Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Hidayah Menyentuh Hati, Akhlak Mulia Mengundang Rahmat Allah

Iklan Landscape Smamda
Saat Hidayah Menyentuh Hati, Akhlak Mulia Mengundang Rahmat Allah
Foto: thehansindia.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Jika Allah menghendaki kebahagiaan bagi hamba-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikan jiwa hamba tersebut berbahagia dengan hidayah. Hidayah adalah cahaya yang menuntun hati manusia menuju kebenaran, membimbing langkahnya agar tetap berada di jalan yang diridai Allah.

Ketika hidayah menyentuh hati seseorang, akan tampak tanda-tanda kebahagiaan dalam dirinya. Ia mudah tersentuh ketika mengingat dosa-dosanya, lalu menyesali kesalahan yang pernah dilakukan. Ia kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati, memohon ampunan dan maghfiroh-Nya.

Air mata yang jatuh saat beristighfar bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati. Hati yang hidup akan selalu merasa dekat dengan Allah dan takut melakukan dosa yang menjauhkan dirinya dari rahmat-Nya.

Allah pun akan memperbaiki keadaannya dan menggantikan ucapan serta perbuatannya dengan kebaikan. Apa yang dahulu mungkin dipenuhi kelalaian, kini berubah menjadi amal kebajikan. Apa yang dahulu terucap dengan emosi, kini berubah menjadi kata-kata yang menenangkan.

Karena itu, kunci kebahagiaan sejati adalah kembali kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang Allah inginkan hidayah kepadanya, maka Allah akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam.” (QS. Al-An’am: 125)

Kelapangan dada adalah anugerah yang luar biasa. Orang yang mendapatkannya akan merasa ringan dalam beribadah, mudah menerima nasihat, dan tidak mudah tersulut oleh amarah ataupun prasangka buruk kepada orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat contoh sederhana tentang bagaimana akhlak yang baik menghadirkan kebahagiaan.

Misalnya seorang pedagang kecil di pasar. Meski dagangannya sederhana, ia selalu melayani pembeli dengan senyum dan kata-kata yang santun.

Ketika ada pembeli yang menawar terlalu rendah, ia tetap menjawab dengan lembut tanpa marah. Tanpa disadari, banyak orang yang kemudian menjadi pelanggan setianya. Bukan semata karena barang yang dijual, tetapi karena akhlaknya yang menenangkan hati.

Contoh lain dapat kita temukan dalam kehidupan keluarga. Seorang ayah yang berbicara lembut kepada anak-anaknya akan menumbuhkan rasa hormat dan cinta dalam keluarga. Sebaliknya, kata-kata yang kasar sering kali meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Begitu pula dalam kehidupan bertetangga. Ada orang yang selalu menjaga tutur kata, tidak mudah menyakiti perasaan orang lain, serta ringan tangan membantu ketika tetangganya mengalami kesulitan. Orang seperti ini sering menjadi tempat orang lain mencari nasihat dan ketenangan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Semua itu menunjukkan bahwa akhlak mulia bukan hanya memperindah hubungan antar manusia, tetapi juga menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Karena itu, pastikan diri kita memiliki hati yang lembut, lisan yang baik, dan sikap yang santun. Tabiat yang indah itulah yang menjadi sebab mudah turunnya kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada diri kita.

Ketika kita memiliki hati yang bersih, hati yang tenang, hati yang jauh dari su’udzon kepada orang lain, serta hati yang tidak keras terhadap saudara yang berada di sekitar kita, maka kehidupan akan terasa lebih damai.

Kita akan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain, menjaga perasaan mereka, dan menghargai harga diri saudara kita ketika berbicara kepada mereka. Sikap seperti inilah yang mengundang turunnya rahmat dan keberkahan dalam kehidupan.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling berat di timbangan amal seorang mukmin adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berkata keji dan kotor.”
(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa akhlak bukanlah perkara kecil. Ia bahkan menjadi amal yang sangat berat dalam timbangan kebaikan di hari kiamat kelak.

Karena itu, sungguh penting bagi kita untuk selalu menjaga akhlak terhadap sesama. Menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan, menjaga hati dari prasangka buruk, dan menjaga sikap dari perilaku yang merendahkan orang lain.

Jika akhlak baik senantiasa kita pelihara, maka rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan turun sepanjang usia kehidupan kita. Hati menjadi tenang, hubungan dengan sesama menjadi harmonis, dan hidup pun dipenuhi keberkahan.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah semata karena harta, jabatan, atau kedudukan. Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang mendapatkan hidayah, hati yang dekat dengan Allah, serta akhlak mulia yang selalu menghiasi setiap langkah kehidupan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡