Milad ke-113 Muhammadiyah pada tahun 2025 ini bukan hanya momentum ritual tahunan, melainkan sebuah perayaan kesadara. Kesadaran untuk terus menyalakan kembali nyala gerakan, meneguhkan tauhid, dan merawat optimisme di tengah dunia yang sering kali terasa penat oleh hiruk-pikuk modernitas.
Dalam suasana milad yang penuh suka cita ini, gema Mars Sang Surya kembali terdengar, bukan sekadar lagu identitas, tetapi sebagai sumber ilham yang terus memandu arah gerakan.
Saya selalu merinding ketika melantunkan mars Sang Surya, liriknya begitu menyentuh kalbu, apa lagi ketika melafalkan samikna wa atakna.
Mari kita resapi:
Sang Surya Tetap Bersinar
Syahadat Dua Melingkar
Warna Yang Hijau Berseri
Membuatku Rela Hati
Ya Allah Tuhan Rabbiku
Muhammad Junjunganku
Al Islam Agamaku
Muhammadiyah Gerakanku
Di Timur fajar Cerah Gemerlapan
Mengusir Kabut Hitam
Menggugah Kaum Muslimin
Tinggalkan Peraduan
Lihatlah Matahari Telah Tinggi
Di Ufuk Timur Sana
Seruan Illahi Rabbi
Samina Wa Atthona
Ya Allah Tuhan Rabbiku
Muhammad Junjunganku
Al Islam Agamaku
Muhammadiyah Gerakanku
Sang Surya tetap bersinar, syahadat dua melingkar
Dua kalimat syahadat itulah yang menjadi poros sekaligus energi utama Persyarikatan. Di tengah derasnya arus dunia digital, ketika opini berhamburan tanpa arah, dan nilai sering kali dipermainkan oleh algoritma. Muhammadiyah menegaskan kembali bahwa seluruh gerak harus kembali ke akar tauhid yang mencerahkan.
Syahadat bukan sekadar pengucapan, melainkan arah gerak, kompas moral, dan jaminan bahwa persyarikatan tidak akan terseret ke dalam kabut pragmatisme yang kerap melanda dunia sosial-politik. Warna hijau berseri yang disebut dalam lirik bukan sekadar simbol estetik. Ia adalah lambang ketenteraman dan kesuburan gerakan.
Dari warna itu terpancar ketulusan pengabdian, kerja-kerja sunyi para kader di pelosok, dan keikhlasan ribuan amal usaha yang beroperasi tanpa henti dalam melayani umat dan bangsa. Cahaya dari Timur pada mars Sang Surya menunjukkan optimisme.
Di Timur fajar cerah gemerlapan, mengusir kabut hitam
Lirik ini seolah memberi pesan: setiap zaman memiliki kabut hitamnya sendiri. Bila masa lalu digelapkan oleh kolonialisme dan rendahnya literasi, maka masa kini digelapkan oleh polarisasi sosial, ketimpangan ekonomi, disinformasi, dan krisis moral publik.
Di sinilah relevansi Muhammadiyah semakin nyata. Di tengah kabut itu, Persyarikatan tampil sebagai fajar, cerah, tenang, tetapi tegas dalam menerangi.
Dengan sekolah yang melahirkan kecerdasan, rumah sakit yang memuliakan kesehatan, dakwah yang menghidupkan akal, serta gerakan sosial yang menumbuhkan kemandirian, Muhammadiyah telah menyalakan ribuan cahaya yang bersama-sama mengusir gelap.
Namun lirik ini juga menyimpan kritik. Bahwa fajar tidak akan berarti apa-apa bila manusia masih terlelap dalam peraduan, nyaman dalam zona stagnasi, dan enggan bergerak melampaui rutinitas.
Optimisme tidak boleh hanya menjadi slogan; ia menuntut kerja keras, kreativitas, dan keberanian mengambil langkah-langkah futuristik.
Lirik “Menggugah Kaum Muslimin”, adalah panggilan untuk bangkit dari peraduan, supaya kita tidak terlena oleh kemapanan, terbuai oleh kenyamanan.
“Menggugah kaum muslimin tinggalkan peraduan…”
Di balik kalimat puitis ini, terdapat kritik sosial yang tajam. Sebab setiap gerakan besar lahir dari kemauan untuk bangkit. Banyak persoalan umat hari ini, dari krisis kepemimpinan moral hingga minimnya budaya riset, berakar pada kebiasaan tidur terlalu panjang dalam kenyamanan.
Seruan Bagi Warga Muhammadiyah
Milad ini menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk kembali menyerukan, dengan suara yang lembut namun menghentak:
- Bangkitlah dari keterlenaan pada wacana sempit.
- Bangkitlah dari budaya konsumtif yang mematikan inovasi.
- Bangkitlah dari fanatisme yang mengerdilkan akal sehat.
- Bangkitlah dari perdebatan politik yang hanya menyisakan luka.
Kebangkitan umat tidak pernah identik dengan seruan keras. Ia justru lahir dari pendidikan, keteladanan, dan kultur ilmu yang kokoh. Di sinilah peran Muhammadiyah menjadi sangat strategis: membangkitkan tanpa gaduh, memimpin tanpa merasa paling benar, bergerak tanpa menunggu sorotan.
Lirik yang tidak kalah reflektif adalah kalimat: “Samina wa Atho’na”. Ini merupakan etos ketaatan yang mencerdaskan.
Frasa ini memiliki kedalaman spiritual sekaligus sosial. Ketaatan yang dimaksud bukanlah ketaatan yang mematikan kreativitas, tetapi ketaatan yang mencerdaskan. Ketaatan yang lahir dari pemahaman, kajian, dan keikhlasan.
Dalam konteks Muhammadiyah masa kini, ini dapat dimaknai sebagai:
- Ketaatan pada nilai Islam berkemajuan.
- Ketaatan pada etika publik dan integritas sosial.
- Ketaatan pada nalar ilmiah dalam menghadapi isu-isu kontemporer.
- Ketaatan pada mandat sejarah untuk terus menjadi pelopor pencerahan.
Ekosistem Peradaban
Ketaatan semacam ini sangat dibutuhkan dalam era pascapandemi, ketika masyarakat mudah tergoda oleh paham instan, dunia cepat, dan logika viral. Muhammadiyah harus menunjukkan bahwa ketaatan pada nilai adalah benteng paling kokoh dalam menghadapi goncangan zaman.
113 Tahun Muhammadiyah nenjaga cahaya, memperluas gerak, dari lokal ke global, dari jamaah ke kemanusiaan universal.
Muhammadiyah telah menjadi ekosistem peradaban yang luas: ribuan sekolah dan perguruan tinggi, ratusan rumah sakit, pusat-pusat dakwah, lembaga filantropi, amal usaha ekonomi, hingga jaringan internasional.
Di balik semua itu, terdapat satu pesan utama: Gerakan ini ada untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Tetapi perjalanan 113 tahun juga mengingatkan bahwa kejayaan masa lalu tidak boleh dijadikan bantal tidur. Dunia berubah cepat. Umat menghadapi tantangan yang semakin kompleks: perubahan iklim, krisis digital, polarisasi politik, dan ketidakpastian ekonomi global.
- Karena itu, spirit Sang Surya harus diwujudkan dalam bentuk:
- Dakwah digital yang mencerahkan, bukan menggurui.
- Ekonomi syariah yang inklusif, bukan eksklusif.
- Pendidikan berdaya saing global, tanpa meninggalkan akar moral.
- Gerakan filantropi berbasis teknologi, yang menyentuh mereka yang paling rentan.
- Kepemimpinan muda yang visioner, yang bergerak dengan etika dan kecakapan.
Muhammadiyah menyalakan fajar yang tak pernah padam
Milad ke-113 ini kita rayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dengan tekad baru. Mars Sang Surya kembali berkumandang sebagai pengingat bahwa gerakan ini dibangun dengan air mata kesungguhan, keringat pengabdian, dan semangat ketauhidan yang tak pernah luntur.
Sang Surya akan tetap bersinar selama kita menjaga cahayanya: selama syahadat tetap menjadi pusat gerak, selama ilmu tetap dikedepankan, selama keikhlasan menjadi fondasi, dan selama Muhammadiyah terus memayungi umat dengan amal nyata.
Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah. Teruslah bersinar, menerangi, dan menumbuhkan harapan bagi bangsa dan kemanusiaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments