Kasus viral yang belakangan mencuat tentang pengakuan seorang figur publik terkait pengalaman child grooming seharusnya tidak berhenti sebagai bahan obrolan di media sosial.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Warganet lebih sibuk membedah sosoknya, mempertanyakan waktu pengakuannya, atau menebak-nebak motif di balik cerita tersebut, ketimbang memikirkan persoalan utama yang sedang disorot.
Perdebatan pun melebar ke mana-mana. Ada yang membela tanpa syarat, ada yang mencurigai, dan tidak sedikit yang langsung menghakimi.
Di tengah hiruk-pikuk itu, persoalan yang seharusnya menjadi fokus justru terpinggirkan: masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang kekerasan seksual pada anak, khususnya yang terjadi melalui proses halus, bertahap, dan kerap tidak disadari.
Peristiwa seperti ini semestinya menjadi alarm sosial. Bukan untuk mencari sensasi atau memperpanjang polemik, melainkan untuk mengingatkan bahwa child grooming bukan isu langka dan bukan pula kejadian yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Child grooming bisa terjadi di mana saja, di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, di komunitas, bahkan di ruang digital.
Ironisnya, karena sering dibungkus dalam relasi yang tampak wajar dan penuh perhatian, praktik ini kerap luput dari pengawasan.
Berbeda dengan kekerasan yang bersifat terang-terangan, child grooming bekerja secara perlahan. Ia biasanya diawali dengan perhatian berlebih, sikap protektif, pemberian hadiah, hingga membangun kedekatan emosional yang intens.
Pelaku menciptakan rasa aman semu, membuat anak merasa “dipilih”, “dimengerti”, atau “dibutuhkan”. Sedikit demi sedikit, batas antara relasi sehat dan relasi yang manipulatif menjadi kabur.
Karena tidak ada paksaan fisik yang jelas pada tahap awal, banyak korban tidak langsung menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Bahkan, tidak sedikit yang baru memahami apa yang dialaminya setelah bertahun-tahun berlalu, ketika luka psikologisnya sudah terlanjur dalam.
Sayangnya, lingkungan sekitar sering gagal menangkap tanda-tanda tersebut. Relasi timpang antara anak dan orang dewasa kerap dinormalisasi, apalagi jika dibingkai dengan alasan bimbingan, pendidikan, prestasi, atau kedekatan personal.
Pelaku sering dipandang sebagai sosok baik, berjasa, atau panutan. Akibatnya, kecurigaan dianggap berlebihan dan kekhawatiran dipandang sebagai prasangka.
Ketika muncul hal-hal yang terasa janggal, banyak orang memilih diam. Ada yang takut salah sangka, takut dianggap berlebihan, atau merasa itu bukan urusannya.
Lebih menyedihkan lagi, saat korban akhirnya berani berbicara, justru mereka yang sering disalahkan—dipertanyakan sikapnya, pilihannya, bahkan niatnya. Situasi ini menciptakan lingkaran sunyi yang membuat korban lain enggan bersuara.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa child grooming bukan semata persoalan individu, melainkan persoalan kesadaran kolektif.
Anak-anak berada dalam posisi yang rentan. Mereka belum memiliki pengalaman dan pemahaman yang cukup untuk mengenali relasi manipulatif.
Perubahan perilaku seperti menjadi lebih tertutup, mudah cemas, takut kehilangan sosok tertentu, menarik diri dari lingkungan, atau menyimpan rasa bersalah tanpa sebab yang jelas sering kali dianggap sebagai “fase biasa”. Padahal, bisa jadi itu merupakan sinyal bahaya.
Di sinilah pentingnya literasi tentang child grooming. Orang tua perlu membangun ruang komunikasi yang aman—ruang di mana anak dapat bercerita tanpa takut disalahkan atau dihakimi.
Anak juga perlu diajarkan tentang batas tubuh, batas emosional, serta konsep relasi yang sehat sejak dini, dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia.
Sekolah dan guru pun memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan lingkungan yang aman. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesehatan mental dan emosional siswa.
Edukasi mengenai perlindungan diri bukan untuk menumbuhkan rasa takut, melainkan untuk membangun keberanian, kepekaan, dan pengetahuan tentang ke mana harus mencari pertolongan.
Masyarakat luas, termasuk warganet, juga memegang tanggung jawab moral. Empati seharusnya didahulukan daripada sensasi.
Menghakimi korban, mempertanyakan motif, atau menuntut pembuktian sempurna hanya akan membuat korban lain semakin takut untuk berbicara.
Ruang digital semestinya menjadi tempat belajar dan saling menguatkan, bukan arena penghakiman baru.
Dalam nilai kemanusiaan dan keagamaan, anak adalah amanah. Mereka berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan dilindungi.
Kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap anak merupakan pelanggaran terhadap tanggung jawab moral kita bersama.
Karena itu, kasus viral tidak boleh berhenti sebagai tren sesaat. Ia harus menjadi momentum untuk belajar, berbenah, dan meningkatkan kepedulian.
Agar ke depan, semakin sedikit anak yang tumbuh dengan luka yang harus mereka sembunyikan sendiri.
Alarm itu sebenarnya sudah lama berbunyi. Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita akan meresponsnya dengan kesadaran dan keberanian untuk melindungi, atau membiarkannya tenggelam dalam riuh yang terus berulang? (*)





0 Tanggapan
Empty Comments