasan.

Amal yang disertai riya’ diibaratkan seperti seseorang yang keluar dari pasar dengan kantong penuh kerikil. Orang-orang memujinya karena kantongnya terlihat penuh.

Padahal, isi kantong itu tidak memiliki nilai apa pun.

Begitulah amal tanpa keikhlasan—terlihat besar, tetapi kosong dari manfaat di sisi Allah. Yang tersisa hanyalah pujian manusia.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ketika merasa ada riya’, solusinya bukan meninggalkan amal.

Tidak pergi ke masjid karena takut dianggap “baru tobat”, atau enggan berhijab karena takut disebut “baru hijrah”, justru merupakan kemenangan bagi godaan setan.

Yang perlu dilakukan adalah meluruskan niat, bukan menghentikan kebaikan.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Melawan hawa nafsu
  • Memperbanyak doa agar diberi keikhlasan
  • Menyembunyikan amal jika memungkinkan (seperti sedekah)
  • Mengingat bahwa penilaian Allah lebih penting daripada manusia

Kunci utamanya adalah menghadirkan niat yang lurus—bahwa semua amal dilakukan hanya untuk Allah.

Riya’ adalah penyakit hati yang halus, tetapi dampaknya besar. Ia dapat merusak amal yang telah susah payah dilakukan.

Karena itu, menjaga keikhlasan menjadi hal yang sangat penting dalam setiap kebaikan.

Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak amal yang kita lakukan, tetapi seberapa tulus niat kita di dalamnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 12/04/2026 06:38
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡