
Jika dilihat lebih jauh, Safari UMKM juga menjadi ajang pembentukan empati sosial dan keberpihakan mahasiswa terhadap pelaku usaha kecil yang kerap menghadapi keterbatasan dalam akses permodalan, pemasaran, hingga digitalisasi.
Dengan hadir langsung dan berdialog, mahasiswa tidak hanya melihat potensi usaha, tetapi juga peluang pengabdian dan kolaborasi ke depan, baik dalam bentuk pendampingan usaha, promosi digital, maupun pengembangan kemasan dan manajemen keuangan.
Harapannya, kegiatan Safari UMKM ini bisa terus digelar secara berkelanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas, serta melibatkan lintas disiplin keilmuan. Tidak hanya berhenti pada kunjungan, Komisariat Ekosentris juga merancang program lanjutan berupa mentoring usaha, kajian ekonomi kerakyatan, hingga publikasi UMKM unggulan dalam kanal digital kampus.
“UMKM seperti milik Bu Lilik bukan hanya layak untuk dipelajari, tetapi juga untuk didukung dan dikembangkan. Ini adalah kekayaan ekonomi lokal yang tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Kami berharap, lewat langkah-langkah kecil dari mahasiswa, lahir sinergi besar untuk mengangkat ekonomi rakyat dari akar rumput,” tutup salah satu dosen pendamping yang turut hadir dalam kegiatan ini.
Safari UMKM bukan hanya sebuah perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan intelektual dan emosional dalam memahami realitas ekonomi masyarakat. Di balik garingnya kerupuk Bu Lilik, tersimpan kisah perjuangan, ketahanan, dan semangat wirausaha yang layak menjadi inspirasi generasi muda.
Penulis Dwi Afandi Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments