Hari ini, 22 Oktober, jutaan santri di seluruh Indonesia memperingati Hari Santri Nasional dengan penuh sukacita. Peringatan ini membawa saya kembali ke 25 tahun yang lalu, saat kedua orang tua saya mengirim saya ke sebuah pesantren salaf di Bojonegoro.
Walau hanya tiga tahun saya tinggal di pesantren, waktu yang singkat itu cukup layak untuk saya menyandang gelar santri — menimba ilmu agama sekaligus ilmu kehidupan.
Sebagai santri, saya harus belajar hidup mandiri, sederhana, dan disiplin. Dari pesantrenlah saya belajar bahwa kesehatan dan kebersihan bukan hanya urusan jasmani, melainkan juga cerminan iman dan tanggung jawab sosial.
Santri adalah komunitas istimewa yang hidup dalam kebersamaan: tidur, makan, belajar, dan beribadah bersama.
Namun di balik kebersamaan itu, ada tantangan serius dalam urusan kesehatan, terutama soal kebersihan diri dan lingkungan. Penelitian di berbagai pesantren menunjukkan bahwa penyakit yang paling sering muncul adalah skabies (gatal menular akibat tungau).
Riset yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (2023) menemukan bahwa lebih dari 50 persen santri memiliki kebiasaan kebersihan yang kurang, seperti jarang mencuci sprei, berbagi pakaian, dan tinggal di kamar lembap tanpa ventilasi yang cukup.
Masalah ini diperkuat oleh hasil penelitian lain dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan (2022) yang menunjukkan hubungan signifikan antara personal hygiene dan kejadian skabies (p = 0,011).
Semakin rendah perilaku kebersihan diri, semakin tinggi risiko terinfeksi. Artinya, penyakit di pesantren bukan semata karena ketidaktahuan, tetapi karena kombinasi antara perilaku, sarana, dan kebiasaan hidup bersama.
Teori Perilaku Sosial Kognitif dari Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku manusia — termasuk kebersihan — terbentuk melalui interaksi antara pengetahuan pribadi, lingkungan, dan teladan sosial.
Jika fasilitas mandi terbatas dan lingkungan tidak mendukung, maka perilaku bersih sulit tumbuh, meski santri telah mengetahui pentingnya menjaga kesehatan.
Hal ini dikuatkan oleh riset dalam Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia (Universitas Diponegoro, 2022) yang menyimpulkan bahwa perilaku bersih meningkat signifikan ketika pondok (pesantren) menyediakan sarana air bersih, ventilasi, dan tempat cuci tangan.
Namun menjaga kesehatan di pesantren bukan hanya untuk mencegah penyakit, melainkan juga bagian dari membentuk santri yang cerdas dan berprestasi.
Studi di Yogyakarta yang dimuat dalam Jurnal Teknologi Kesehatan (2021) menemukan bahwa santri yang tinggal di lingkungan bersih memiliki konsentrasi belajar lebih tinggi dan prestasi akademik lebih baik. Lingkungan yang sehat membuat pikiran tenang, tubuh kuat, dan semangat belajar meningkat.
Dalam Islam, menjaga kebersihan adalah bagian dari perintah Allah. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 222 ditegaskan: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
Ayat ini menegaskan bahwa kebersihan lahiriah dan batiniah adalah tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
Islam sejak awal menempatkan kebersihan sebagai fondasi iman. Rasulullah saw bersabda, “At-thuhuru syathrul iman” — kebersihan adalah separuh dari iman. Maka ketika santri mencuci tangan, menjemur kasur, atau membersihkan kamar, sesungguhnya ia sedang beribadah.
Nilai-nilai inilah yang menjadikan pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga laboratorium pembentukan karakter yang disiplin, bersih, dan bertanggung jawab.
Karena itu, sudah seharusnya setiap pesantren menjadikan kebersihan dan kesehatan sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari. Banyak langkah sederhana bisa dilakukan:
- Edukasi kesehatan rutin, bekerja sama dengan puskesmas atau layanan kesehatan.
- Lomba kebersihan antar kamar, agar menjaga kebersihan menjadi tradisi yang menyenangkan.
- Peningkatan sarana sanitasi, termasuk air bersih, ventilasi, dan jemuran yang cukup.
- Pemeriksaan kesehatan berkala untuk mencegah penularan penyakit kulit dan infeksi.
Kebiasaan kecil seperti mencuci tangan sebelum makan, menjemur kasur, atau mengganti pakaian secara rutin mungkin tampak sepele, tetapi dalam perspektif Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), tindakan-tindakan ini adalah investasi besar untuk membangun karakter sehat dan produktif.
Jika seluruh pesantren menerapkan budaya bersih dan sehat, maka jutaan santri akan tumbuh menjadi generasi tangguh — kuat tubuhnya, jernih pikirannya, dan bersih hatinya. Mereka bukan hanya penghafal ayat, tetapi juga teladan dalam perilaku hidup sehat.
Santri sehat berarti pesantren kuat, dan pesantren kuat berarti bangsa berdaya.
Melalui momentum Hari Santri hari ini, semoga peringatan ini bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk meneguhkan komitmen baru: menjaga tubuh sebagai amanah, menjaga kebersihan sebagai ibadah, dan menjaga kesehatan sebagai bentuk dakwah.
Karena santri sejati bukan hanya yang fasih membaca kitab, tetapi juga yang pandai menjaga diri dan lingkungannya — dengan iman, ilmu, dan kesehatan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments