Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tapi Juga Madrasah Pertama bagi Anak

Iklan Landscape Smamda
Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tapi Juga Madrasah Pertama bagi Anak
pwmu.co -
(Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)

Oleh: Alfain Jalaluddin Ramadlan – Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, dan KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

PWMU.CO – Pendidikan anak dalam Islam bukan sekadar upaya intelektual semata, melainkan amanah ilahiah yang wajib dipenuhi oleh setiap orang tua, yang dimulai dari rumah sebagai madrasah pertama bagi anak.

Dalam pandangan Islam, anak adalah karunia sekaligus ujian dari Allah. Maka, mendidik mereka dengan benar adalah bentuk pengabdian kepada Allah Swt, bukan hanya demi kebahagiaan duniawi, tetapi juga keselamatan ukhrawi.

Allah Swt berfirman:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs At-Tahrim: 6).

Ayat ini merupakan seruan langsung kepada orang-orang beriman, agar tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri dari siksa neraka, tetapi juga mendidik dan membimbing keluarganya agar tetap berada dalam jalan ketaatan kepada Allah. Salah satu bentuk konkret dalam menjaga keutuhan keluarga ialah mendidik anak-anak dengan nilai-nilai Islam, serta membekali mereka dengan akhlak mulia, iman yang kuat, dan ilmu yang benar.

Ayat tersebut sering dijadikan dalil utama oleh para ulama tentang kewajiban pendidikan anak, karena pendidikan adalah upaya paling mendasar dalam menjaga mereka dari kesesatan dan siksa kelak. Sebab, mendidik bukan hanya tentang memberikan fasilitas atau memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup pembinaan akidah, ibadah, dan akhlak.

Rasulullah Saw bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut dijelaskan tiga makna:

Pertama, setiap anak lahir dalam keadaan suci dan berpotensi menerima Islam. Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama fitrah yang sesuai dengan naluri dasar manusia. Anak tidak membawa dosa atau kecenderungan buruk dari lahir.

Kedua, orang tua berperan besar dalam membentuk keyakinan dan karakter anak. Rasulullah menjelaskan bahwa orang tua adalah faktor penentu arah pendidikan anak, baik ke jalan iman atau sebaliknya.

Ketiga, lingkungan keluarga sangat menentukan. Jika orang tua tidak memberikan pendidikan Islam yang benar, maka anak akan tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai tauhid dan akhlak mulia.

Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan, khususnya pendidikan dari orang tua sangat menentukan ke arah mana anak akan tumbuh. Pendidikan yang baik sejak dini akan menjadi benteng kokoh bagi anak untuk menghadapi tantangan zaman.

Misalnya, jika anak lebih sering melihat orang tuanya bermain gadget daripada membaca al-Quran, maka anak pun akan meniru. Jika orang tuanya tidak mengajarkan adab makan, berpakaian, atau bertutur kata, maka anak akan mencari panutan dari luar—media sosial, teman sebaya, bahkan tontonan yang belum tentu baik.

Oleh karena itu, hadits ini menjadi dalil yang kuat atas besarnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak, sebab adalah kertas putih yang bisa ditulis indah, tetapi bisa pula ternoda jika dibiarkan tanpa bimbingan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering disuguhkan berita yang memilukan: anak-anak usia sekolah yang sudah terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba, tawuran, bahkan menjadi pelaku kekerasan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Salah satu contohnya adalah kasus di Yogyakarta tahun 2023, ketika seorang siswa SMP terbukti menjadi pelaku pengeroyokan terhadap temannya hingga meninggal dunia. Berdasarkan laporan psikolog sekolah, pelaku berasal dari lingkungan keluarga yang minim pendidikan agama dan kasih sayang, serta terlalu bebas menggunakan media sosial tanpa pengawasan.

Kasus ini hanyalah satu dari ribuan kejadian serupa yang menunjukkan bahwa ketidakhadiran pendidikan agama dan akhlak dalam keluarga dapat membawa dampak serius bagi masa depan anak dan lingkungan sekitar.

Tujuan Pendidikan dalam Islam

Islam menetapkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Makna Hadits tersebut yakni: pertama, misi utama kerasulan Nabi Muhammad Saw adalah pendidikan akhlak.

Hadits ini menegaskan bahwa walaupun Islam mengatur banyak aspek kehidupan tentang ibadah, muamalah, hukum, dan sosial, namun fokus utamanya adalah membentuk manusia berakhlak mulia.

Dua, Akhlak adalah fondasi dalam pendidikan Islam.

Pendidikan anak menurut Islam bukan hanya mengajarkan ilmu atau keterampilan, tetapi juga mengakar kuat pada pembentukan karakter (akhlak), seperti kejujuran, kasih sayang, sopan santun, tanggung jawab, dan kesabaran.

Tiga, Nabi Muhammad Saw adalah teladan akhlak terbaik.

Allah Swt berfirman dalam al-Quran:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs Al-Qalam: 4).

Maka, dalam mendidik anak, orang tua dan guru harus meneladani Rasulullah, dengan cara mengajarkan nilai-nilai akhlak dengan perkataan dan perbuatan nyata, bukan sekadar nasihat kosong. Anak-anak perlu dibekali nilai moral dan spiritual, agar kelak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, adil, dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat.

Hadits tersebut menjadi pijakan kuat bahwa pendidikan akhlak adalah inti dari misi Islam. Maka, dalam mendidik anak, kita tidak cukup hanya mengejar nilai rapor, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Rasulullah SAW telah menjadi teladan agung dalam mendidik umat, dan setiap orang tua Muslim harus meneladaninya dalam membina generasi.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu