Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, SD Muhammadiyah 2 Pendil (SD Muda Pendil) menggelar kegiatan Safari Dakwah bersama dai nasional Ustadz Zacky Mirza, Senin (2/2/2026).
Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama SD Muda Pendil dengan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur sebagai bagian dari ikhtiar syiar Islam yang menyejukkan sekaligus penguatan nilai-nilai akidah, akhlak, dan kepedulian sosial umat.
Safari Dakwah tersebut dihadiri oleh para wali murid serta keluarga besar SD Muhammadiyah 2 Pendil. Kehadiran mereka menambah kekhidmatan suasana kajian yang berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang penguatan spiritual, tetapi juga wadah mempererat sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun generasi Islami yang berakhlak mulia.
Rahmatan Lil ‘Alamin
Dalam tausiyahnya, Zacky Mirza menegaskan bahwa perbedaan dalam Islam sejatinya adalah rahmat yang harus disikapi dengan kedewasaan dan keluasan ilmu. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan kerap memicu perdebatan yang tidak perlu ketika tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam.
“Perbedaan seharusnya menjadi rahmat. Jika ada yang saling menyalahkan, sering kali bukan karena ajarannya, tetapi karena belajarnya belum cukup jauh dan belum cukup dalam,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa kasih sayang, keteduhan, dan kemaslahatan bagi seluruh alam.
Lebih lanjut, Zacky Mirza mengajak jamaah untuk memahami Ramadan tidak hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai proses pendidikan jiwa. Ia menjelaskan bahwa kata Ramadan berasal dari ar-ramad yang berarti panas. Perintah puasa, menurutnya, diturunkan Allah pada masa ketika kondisi Kota Makkah sangat panas.
“Allah memerintahkan puasa di tengah panas yang luar biasa. Dari situ kita belajar tentang kepatuhan, kesabaran, dan keikhlasan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Allah menciptakan hati manusia satu, tetapi dengan banyak rasa, sehingga puasa mengajarkan kepekaan dan empati.
“Ketika perut lapar karena puasa, itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi sejatinya adalah dzikir,” ungkapnya.
Menurutnya, keistimewaan Ramadan juga tampak pada perubahan hukum, di mana sesuatu yang sehari-hari halal menjadi haram di siang hari, sebagai sarana pendidikan spiritual dan pengendalian diri.
Pentingnya Bulan Syaban
Zacky Mirza juga menekankan pentingnya bulan Syaban sebagai momentum persiapan sebelum memasuki Ramadan. Ia menyebut Syaban sebagai bulan pembersihan, agar umat Islam memasuki Ramadan dengan jiwa yang lebih siap dan bersih.
“Sebaik-baiknya Syaban adalah ketika kita masuk Ramadan dalam keadaan bersih. Bersih dari utang, bersih dari urusan yang belum selesai, dan bersih dari menzalimi hak orang lain,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa menunda pembayaran utang berarti berpotensi mendzolimi hak orang lain, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun.
Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan kehidupan sehari-hari umat Islam. Menurutnya, ketika Allah memberi rezeki, termasuk pada momen Iduladha, kewajiban membayar utang harus didahulukan sebelum melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.
Kepedulian Sosial
Dalam aspek sosial, Zacky Mirza mengajak jamaah untuk memperkuat silaturahmi dan membiasakan diri berbuat baik kepada siapa pun. Bahkan, ia menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik atau pelit kepada kita sebagai bentuk kematangan iman.
“Islam mengajarkan kita untuk tetap menjadi orang baik, meskipun diperlakukan tidak baik. Sedekah di bulan Ramadan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah,” tuturnya.
Safari Dakwah ini tidak hanya berhenti pada penyampaian materi keislaman, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata kepedulian sosial. Melalui kerja sama dengan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur, para peserta kajian turut diajak untuk menyiapkan dan menyalurkan infak terbaik bagi saudara-saudara di Aceh, Sumatra, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan.
Ajakan berbagi ini mendapat sambutan positif dari para wali murid dan keluarga besar SD Muhammadiyah 2 Pendil. Mereka menyadari bahwa ibadah Ramadan tidak hanya berdimensi vertikal kepada Allah, tetapi juga berdimensi horizontal dalam bentuk kepedulian dan empati sosial.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Zacky Mirza juga menyampaikan pengalamannya mempelajari bahasa Madura sebagai upaya mendekatkan dakwah dengan masyarakat. Menurutnya, dakwah akan lebih efektif ketika disampaikan dengan pendekatan budaya dan bahasa yang dipahami oleh umat.
Kegiatan Safari Dakwah ini menjadi bagian dari misi SD Muda Pendil dalam menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, dan kepekaan sosial. Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin semakin mengakar dalam kehidupan warga sekolah dan masyarakat luas, khususnya dalam menyambut bulan suci Ramadan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments