Polemik pernyataan Khalid Basalamah, tokoh Salafi, yang menyebut Iran dan Israel “sama saja” memantik kritik tajam dari kalangan akademisi. Cara berpikir sebagian kelompok Wahabi-Salafi dalam membaca konflik Iran vs Israel yang didukung Amerika Serikat dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya.
Pasalnya, pandangan tersebut mencampuradukkan perbedaan mazhab dengan realitas geopolitik, serta berpotensi melemahkan solidaritas umat terhadap perjuangan Palestina.
Sekilas, pernyataan Khalid Basalamah terdengar aman, bahkan tampak seperti posisi netral. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, logika ini justru problematik, reduktif, dan berpotensi menyesatkan.
Ketika perang memanas antara Iran dan Israel yang disokong Amerika Serikat, fokus sebagian kita justru bergeser—bukan lagi pada siapa yang menjajah dan siapa yang melawan, melainkan pada pertanyaan usang: “Itu Syiah atau bukan?”
Mari kita bedah secara sederhana.
Israel adalah entitas yang selama puluhan tahun melakukan okupasi atas Palestina. Fakta ini bukan tafsir mazhab, tapi realitas politik global.
Sementara Iran terlepas dari segala kritik yang bisa diarahkan kepadanya secara konsisten mengambil posisi berseberangan dengan Israel, termasuk dalam dukungannya terhadap perjuangan Palestina.
Lalu di mana letak “sama”-nya?
Menyamakan Iran dengan Israel dalam konteks ini ibarat menyamakan penjajah dengan pihak yang menantangnya, hanya karena keduanya sama-sama tidak kita sukai. Ini bukan analisis, tapi simplifikasi malas.
Sebuah bentuk “kemalasan intelektual” yang dibungkus dengan retorika keagamaan.
Masalah utamanya ada pada cara berpikir yang mencampuradukkan teologi dengan geopolitik secara serampangan.
Dalam logika sebagian kalangan Wahabi-Salafi, perbedaan akidah terutama dengan Syiah ditempatkan sebagai ancaman utama.
Akibatnya, musuh teologis terasa lebih berbahaya daripada musuh nyata yang sedang menjatuhkan bom.
Di titik ini, kita menyaksikan sebuah ironi yang nyaris absurd: ketika Palestina dibombardir, sebagian umat justru lebih sibuk memastikan bahwa mereka tidak “terkontaminasi” oleh dukungan terhadap Syiah.
Seolah-olah, dosa terbesar bukanlah membiarkan penjajahan, melainkan salah memilih sekutu.
Logika seperti ini bukan hanya keliru, tapi juga berbahaya secara politik. Ia memproduksi fragmentasi di tubuh umat Islam sendiri. Ketika seharusnya ada konsolidasi melawan ketidakadilan global, yang terjadi justru delegitimasi internal berbasis mazhab.
Dan mari kita jujur: siapa yang paling diuntungkan dari situasi ini?
Jawabannya jelas: Israel.
Ketika umat Islam terpecah, sibuk dengan konflik identitas, maka tekanan terhadap Israel otomatis melemah.
Dalam bahasa yang lebih sinis, kita sedang membantu kerja-kerja geopolitik Israel tanpa perlu mereka bersusah payah. Divide et impera tidak lagi harus dijalankan dari luar cukup dipelihara dari dalam.
Tentu saja, kritik terhadap Iran tetap penting. Tidak ada negara yang suci. Tapi problemnya, kritik ala Khalid Basalamah tidak berhenti pada kritik ia melompat pada penyamaan yang tidak proporsional.
Dari “Iran punya masalah” menjadi “Iran sama saja dengan Israel”. Ini bukan lompatan logis, tapi salto intelektual tanpa matras.
Di sinilah kita perlu mengembalikan akal sehat dalam membaca konflik global. Ukuran dalam geopolitik bukanlah mazhab, melainkan posisi terhadap keadilan. Siapa yang menjajah? Siapa yang melawan? Siapa yang menindas? Siapa yang ditindas?
Kalau pertanyaan dasar ini saja dikaburkan oleh sentimen sektarian, maka yang lahir bukanlah keberpihakan moral, melainkan kebingungan kolektif.
Lebih jauh lagi, cara berpikir seperti ini menunjukkan kegagalan membedakan antara “kemurnian akidah” dan “tanggung jawab kemanusiaan”.
Seolah-olah, menjaga batas teologis lebih penting daripada membela korban ketidakadilan.
Padahal, dalam banyak tradisi Islam sendiri, keadilan adalah nilai universal yang melampaui sekat-sekat identitas.
Akhirnya, kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang membela kebenaran, atau hanya membela kenyamanan mazhab kita sendiri?
Jika logika seperti ini terus dipertahankan, jangan heran jika umat Islam akan terus menjadi penonton dalam panggung geopolitik global.
Bukan karena tidak punya daya, tapi karena gagal membaca mana musuh nyata dan mana sekadar bayangan yang diciptakan oleh ketakutan ideologis.
Dan di situlah, logika itu bukan hanya keliru tapi juga berbahaya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments