Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Salat Kita Sama, Tapi Hidup Kok Berbeda? Ini Jawaban Ustaz Adi Hidayat

Iklan Landscape Smamda
Salat Kita Sama, Tapi Hidup Kok Berbeda? Ini Jawaban Ustaz Adi Hidayat
Foto: yaqeeninstitute.org
pwmu.co -

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, penuh target, dan kerap melelahkan batin, Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan satu hal mendasar yang sering terlupakan: manusia bukan hanya butuh sukses, tetapi juga ketenangan dan kebahagiaan. Dan semua itu, kata UAH, Allah hadiahkan melalui salat.

Pesan itu disampaikan UAH dalam sebuah ceramah yang mengalir dan reflektif. Dengan gaya khasnya yang memadukan dalil Al-Qur’an, hadis, logika, hingga contoh kehidupan sehari-hari, UAH mengajak jamaah untuk kembali memahami hakikat salat, bukan sekadar sebagai ritual, tetapi sebagai wasilah (penghubung) menuju hidup yang lebih tenang, damai, dan bermakna.

UAH mengawali ceramahnya dengan ajakan bersyukur kepada Allah SWT. Menurutnya, keberadaan seseorang di majelis ilmu bukanlah kebetulan, melainkan pilihan langsung dari Allah.

“Ketika Allah memilih kita untuk berada di tempat seperti ini, di tengah kesibukan aktivitas, itu pertanda ada keberkahan yang sedang Allah siapkan,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube Muslim Sejati.

Dia lalu menegaskan lafaz alhamdulillah yang selalu hadir dalam pembukaan ibadah bukan sekadar formalitas. Secara psikologis, rasa syukur terbukti menghadirkan kebahagiaan.

Sayangnya, banyak manusia mengejar target dan capaian hidup, tetapi lupa bertanya: apakah semua itu benar-benar melahirkan kebahagiaan?

Dalam penjelasannya, UAH membedakan beberapa istilah penting dalam Al-Qur’an. Fauz dan turunannya seperti faiz, faizin, atau fauzan bermakna sukses, berhasil dalam karier, bisnis, atau pendidikan. Namun, sukses semacam ini belum tentu melahirkan ketenangan batin.

Sebaliknya, ada istilah farah, yakni kebahagiaan. Seseorang bisa saja gagal mencapai target duniawi, tetapi tetap merasa tenang dan bahagia.

“Pilih mana, kaya tapi gelisah, atau sederhana tapi tenang?” tanya UAH, disambut senyum dan anggukan jamaah.

Menurutnya, Islam tidak memisahkan keduanya. Gabungan antara sukses dan bahagia disebut falah. Dan inilah tujuan hidup seorang mukmin.

UAH kemudian mengajak jamaah merenungi azan. Mengapa azan dikumandangkan lima kali sehari, di setiap penjuru dunia, dengan waktu yang berbeda-beda?

“Karena Allah ingin lafaz azan—panggilan menuju falah—terdengar di bumi selama 24 jam tanpa henti,” jelas wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini.

Azan bukan sekadar seruan salat, tetapi panggilan menuju kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Menurut UAH, tidak ada satu pun agama yang memiliki sistem panggilan ibadah sekomprehensif ini—ritual, intelektual, dan spiritual sekaligus.

Salat sebagai Wasilah, Bukan Sekadar Gerakan

Lebih jauh, UAH menegaskan bahwa salat berasal dari kata silah, yang berarti hubungan atau koneksi. Salat adalah sarana menghubungkan manusia dengan Allah yang Maha Memiliki segalanya: rezeki, solusi, ketenangan, dan jalan keluar.

“Ketika manusia mentok, secara fitrah dia akan menyebut nama Allah. Karena hanya Allah yang tidak punya batas,” ujarnya.

Salat melatih manusia untuk terus terkoneksi dengan Allah, bahkan setelah ibadah selesai. Inilah esensi salat yang sering luput dari perhatian.

Salah satu poin penting yang ditekankan UAH adalah bahwa jawaban doa bukanlah hadiah pertama dari salat. Hadiah pertamanya adalah ketenangan.

“Baru wudu saja aura kita sudah berubah. Berdiri untuk salat, hati sudah terasa lain. Takbir, lalu ketenangan itu datang,” jelasnya.

Karena itu, tempat salat disebut musalla dan masjid—ruang yang menghadirkan gelombang ketenangan berbeda dibanding ruang lain.

UAH mencontohkan kisah Nabi Zakaria as yang berdoa memohon keturunan di usia senja, meski secara logika manusia hal itu mustahil.

Namun karena doa itu dipanjatkan dalam salat, dengan penuh ketenangan dan keyakinan, Allah langsung mengabulkannya.

“Salat yang tenang mempercepat terkabulnya doa,” tegas UAH.

Dia mengingatkan agar salat tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, seolah dikejar proyek dunia. Salat adalah urusan akhirat, dan dunia harus ditinggalkan sejenak ketika takbiratul ihram dikumandangkan.

Salat, Rumah Tangga, dan Pendidikan Anak

UAH juga menyinggung kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW yang penuh canda, kelembutan, dan ketenangan. Menurutnya, sakinah adalah fondasi utama rumah tangga, baru kemudian disusul mawaddah dan rahmah.

Ia berpesan agar orang tua tidak mudah marah kepada anak.

“Anak belum dihisab, kita yang sudah dihisab. Tidak lucu yang dihisab marah kepada yang belum dihisab,” katanya.

Jika ingin anak saleh, kuncinya bukan banyak menuntut, tetapi memperbaiki diri terlebih dahulu.

UAH mengajukan pertanyaan reflektif: mengapa salat yang sama—gerakan sama, bacaan sama, Qur’an sama—hasilnya berbeda pada setiap orang?

Jawabannya, menurut UAH, hanya dua: kurang khusyuk dan tidak memahami makna salat. Salat yang hanya menggugurkan kewajiban memang sah secara fikih, tetapi pemahaman dan penghayatanlah yang melahirkan hikmah dan keberkahan.

“Kalau salat dipahami, ia akan menuntun kita pada falah—sukses, bahagia, dan tenang,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu