Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Nikmat Lebih Berat dari Musibah

Iklan Landscape Smamda
Saat Nikmat Lebih Berat dari Musibah
Foto: womensmediacenter.com
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Allah SWT menguji manusia dengan kebaikan (nikmat, kesenangan) dan keburukan (musibah, kesusahan) sebagai cobaan (fitnah atau ujian) untuk mengukur keimanan, kesabaran, dan kesyukuran.

Ini agar jelas mana yang benar-benar beriman dan mana ujian ini bertujuan menguji sejauh mana hamba bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar saat diuji musibah, serta untuk membersihkan hati dan membedakan mukmin sejati dari munafik.

Allah Ta’ala itu, menguji manusia bukan hanya dengan musibah, kesengsaraan dan penderitaan, tetapi juga menguji manusia dengan berbagai kesenangan dan kenikmatan. Hal ini untuk melihat siapakah di antara mereka yang bersyukur dan siapakah yang ingkar, siapakah yang bersabar dan siapakah yang berputus asa. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (Surah Al-Anbiya: 35).

Maksud “ujian kebaikan” adalah cobaan atau nikmat yang diberikan Tuhan (seperti kekayaan, jabatan, pujian) untuk menguji keimanan, kesyukuran, dan tanggung jawab seseorang, bukan hanya musibah.

Tujuannya adalah melihat apakah seseorang akan sombong dan lupa diri atau justru semakin sadar, bersyukur, dan menggunakan nikmatnya untuk membantu sesama, karena ujian kebaikan seringkali lebih sulit dihadapi daripada musibah.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu,

“أي: نختبركم بالمصائب تارة ، وبالنعم أخرى ، لننظر من يشكر ومن يكفر ، ومن يصبر ومن يقنط ، كما قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس : { ونبلوكم } …

Salah Satu Adab Kepada Allah: Senantiasa Berprasangka Baik Kepada Allah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

يقولُ اللهُ تعالى: أنا عند ظَنِّ عَبدي بي، وأنا معه إذا ذكَرَني

“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.” (HR. al-Bukhari no.7405, Muslim no.2675).

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda 3 hari sebelum wafatnya beliau:

لا يَموتَنَّ أحَدُكُم إلَّا وهو يُحسِنُ الظَّنَّ باللهِ عَزَّ وجَلَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no.2877).

Berprasangka baik kepada Allah adalah seseorang ketika beramal shalih ia berprasangka baik kepada Rabb-nya bahwa Allah akan menerima amalannya tersebut.

Jika ia berdoa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, ia berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan menerima doanya dan mengabulkannya.

Jika ia melakukan dosa, kemudian bertaubat kepada Allah, dan menyesali perbuatannya tersebut, ia berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan menerima tobatnya.

Husnuzan kepada Allah SWT, yaitu meyakini bahwa Allah akan menerima amalan saleh yang kita kerjakan, menerima doa kita, menerima taubat kita, dan bahwa di balik setiap musibah ada kebaikan dan hikmah, berdasarkan hadis “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”.

Ini mendorong kita untuk beramal maksimal sambil berharap balasan terbaik dari-Nya, bukan alasan untuk bermalas-malasan,.

Jika Allah menetapkan musibah baginya, ia berprasangka baik kepada Allah Jalla Wa ‘Ala bahwa dibalik musibah tersebut ada hikmah yang agung.

Ia berprasangka baik kepada Allah dalam semua takdir yang Allah tetapkan baginya, dan dalam semua aturan syariat yang Allah Ta’ala tetapkan melalui lisan Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam bahwa itu semua baik dan merupakan maslahah bagi semua makhluk.

Walaupun sebagian orang tidak mengetahui apa maslahah-nya, serta tidak memahami apa hikmah dari apa yang disyariatkan tersebut.

Namun wajib bagi kita semua untuk berserah diri terhadap ketetapan Allah Ta’ala baik yang berupa takdir maupun berupa hukum syar’i” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi)

Orang yang berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan wujudkan prasangkanya tersebut. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ عَزَّ وجَلَّ قال: أنا عِندَ ظَنِّ عَبدي بي؛ إن ظَنَّ بي خَيرًا فله، وإن ظَنَّ شَرًّا فله

“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika hambaku berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan. Jika hambaku berprasangka buruk kepada-Ku, maka baginya keburukan.” (HR. Ahmad no.9076, Ibnu Hibban no.639, Shahih al-Jami’ no.4315).

Maksud “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku” adalah janji Allah SWT bahwa Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan keyakinan dan prasangka mereka, yaitu jika berprasangka baik (husnuzan), maka Allah akan memberikan kebaikan, pertolongan, dan kedekatan, sebaliknya jika berprasangka buruk, akan mendapatkan keburukan.

Intinya Allah memberikan balasan setimpal dengan keyakinan hati seorang hamba terhadap-Nya, terutama saat berdoa, mengingat, dan berserah diri.

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengatakan:

والذي لا إلهَ غَيرُه ما أُعطيَ عَبدٌ مُؤمِنٌ شَيئًا خَيرًا مِن حُسنِ الظَّنِّ باللهِ عَزَّ وجَلَّ، والذي لا إلهَ غَيرُه لا يُحسِنُ عَبدٌ باللهِ عَزَّ وجَلَّ الظَّنَّ إلَّا أعطاه اللهُ عَزَّ وجَلَّ ظَنَّه؛ ذلك بأنَّ الخَيرَ في يَدِهـ

“Demi Zat yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Ia, tidaklah seorang hamba mukmin diberi sesuatu yang lebih baik daripada prasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan demi Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Ia, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla melainkan Allah ‘Azza wa Jalla akan memberinya sesuai dengan prasangkanya itu. Karena kebaikan seluruhnya berada di tangan-Nya.” (Husnuzhan billah karya Ibnu Abid Dunya, no.83).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan:

كلَّما كان العبدُ حَسَنَ الظَّنِّ باللهِ، حَسَنَ الرَّجاءِ له، صادِقَ التَّوكُّلِ عليه؛ فإنَّ اللهَ لا يُخَيِّبُ أملَه فيه البتَّةَ؛ فإنَّه سُبحانَه لا يخيِّبُ أملَ آمِلٍ، ولا يُضيعُ عَمَلَ عامِلٍ

“Setiap kali seorang hamba berprasangka baik kepada Allah, besar rasa harapnya kepada-Nya, dan jujur tawakalnya kepada-Nya, maka Allah sama sekali tidak akan mengecewakan harapannya kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Mahasuci, tidak akan pernah mengecewakan harapan orang yang berharap, dan tidak pula menyia-nyiakan amal orang yang beramal.” (Madarijus Salikin, 1/ 469). (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu