Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Safari Dakwah PCM Tulangan di Yogyakarta: Menggali Makna Pernikahan sebagai Ibadah yang Menyempurnakan Iman

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Ketua PCM Mantrijeron, Yogyakarta, Surahmat An-Nashih menjadi Penceramah dalam kajian ba'da Shubuh di Masjid Gedhe Kauman. (Zulkifli/PWMU.CO)
Ketua PCM Mantrijeron, Yogyakarta, Surahmat An-Nashih menjadi Penceramah dalam kajian ba’da Shubuh di Masjid Gedhe Kauman. (Zulkifli/PWMU.CO)

PWMU.CO – Hari kedua Safari Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Sidoarjo, di Yogyakarta berlangsung khidmat dan penuh makna. Sabtu (03/05/2025), rombongan memulai aktivitas dengan salat Subuh berjamaah di Masjid Gedhe Kauman, sebuah masjid bersejarah yang menjadi ikon pergerakan Muhammadiyah.

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari agenda sebelumnya, setelah rombongan tiba di Yogyakarta pada Jumat malam pukul 22.00 WIB dan beristirahat di BLK Panti Asuhan Aisyiyah Kauman.

Usai salat Subuh, peserta mengikuti kajian ba’da Subuh yang disampaikan oleh Ketua PCM Mantrijeron, Yogyakarta, Surahmat An-Nashih yang juga merupakan Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) KUA Kraton. Dalam kajian bertema “Pernikahan, Keluarga, dan Cinta dalam Islam”, Surahmat menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang pentingnya memahami pernikahan sebagai bentuk ibadah yang menyempurnakan separuh iman.

“Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah. Ia adalah ibadah yang panjang, bahkan tanpa batas,” tuturnya.

Ketua PCM Mantrijeron, Yogyakarta, Surahmat An-Nashih menjadi Penceramah dalam kajian ba'da Shubuh di Masjid Gedhe Kauman. (Zulkifli/PWMU.CO)
Ketua PCM Mantrijeron, Yogyakarta, Surahmat An-Nashih menjadi Penceramah dalam kajian ba’da Shubuh di Masjid Gedhe Kauman. (Zulkifli/PWMU.CO)

Ia menjelaskan bahwa pernikahan membawa makna spiritual yang dalam dan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, ia menyampaikan bahwa siapa pun yang menikah berarti telah menyempurnakan separuh agamanya.

“Menyalurkan syahwat kepada pasangan sah dalam ikatan pernikahan pun dinilai sebagai ibadah,” tambahnya.

Jama'ah Masjid tampak menyimak dengan khusu' materi yang disampaikan. (Zulkifli/PWMU.CO)
Jama’ah Masjid tampak menyimak dengan khusu’ materi yang disampaikan. (Zulkifli/PWMU.CO)

Dengan gaya tutur yang hangat namun tajam, Surahmat juga menyoroti pentingnya kesadaran dalam membangun rumah tangga. Ia mengingatkan jamaah untuk tidak mudah berprasangka buruk terhadap pasangan, serta menjauhkan diri dari ucapan-ucapan penyesalan seperti “andaikan aku menikah dengan orang lain”.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Jodoh adalah siapa yang kita nikahi. Bukan siapa yang kita cintai dalam angan, tapi siapa yang telah sah dalam akad. Bahkan jika seseorang berpacaran seribu tahun, dia belum tentu jodohmu,” tegasnya.

Kajian ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan dalam keluarga. Seorang suami disebut sholeh bukan hanya karena rajin ibadahnya di masjid, tetapi karena mampu membimbing istrinya dalam kebaikan dan ketaatan.

Acara dipandu oleh Adieb Uswar dari Bidang Media Informasi Masjid Gedhe Kauman, yang membuka dengan perkenalan narasumber dan pengantar hangat kepada peserta kajian.

Safari dakwah ini tidak hanya mempererat ukhuwah antaranggota Muhammadiyah lintas daerah, tetapi juga memperkaya wawasan spiritual dengan nilai-nilai Islam yang menyentuh kehidupan nyata. Kehadiran PCM Tulangan di Masjid Gedhe Kauman menjadi momentum refleksi atas makna hidup, pernikahan, dan kebersamaan dalam bingkai dakwah. (*)

Penulis Zulkifli Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu