
PWMU.CO – Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur adalah ungkapan yang tidak saja sejahtera dalam konteks material, tapi juga dalam konteks in-material.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim Dr M Saad Ibrahim MA menyanpaikan hal itu saat membuka Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Politik 2019 dan Kemandian Bangsa memeringati Milad Ke-106 Muhammadiyah di Aula Mas Mansyur Gedung Muhammadiyah Jatim, Sabtu (10/11/18).
Pak Saad—sapaan akrabnya—mengatakan, konsep baldatun thayyibatun itu adalah cerminan kawasan Indonesia. “Ini anugerah dari Allah SWT, dan Allah berikan kasawan ini thayyibah kepada kita. Setidak-tidaknya, kita jaga thayyibah itu. Jangan diusik, kalau bisa kita mengembangkan pemberian Allah yang thayyibah itu semakin lebih, dan lebih, dan lebih,” ungkapnya.
Saad mengatakan, orang merasa enak, merasa sejahtera, dan bahagia berada dalam kawasan yang diberi oleh Allah yang bernama Indonesia. “Maka, inilah yang dinamakan baldah thayyibah. Tentunya keadilan itu harus menjadi bagian penting, proteksi bagi yang lemah, keberpihakan pada yang di bawah,” kata dia.
Menurutnya, inilah yang menjadi konsen utama bagi Muhammadiyah. “Harus menjadi bagian penting dari proyeksi bangsa ini ke depan, dari proyeksi seluruh komponen bangsa ini untuk membawa dan memiliki negeri yang kita banggakan,” ujarnya.
Untuk itu, tiada hentinya Muhammadiyah berkhitmad bagi negeri ini. Bahkan sejak negara ini belum berdiri. Dan itu dilakukan terus-menerus, melampaui negeri ini sendiri, bahkan bersifat global. Dan memberikan manfaaat yang besar untuk eksistensi di negeri ini.
Maka, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan untuk milad kali ini bertema “Taawun untuk Negeri”.
“Apa yang harusnya kita baca?” tanya Saad. Pertama, ujarnya, kita meminta kepada seluruh komponen bangsa ini untuk saling tolong menolong, bahu membahu, membawa negeri ini ke posisi proyektif yang baik.
Yang kedua, ini juga sekaligus pelajaran penting Muhammadiyah dan semoga menjadi kesadaran bangsa ini secara keseluruan. Negeri ini tidak bisa diurus, tidak bisa diproyeksikan, oleh satu komponen bangsa itu. “Maka, seluruh komponen bangsa ini harus bahu membahu membawa negeri ini mencapai kemajuannya,” ujar Dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Kemudian, dalam konteks wa rabbun ghafur, Saad mengatakan, dalam mengelolah pemberian Allah ini, sekalipun kita upayakan secara optimal, tentu saja masih terdapat kesalahan-kesalahan. Tapi apapun kesalahan yang kita lakukan, bukankah pintu ampunan Allah itu sangat luas. “Maka ketika Allah menjanjikan dan memberikan ampunan, maka kita berhasil membawa negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tegasnya. (Emil)





0 Tanggapan
Empty Comments