Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tapi Juga Madrasah Pertama bagi Anak

Iklan Landscape Smamda
Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tapi Juga Madrasah Pertama bagi Anak
pwmu.co -

Tahapan Mendidik Anak dalam Islam

Tahap pertama, usia 0–7 tahun: Masa Kasih Sayang dan Teladan

Rasulullah Saw menunjukkan betapa pentingnya kelembutan terhadap anak. Beliau pernah mencium cucunya Hasan dan Husain, bahkan menegur sahabat yang mengaku tak pernah mencium anaknya.

Pada saat ini, orang tua harus menjadi teladan dalam ibadah, kejujuran, dan kebaikan karena anak belajar melalui pengamatan.

Tahapan Kedua, usia 7–14 tahun: Masa Pendidikan dan Disiplin

Rasulullah Saw bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud No. 495).

Makna Hadits tersebut yakni:

Satu, Perintah Bertahap dan Pendidikan Dini.

Hadits ini menegaskan pentingnya pendidikan ibadah sejak dini, dengan pendekatan bertahap. Pada usia 7 tahun, anak belum wajib shalat secara hukum (belum baligh), tetapi sudah harus dibiasakan dan diperintahkan. Masa ini adalah masa latihan dan pembiasaan.

Dua, Disiplin dalam Pendidikan.

Jika pada usia 10 tahun anak masih enggan shalat, maka orang tua diperbolehkan menggunakan tekanan berupa hukuman fisik yang ringan, sebagai bentuk pendidikan disiplin.

Hukuman ini bukan bersifat menyakiti, tetapi mendidik dengan tegas dan penuh tanggung jawab, dan hanya dalam batas yang diperbolehkan syariat.

Tiga, Pemisahan Tempat Tidur.

Pemisahan tempat tidur juga menunjukkan bahwa pendidikan Islam sangat sensitif terhadap perkembangan psikologis dan seksual anak-anak. Hal ini mengajarkan kehormatan, batas aurat, dan kontrol diri sejak dini.

Hal ini menunjukkan pentingnya mendidik anak secara bertahap, dengan penuh kasih sayang namun tetap disiplin, agar mereka terbiasa menjalankan kewajiban agama.

Tahap ketiga, usia 14 tahun ke atas: Masa Kemandirian dan Tanggung jawab

Anak sudah mulai dikenalkan pada tanggung jawab sosial, pengambilan keputusan, dan mulai diarahkan agar menjadi pribadi yang dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Islam juga tidak menolak pendidikan modern. Bahkan al-Quran berkali-kali mendorong umat Islam untuk berpikir, membaca, dan menuntut ilmu. Firman Allah:

Iklan Landscape UM SURABAYA

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Qs. Al-‘Alaq: 1).

Ayat ini merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, menandai dimulainya risalah Islam. Kata “Iqra” berarti bacalah, yang menunjukkan perintah untuk menuntut ilmu, membaca, mempelajari, dan memahami ciptaan Allah sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya.

Implementasi dari ayat ini adalah membiasakan anak mencintai membaca sejak dini, dimulai dari buku cerita Islami, lalu berkembang ke al-Quran. Selain itu, menjadikan rumah sebagai tempat belajar, bukan hanya bermain atau menonton.

Selanjutnya, kaitkan setiap pelajaran dengan nama Allah, misalnya: Siapa yang menciptakan bunga ini? Mengapa air bisa menguap? atau Bagaimana Allah membuat tubuh kita bisa bergerak?.

Tahap terakhir, menumbuhkan niat bahwa belajar adalah ibadah, bukan beban.

Ayat tersebut menegaskan bahwa pendidikan adalah perintah langsung dari Allah. Maka, orang tua perlu membekali anak-anak mereka tidak hanya dengan nilai-nilai spiritual, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, literasi digital, dan ilmu pengetahuan yang luas, dengan tetap berlandaskan iman dan akhlak.

Oleh karena itu, tanggung jawab pendidikan tidak hanya di tangan orang tua. Sekolah dan masyarakat juga harus menciptakan ekosistem yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak. Sayangnya, di beberapa daerah, sistem pendidikan formal justru lebih menekankan target akademik daripada pembentukan karakter.

Misalnya, banyak sekolah di kota besar yang lebih menghargai nilai ujian daripada kejujuran atau kemandirian siswa. Padahal, pendidikan karakter justru menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang tangguh.

Pendidikan Anak adalah Investasi Akhirat

Pendidikan anak dalam Islam adalah investasi jangka panjang, bahkan hingga kehidupan setelah kematian. Rasulullah Saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila anak Adam wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim No. 1631).

Oleh karena itu, mendidik anak bukan hanya soal bagaimana mereka hidup hari ini, tetapi bagaimana mereka tetap menjadi sumber pahala bagi orangtuanya di akhirat kelak.

Pendidikan yang baik akan melahirkan generasi Qurani, pembela kebenaran, penegak keadilan, dan penerus risalah Islam. Sebaliknya, kelalaian dalam mendidik anak hari ini adalah awal dari kehancuran peradaban di masa depan. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu