Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Santri ‘Avengers’ KH. Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Santri ‘Avengers’ KH. Ahmad Dahlan
Oleh : Marjoko Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Digital PDM Kota Pasuruan
pwmu.co -

Dalam dunia perfilman, kita mengenal Marvel’s Avengers, tim pahlawan super dengan beragam kemampuan yang disatukan oleh Nick Fury untuk menghadapi ancaman global.

Setiap anggota tim memiliki karakter unik, senjata, dan kekuatan spesifik. Namun yang membuat mereka menjadi kuat adalah persatuan visinya dengan menyelamatkan dunia.

Kisah fiksi dalam film tersebut, mungkin non-fiksinya dapat kita temukan dalam sejarah perjalanan Islam modern di Indonesia, khususnya pada awal berdirinya Muhammadiyah.

Di balik kisah heroik fiksi, kita menemukan narasi yang tak kalah epik. KH. Ahmad Dahlan, sang ‘Nick Fury’ pendiri Muhammadiyah, menghimpun para santri yang ia ibaratkan sebagai “Avengers”.

Bersama-sama, mereka melancarkan misi besar: membumikan Islam agar menjadi gerakan sosial yang membawa manfaat nyata bagi kemanusiaan.

Membaca sejarah Muhammadiyah, kita merasakan KH. Ahmad Dahlan yang tidak pernah puas dengan pemahaman agama yang berhenti hanya di tataran formal.

Beliau pun akhirnya tidak sekadar mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan keberanian untuk menghidupkan ayat-ayat itu dalam realitas sosial.

Salah satu ayat dari Al-Qur’an yang beliau tekankan adalah QS. Al-Ma’un. Ayat yang menegur orang-orang yang mendustakan agama karena mengabaikan anak yatim dan tidak peduli pada kaum miskin.

Dengan mengajarkan surat ini, KH. Ahmad Dahlan sejatinya sedang membekali para santrinya dengan “senjata pamungkas”, sebuah sumber energi yang tak kalah dahsyat dibandingkan perisai Captain America atau palu Thor.

Formasi Santri Avengers

Haji Muhammad Sudja’ adalah santri pertama sekaligus pengikut yang penuh loyalitas.

Dalam Muhammadiyah Kiai Sudja’ bagai Captain America yang teguh, sederhana dan selalu tampil di garis depan.

Lalu Abdul Hamid BKN, santri istimewa yang aktif berdakwah dan membina masyarakat. Beliau ini mengingatkan kita pada sosok Iron Man — sosok yang penuh energi, kreatif, dan inovatif dalam bergerak.

Juga KRH Hadjid, santri termuda yang rajin dalam menyerap pelajaran dari gurunya. Santri ini mirip Spiderman yang lincah, muda, dan punya kepekaan luar biasa terhadap pesan moral.

Ada pula Ki Bagus Hadikusumo yang hadir sebagai sosok pemimpin, dengan wibawa dan kekuatan menggerakkan umat, tak ubahnya Thor yang membawa petir semangat dakwah.

Terakhir adalah R. Ahmad Rasyid Sutan Mansur, yang memiliki strategi luas dalam memimpin Majelis Tabligh, layaknya Doctor Strange dengan visinya yang jauh ke depan.

Jika kita menyelami lebih dalam, analogi ini bukan sekadar imajinasi.

Kiai Ahmad Dahlan memang sedang membangun sebuah tim elite.

Beliau paham betul bahwa perubahan besar tidak bisa dilakukan seorang diri.

Perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, dan perkembangan organisasi membutuhkan kaderisasi, sebuah proses yang menyiapkan generasi penerus dengan semangat pengabdian.

Para santri tersebut menjadi tulang punggung Muhammadiyah, menyebarkan api perubahan ke berbagai daerah di Indonesia.

Perbedaan mendasarnya dengan Avengers ala Hollywood ini adalah medan pertempurannya.

Jika Avengers berhadapan dengan alien atau robot canggih, Santri ‘Avengers’ Ahmad Dahlan berhadapan dengan masalah riil kala itu, yaitu: kemiskinan kultural dan struktural, kebodohan akibat minimnya akses pendidikan, dan keterbelakangan umat dalam memahami agama.

Karena itu, perjuangan para santri Avengers itu menjadi lebih relevan.

Mereka tidak menyelamatkan dunia dengan ledakan atau cahaya laser, tetapi dengan gerakan sunyi — melalui pendirian sekolah untuk anak-anak kecil yang tak mampu, membuka rumah sakit untuk rakyat jelata, menyantuni yatim piatu, hingga mengirim mubaligh ke pelosok desa.

Pentingnya dakwah kolektif

Saya melihat ada kejeniusan dari Kiai Dahlan. Utamanya pada kemampuannya mengubah tafsir keagamaan menjadi gerakan sosial.

Jika umumnya orang hanya berhenti pada teks, beliau justru mengajak murid-muridnya bertanya: “Apa yang Al-Qur’an inginkan dari kita?”

Dari pertanyaan itu, muncullah praktik langsung, yaitu: surat Al-Ma’un bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata dengan memberi makan fakir miskin.

Inilah bentuk nyata dari agama yang membumi, bukan sekadar wacana.

Saya sering berpikir, seandainya Kiai Dahlan tidak membentuk “Tim Avengers” ini, apakah Muhammadiyah bisa sebesar sekarang? Mungkin saja tidak.

Bagai seorang Nick Fury, Kiai Dahlan juga lihai dalam memilih, mendidik, dan menerjunkan santri-santrinya ke tengah-tengah masyarakat.

Para santri itu bukan hanya penerus, namun sudah menjadi rekan seperjuangan yang siap melanjutkan misi hingga jauh melampaui usia sang guru.

Bagi saya, analogi “Santri Avengers” ini penting untuk menegaskan bahwa perjuangan keagamaan tidak bisa berjalan secara individual.

Kita sering terjebak dalam glorifikasi figur tunggal, seolah-olah satu tokoh bisa melakukan segalanya.

Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan justru lahir dari kerja kolektif.

Kiai Ahmad Dahlan memang pendiri Muhammadiyah, tetapi organisasi ini bisa bertahan dan berkembang hingga sekarang tidak bisa lepas dari keberadaan santri-santrinya yang setia, berani, dan inovatif.

Kini, setelah lebih dari satu abad berlalu, “misi Al-Ma’un” tetap relevan.

Muhammadiyah membuktikan warisan tersebut tak pernah padam melalui jaringan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan yang dimilikinya.

Dunia boleh saja berubah dan teknologi semakin canggih, tetapi masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, dan kebodohan masih membutuhkan sosok-sosok mujahid.

Namun, para mujahid saat ini bukan lagi Kiai Sudja’ atau R. Ar. Sutan Mansur, melainkan kader-kader muda yang terus berjuang di berbagai bidang — baik pendidikan, kesehatan, organisasi, dunia digital dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, penulis ingin menegaskan bahwa kita semua berpotensi menjadi bagian dari Santri Avengers generasi baru Muhammadiyah.

Kita memang tak punya palu Thor atau baju zirah Iron Man, tetapi kita memiliki “senjata” yang jauh lebih dahsyat: iman, ilmu, dan semangat pengabdian.

Dengan menghidupkan pesan kemanusiaan dalam surat Al-Ma’un, kita sejatinya sedang melanjutkan misi besar Kiai Ahmad Dahlan.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu