
Oleh: Ghilman Mudhoffar Ali – Mahasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih UMM
PWMU.CO – Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang serba viral, fenomena ibadah haji dan kurban mengalami transformasi yang mengkhawatirkan.
Timeline media sosial dipenuhi konten perjalanan “unik” menuju Makkah, dari berjalan kaki hingga menggunakan perahu dari galon bekas. Likes, share, dan komentar membludak, pelaku menjadi terkenal. Hingga pertanyaan mendasar muncul: di manakah ruh ibadah yang sesungguhnya?.
Allah SWT telah menetapkan haji sebagai salah satu rukun Islam yang wajib bagi mereka yang mampu, sebagaimana dalam QS. Ali Imran ayat 97:
فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“.
Kata “yang sanggup” dalam ayat ini mencakup kemampuan finansial, fisik, dan keamanan perjalanan. Islam mengajarkan kemudahan dalam beribadah, bukan kesulitan yang dibuat-buat demi sensasi media sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya“.
Jika niat sejak awal adalah untuk mencari sensasi dan popularitas, maka di situ terletak masalahnya. Ibadah yang suci berubah menjadi ajang pamer dan pencarian eksistensi di sosial media.
Fenomena serupa terjadi juga pada ibadah kurban. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَر
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah“.
Ibadah kurban terinspirasi dari ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela berkorban untuk Allah. Namun realitas hari ini menunjukkan fenomena yang sangat ramai: kurban sering disajikan sebagai konten yang sebenarnya memiliki dampak positif dan juga negatif.
Dampak positifnya dari fenomena konten kurban dapat menginspirasi orang lain agar ikut serta berkurban, tetapi sisi negatifnya orang yang meniatkan kurban itu untuk ajang pamer karena mungkin hewan kurbanya lebih besar ataupun lebih banyak dapat menyebabkan hilangnya ruh ibadah kita.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Daging dan darah binatang-binatang itu tidak akan sampai kepada Allah. Akan tetapi, ketakwaanmulah yang akan sampai kepada-Nya. Demikianlah Allah menundukkan binatang-binatang itu kepadamu, agar kamu dapat mensyukuri kebesaran Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadamu, dan agar kamu dapat menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik“.
Yang Allah lihat bukanlah seberapa mahal hewan kurban atau seberapa viral videonya, tetapi seberapa tulus ketakwaannya.
Sebagai bagian dari gerakan pemurnian ajaran Islam, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan panduan yang jelas.
Mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan, kita diajak untuk senantiasa kembali kepada al-Quran dan hadits shahih, tanpa tambahan yang tidak memiliki dasar syariat.
Dalam konteks fenomena “haji viral”, manhaj Tarjih menegaskan bahwa ibadah haji harus dilakukan sesuai tuntunan syariat, bukan berdasarkan keinginan tampil beda demi konten media sosial. Allah SWT telah memperingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 195:
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah tanganmu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan karena menahannya. Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik“.
Menghadapi fenomena ini, diperlukan langkah-langkah untuk mengembalikan ibadah pada hakikatnya.
Pertama, pemurnian niat secara menyeluruh. Sebelum melakukan atau mendokumentasikan ibadah, setiap Muslim harus bertanya: apakah ini untuk Allah ataukah untuk popularitas media sosial?.
Kedua, menjaga kesucian ibadah. Tidak semua momen ibadah perlu didokumentasikan. Ibadah yang paling berkesan justru yang paling hening dan personal.
Ketiga, fokus pada substansi, bukan sensasi. Daripada berlomba mencari cara ibadah yang paling viral, lebih baik fokus pada kualitas spiritual dan keikhlasan.
Sebagai penutup penulis mengajak kita semua untuk kembali kepada fitrah ibadah yang sesungguhnya. Ibadah yang dilakukan dengan keikhlasan, jauh dari sorotan kamera, dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Karena pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa viral ibadah kita, tetapi seberapa ikhlas hati kita dalam menjalankannya.
Dalam pandangan Muhammadiyah, kembali kepada al-Quran dan hadits yang sahih adalah jalan terbaik untuk mengatasi berbagai penyimpangan zaman. Mari kita jadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai ajang pamer di hadapan manusia.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi pengingat bagi diri saya sendiri dan kita semua untuk senantiasa menjaga kesucian ibadah di era digital yang penuh godaan ini.(*)
Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments