Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum yang tepat untuk mengasah kepekaan sosial dan nilai-nilai spiritual bagi para murid. Memanfaatkan keberkahan bulan ini, SD Muhammadiyah Kompleks (SD Mugres) Kampus A Gresik menggelar kegiatan bertajuk ‘Berbagi Takjil dan Berbuka Puasa Bersama’ bagi para murid kelas 2 dan 3.
Ada yang unik dalam pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan 8 Ramadan 1447 Hijriah (Jumat, 27/2/2026) ini. Akibat dinamika cuaca, pihak Kepala Urusan Kehidupan Islami (Kaur Kehis) menunjukkan fleksibilitas dalam mengatur alur acara demi memastikan misi sosial tetap terlaksana secara maksimal.
Awalnya, murid dijadwalkan mengikuti sesi ‘Kisah Berhikmah’ di Lapangan AR Fakhrudin Square SD Mugres Kampus A. Namun, karena hujan turun, kegiatan dipindahkan ke Aula Sang Surya. Ketika cuaca mulai cerah dan hujan mereda, Kaur Kehis segera mengambil keputusan strategis. Sesi kisah dihentikan sementara agar para murid dapat langsung turun ke jalan di sekitar sekolah untuk membagikan takjil selagi cuaca mendukung.
Pentingnya Memanfaatkan Kesempatan
Salah satu Kaur Kehis, Syahriyani, S.Pd., menjelaskan bahwa perubahan agenda mendadak tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi murid tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan dalam berbuat baik.
“Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersegera dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ketika cuaca mereda, itulah pintu kesempatan dari Allah agar anak-anak bisa menyapa masyarakat. Kami ingin mereka belajar bahwa niat baik harus dibarengi dengan kesigapan dalam bertindak,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Sani, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa berbagi takjil bukan sekadar memberikan makanan, melainkan wujud kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama, sekaligus cara memperkuat ikatan sosial di masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi upaya menghidupkan sunah dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw.
Tepat pukul 16.30 WIB, ‘pasukan cilik’ ini bergerak menuju titik-titik strategis di kawasan sekitar sekolah. Dengan pengawalan para guru, mereka menyapa pengendara motor, pedagang, kurir paket, hingga pejalan kaki.
“Silakan, Pak, takjil untuk berbuka puasa,” ucap salah satu murid kelas 2 dengan suara malu-malu, namun penuh semangat.
Respons masyarakat pun sangat mengharukan. Banyak warga tertegun melihat anak-anak seusia itu sudah terlibat dalam aksi sosial yang terorganisasi. Pada momen ini, keberanian berbicara di depan umum serta etika berkomunikasi dipraktikkan langsung di tengah udara segar pascahujan.
Setelah seluruh paket takjil didistribusikan, para murid kembali ke sekolah dengan perasaan lega. Namun, agenda spiritual belum usai. Mereka kembali berkumpul untuk melanjutkan sesi yang sempat tertunda, yakni ‘Kisah Berhikmah’ yang disampaikan oleh Sukawati, S.Ag.
Cerita Ulat Rakus
Dalam ceritanya, Wati menggambarkan tokoh Ulil sebagai ulat rakus yang memutuskan berhenti makan (berpuasa) di dalam kepompong yang sempit dan gelap.
“Anak-anak, seperti Ulil yang bersabar dalam kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu yang indah, puasa kalian hari ini adalah proses untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Kisah Si Ulil menjadi penutup yang manis, memberikan pemahaman bahwa rasa lapar yang mereka tahan sejak subuh adalah proses ‘metamorfosis’ karakter untuk menjadi ‘ ‘kupu-kupu’ yang gemar menolong sesama, seperti aksi berbagi takjil yang baru saja mereka lakukan.
Setelah sesi cerita berakhir, para murid bersiap untuk berbuka puasa. Tepat pukul 17.53 WIB, doa berbuka puasa dilantunkan serempak, menghadirkan suasana haru saat mereka menikmati takjil bersama dalam semangat persaudaraan.
Kegiatan ditutup dengan salat Magrib berjemaah di Aula Sang Surya pada pukul 18.20 WIB. Pelaksanaan ibadah ini menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas sosial (hablun minannas) harus selalu bermuara pada pengabdian kepada Sang Pencipta (hablun minallah). (*)






0 Tanggapan
Empty Comments