Tidak sedikit orang yang menyesal karena menyia-nyiakan masa sehat dan waktu luangnya. Islam mengajarkan agar setiap detik kehidupan dimanfaatkan untuk kebaikan sebelum semuanya terlambat.
Padahal, sehat dan waktu luang adalah nikmat Allah yang luar biasa mahal harganya. Tidak semua orang mendapatkannya secara bersamaan, dan tidak semua yang memilikinya mampu memanfaatkannya dengan baik.
Sayangnya, ketika dua nikmat ini hadir, seringkali justru meninabobokan manusia dalam kelalaian.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Ada dua kenikmatan yang banyak menipu manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa banyak orang baru menyadari nilai kesehatan saat sakit datang, dan baru menyesali waktu saat kesibukan atau kematian mendekat.
Kita sering melihat seseorang yang di masa mudanya begitu sehat dan kuat. Waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat—berjam-jam berselancar di media sosial, begadang tanpa tujuan, atau sekadar menunda-nunda kebaikan.
Namun ketika usia mulai bertambah, tubuh tidak lagi sekuat dulu. Penyakit mulai datang, energi menurun, dan waktu terasa semakin sempit. Di saat itulah muncul penyesalan: “Seandainya dulu aku gunakan waktuku untuk hal yang lebih bermakna.”
Begitu pula seorang pekerja yang sepanjang hidupnya sibuk mengejar dunia. Pagi hingga malam dihabiskan untuk pekerjaan, hingga lupa ibadah, lupa keluarga, dan lupa dirinya sendiri.
Ketika pensiun datang dan waktu luang terbuka lebar, justru kondisi fisik tidak lagi mendukung. Ia ingin beribadah lebih banyak, tetapi tubuhnya sudah lemah.
Di sisi lain, ada pula orang yang memiliki waktu luang berlimpah, namun dalam kondisi sakit. Ia ingin berbuat banyak, ingin ke masjid, ingin membantu sesama, tetapi fisiknya tidak memungkinkan.
Ketika Dua Nikmat Berkumpul
Sungguh, ketika sehat dan waktu luang berkumpul dalam diri seseorang, di situlah ujian yang sebenarnya.
Alih-alih bersyukur, seringkali muncul rasa malas. Menunda ibadah, menunda kebaikan, dan merasa masih punya banyak waktu.
Padahal, waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu.
Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu luang dan kesehatan untuk ketaatan, maka dialah orang yang beruntung. Ia mengisi hari-harinya dengan ibadah, menebar manfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebaliknya, siapa yang menggunakan dua nikmat ini untuk maksiat atau kesia-siaan, maka dialah yang benar-benar tertipu.
Bayangkan dua orang mahasiswa. Yang pertama, menggunakan waktu luangnya untuk belajar, membantu orang tua, aktif dalam kegiatan sosial, dan menjaga ibadahnya. Ia mungkin tidak terlihat paling bersenang-senang, tetapi hidupnya terarah.
Yang kedua, menghabiskan waktu dengan hiburan tanpa batas, menunda tugas, lalai ibadah, dan merasa hidup masih panjang.
Beberapa tahun kemudian, hasilnya terlihat jelas. Yang pertama menuai keberkahan, sedangkan yang kedua dipenuhi penyesalan.
Perbedaannya bukan pada jumlah waktu yang dimiliki, tetapi bagaimana waktu itu digunakan.
Umur Adalah Permata yang Tak Tergantikan
Sadarilah bahwa waktu hidup kita sungguh terbatas. Nafas yang kita hirup dan hembuskan adalah tanda bahwa usia kita terus berkurang.
Setiap detik adalah permata yang tak ternilai. Tidak ada yang bisa membelinya kembali ketika ia telah pergi.
Seringkali manusia bersedih ketika kehilangan harta benda. Namun, mengapa kita tidak bersedih ketika kehilangan waktu yang jauh lebih berharga?
Jangan sia-siakan permata umurmu tanpa amalan.
Jangan biarkan ia berlalu tanpa makna.
Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu terisi dengan kebaikan, kesholehan, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah.
Sebab jika engkau kehilangan satu kesempatan amal, bisa jadi itulah yang sangat engkau butuhkan di akhirat kelak.
Ada seseorang yang ketika muda merasa ibadah bukan prioritas. Ia berkata, “Nanti saja kalau sudah tua.”
Namun takdir berkata lain. Usia tidak selalu menunggu masa tua. Ketika ajal datang lebih cepat, yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak lagi berguna.
Sebaliknya, ada orang yang sejak muda sudah membiasakan diri dalam kebaikan. Meski amalnya sederhana, tetapi konsisten. Ketika ajal menjemput, ia pergi dalam keadaan telah mempersiapkan bekal.
Jangan Tertipu dengan Amal
Di sisi lain, kita juga diingatkan agar tidak merasa bangga dengan amal yang telah dilakukan.
Sebab kita tidak pernah tahu apakah Allah menerima amal tersebut atau tidak.
Yang terpenting bukan hanya banyaknya amal, tetapi keikhlasan dan penerimaan di sisi Allah.
Maka, selain beramal, kita juga harus memperbanyak doa agar amal kita diterima.
Mari kita jaga dua nikmat besar ini: kesehatan dan waktu luang. Gunakan keduanya untuk kebaikan, untuk ibadah, dan untuk memberi manfaat bagi sesama.
Jangan menunggu sakit untuk bersyukur.
Jangan menunggu sempitnya waktu untuk menyesal.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesehatan, ketaatan, dan menjadikan hidup kita penuh kebermanfaatan. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments