Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sate Ayam, Laptop, dan Subuh di Sarangan: Awal Lahirnya PWMU.CO

Iklan Landscape Smamda
Sate Ayam, Laptop, dan Subuh di Sarangan: Awal Lahirnya PWMU.CO
Para pengurus LIK bersama pengurus LPCR usai rapat bersama. Foto: DOK/LIK
pwmu.co -

Keputusan cepat itu bukan sekadar teknis, tetapi langkah strategis. Ya, untuk mengamankan identitas sebelum didahului pihak lain. Begitu domain dibeli, suasana rapat pun berubah. Dari perdebatan konseptual menjadi kerja konkret. Berikut lanjutan kisah awal lahirnya PWMU.CO:

Ruang yang dipakai rapat kerja Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) PWM Jawa Timur mulai tenang. Perdebatan yang tadi hangat perlahan mereda. Adu argumen pun tak lagi terdengar.

Namun para peserta belum beranjak. Kursi-kursi masih terisi. Beberapa orang masih saling berbincang pelan. Yang lain menatap layar laptop. Ada pula yang sibuk dengan ponsel di tangan.

Suasana rapat berubah arah. Dari perdebatan panjang menuju kerja nyata. Ide yang tadi dipertukarkan kini mulai dijahit menjadi langkah-langkah konkret.

Di ruangan itu, satu hal terasa jelas: portal PWMU.CO bukan lagi sekadar wacana. Ia sedang dilahirkan. Pelan, tetapi pasti.

Waktu terus merambat. Jarum jam makin larut. Wajah-wajah peserta raker mulai terlihat letih. Melihat situasi itu, saya mengusulkan satu jalan keluar.

Pekerjaan selanjutnya sebaiknya dilanjutkan oleh tim kecil saja. Tidak perlu semua orang bertahan sampai malam semakin dalam.

Usul itu langsung mendapat respons. Mayoritas peserta rapat mengangguk setuju. Mereka tampak lega. Energi sudah terkuras sejak siang.

Forum pun mengambil keputusan. Beberapa orang ditunjuk untuk menuntaskan pembuatan website yang baru saja dirintis itu.

“Oke, sepakat, ya,” ujar Rully Anwar memastikan.

Serempak para peserta menjawab, “Setuju…”

Sebelum rapat benar-benar ditutup, Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) PWM Jatim, Muh. Kholid Asyadulloh, mulai memanggil satu per satu nama yang dipercaya melanjutkan pekerjaan itu. Yang menjadi awal lahirnya PWMU.CO.

Nama-nama itu pun disebutkan. Selain saya, ada Nasrullah, Arief Santosa, Rully Anwar, Faisol Taselan, Radius Setiyawan, Ram Surahman, Zaenal Arifin, dan Syafuddin Zuhri. Nama terakhir adalah guru SD Muhammadiyah 16 Surabaya yang terampil dalam mencoding website.

Tim kecil itu pun terbentuk. Tidak besar. Tetapi cukup untuk memulai sesuatu yang kelak menjadi penting. Satu per satu peserta raker mulai berdiri. Kursi-kursi yang sejak siang terisi perlahan kosong. Percakapan pun mereda.

Mereka lalu keluar dari ruang rapat. Menyusuri lorong menuju kamar masing-masing yang sudah disiapkan panitia. Wajah-wajah lelah itu akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Namun tidak semua ikut bubar. Tim kecil yang baru saja ditunjuk memilih tetap bertahan. Mereka tidak kembali ke kamar, melainkan naik ke lantai dua menuju ruang lobi. Di tempat itulah pekerjaan dilanjutkan. Suasananya lebih santai. Bahkan, di sela diskusi, mereka sempat memesan sate ayam karena perut mulai keroncongan.

Malam semakin larut. Tetapi di lobi itu, satu pekerjaan penting sedang dimulai: merintis lahirnya portal PWMU.CO.

***

Kami duduk melingkar di ruang lobi itu. Hanya Syafuddin Zuhri yang duduk terpisah. Ia memilih meja yang lebih tinggi, menghadap laptopnya. Syafuddin tidak larut dalam pembahasan konten. Ia fokus pada satu hal: mencoding website.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Diskusi pun berlanjut. Pertanyaan paling mendesak segera muncul: seperti apa wajah PWMU.CO nantinya? Apakah akan menjadi portal berita umum dengan gaya cepat dan aktual? Beberapa pertanyaan itu mengemuka sebagai awal lahirnya PWMU.CO.

Saya langsung menyampaikan penolakan. PWMU.CO, menurut saya, tidak perlu menjadi portal berita umum. Alasannya jelas. Pertama, akan sangat sulit bersaing dengan portal-portal besar yang sudah lebih dulu mapan jika ikut bermain di ranah berita umum.

Kedua, tim redaksi saat itu belum cukup solid untuk menjalankan ritme produksi berita harian yang intens. Ketiga, persoalan pendanaan juga tidak bisa dianggap ringan.

Saya lalu mengajukan gagasan lain. Sesuatu yang lebih khas. PWMU.CO sebaiknya menjadi portal tentang Muhammadiyah. Semua tentang Muhammadiyah. Aktivitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dinamika sekolah-sekolah dari SD hingga SMA, opini para mubaligh dan mubalighat, refleksi kader, hingga dakwah yang mencerahkan. Kontennya mungkin tidak selalu “viral”, tetapi memiliki ruh.

Usulan itu ternyata mendapat sambutan positif. Rasional, sekaligus realistis. Dengan melibatkan humas AUM dan melatih sekolah-sekolah dalam jurnalistik dasar, suplai konten justru bisa berkelanjutan. Muhammadiyah memiliki jaringan yang sangat besar. Tinggal bagaimana menghubungkannya dalam satu simpul digital.

“Siapa yang menulis? Ya, mereka yang aktif di AUM. Kita buat pelatihan menulis supaya mereka makin terampil,” kata saya.

“Benar juga. Bisa juga begini, Yud. Mereka kita ajari membuat angle kalau ada acara umum yang dihadiri pimpinan Muhammadiyah. Oke, sepakat, sepakat,” timpal Faisol Taselan.

Soal teknis diputuskan dikerjakan setelah pulang dari Magetan. Rencana pelatihan menulis berkala bisa dibahas belakangan. Yang penting, malam itu website harus jadi dulu. Minimal sudah ada tampilan depannya.

Malam makin larut. Jarum jam merangkak mendekati Subuh. Di antara kantuk dan sisa energi, kerangka awal portal mulai terbentuk. Desainnya masih sederhana. Struktur menu masih dasar. Beberapa konten awal mulai terpasang. Belum sempurna, tentu saja. Tapi ia sudah ada. Nyata.

Usai salat subuh, PWMU.CO sudah bisa dibuka. Itulah awal lahirnya PWMU.CO. Tampilan mukanya masih sangat sederhana dan jelas membutuhkan banyak penyempurnaan. Namun saat rapat pleno dimulai pagi itu, selepas sarapan, kami datang dengan sesuatu yang konkret.

Ketika majelis dan lembaga lain masih memaparkan rencana, LIK sudah membawa hasil kerja. Sebuah domain. Sebuah wajah awal. Sebuah arah. Kami saling pandang. Lelah, tapi lega.

Di tengah udara dingin Telaga Sarangan dan embun yang belum sepenuhnya mengering, sebuah langkah kecil dakwah digital Muhammadiyah telah dimulai. Selebihnya, waktu yang akan menguji.

Pagi itu, selepas sarapan, perwakilan Majelis Pustaka, LPCR, dan LIK menggelar rapat bersama untuk memaparkan hasil raker dan rencana tindak lanjut. LIK mendapat giliran terakhir. Saat itulah kami menampilkan website PWMU.CO yang sudah jadi.

Ketua LPCR Hasan Ubaidillah sempat kaget. “Lho, kok wes dadi website e?”,” katanya saat menyaksikan awal lahirnya PWMU.CO.

Muh. Kholid tersenyum kecil lalu menjawab, “Kerja harus serius. Ini garap sewengi.”

Sejak pagi itu, PWMU.CO benar-benar mulai berjalan, meski masih dengan tampilan sederhana dan tim kecil. Tidak ada yang menyangka, kerja semalam itu kelak menjadi titik awal perjalanan panjang dakwah digital Muhammadiyah. (bersambung)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu