Search
Menu
Mode Gelap

Satu Kesepakatan Global, Tahun Baru Masehi Kamis, 1 Januari 2026

Satu Kesepakatan Global, Tahun Baru Masehi Kamis, 1 Januari 2026
Foto: Getty Images
pwmu.co -

Saat fajar menyingsing pada Kamis, 1 Januari 2026, dunia tidak terjebak dalam perdebatan kapan jatuhnya Tahun Baru.

Tidak ditemukan polemik lintas mazhab yang menguras energi umat, tidak ada ketegangan antar negara yang memicu kecurigaan tiap-tiap warga.

Penduduk di Sao Paulo, Riyadh, Tokyo, Jakarta hingga Accra mungkin tidak serempak dalam hitungan detik saat merayakan Tahun Baru, tetapi seluruhnya menyebut hari itu dengan satu nama yang sama. Kamis tetap Kamis. Tanggal tetap satu. Di seluruh penjuru planet. Samasekali tidak ada perbedaan.

Kesepakatan ini bukan hasil dari musyawarah global yang baru saja digelar semalam. Tidak ada lembaga dunia yang setiap tahun harus berkeringat dingin memutuskan ulang apakah 1 Januari akan jatuh pada hari Kamis atau Jumat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak pernah merasa perlu melakukan sidang isbat hanya untuk menentukan kapan Tahun Baru ini dimulai.

Bayangkan seseorang di Jakarta hendak menonton pertandingan Liga Champions antara Barcelona melawan Chelsea yang digelar di London.

Di jadwal resmi tertulis pertandingan berlangsung pada Kamis, 23 April 2026, pukul 20.00 waktu London. Tanpa sidang isbat dulu, penonton di Indonesia memahami bahwa pertandingan tersebut akan disaksikan pada Jumat dini hari, pukul 03.00 WIB.

Secara pengalaman pribadi, penonton di Jakarta memang menyaksikan pertandingan itu setelah melewati tengah malam.

Namun tidak seorang pun menyimpulkan bahwa laga tersebut berubah menjadi pertandingan hari Jumat atau bertanggal lain.

Di kalender kompetisi dunia, pertandingan tetap dicatat sebagai Kamis, 23 April 2026. Perubahan yang terjadi sepenuhnya berada pada jam lokal, bukan pada hari dan tanggal peristiwa.

Logika ini diterima tanpa resistensi di seluruh dunia. Hari dan tanggal dipahami sebagai kesepakatan global, sementara jam dibiarkan di masing-masing wilayah.

Tidak ada kebutuhan untuk menetapkan ulang hari pertandingan hanya karena sebagian penonton menontonnya setelah pergantian tanggal di tempat tinggalnya.

Inilah cara dunia modern bekerja. Perbedaan jam diakui sebagai konsekuensi geografis. Perbedaan hari dan tanggal dianggap sebagai kesalahan konseptual.

Seluruh sistem global, dari olahraga hingga penerbangan, berdiri di atas kesepakatan diam-diam ini. Jika kesepakatan tersebut runtuh, dunia akan tenggelam dalam kekacauan jadwal yang tidak pernah selesai.

Sejak revolusi pertanian hingga era satelit, manusia belajar satu hal mendasar bahwa waktu sosial mustahil dikelola secara lokal.

Perdagangan global, navigasi samudra, hingga jaringan internet memaksa manusia menyatukan definisi hari.

Dunia modern berdiri di atas asumsi bahwa satu hari memiliki satu tanggal. Perbedaan jam bisa ditoleransi. Perbedaan hari, mohon maaf, susah.

Di sinilah letak ironi dalam kalender Islam yang selama ini beredar. Selama berabad-abad, umat manusia terjebak dalam situasi unik di mana satu tanggal bisa memiliki hari yang berbeda di seluruh dunia.

Tanggal 1 Ramadan, misalnya, dapat hadir pada hari yang tidak sama antara New York, Riyadh, dan Jakarta.

Perbedaan ini lahir dari anggapan bahwa keterlihatan hilal menjadi penanda masuknya bulan baru. Padahal keberadaan hilal di atas ufuk adalah fenomena lokal, terikat tempat dan waktu. Ketika satu wilayah melihat hilal, wilayah lain mungkin masih berada di bawah langit yang sama sekali berbeda. Jika tetap menerima konsep ini, sampai H-1 Kiamat pun, umat akan berbeda terus.

Ironi tersebut semakin mencolok ketika disandingkan dengan realitas peradaban global. Umat manusia mampu menyepakati hari Kamis secara universal, tetapi kesulitan menyepakati tanggal pertama puasa secara bersama.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dari sudut pandang makro-sejarah, persoalannya bukan teologis, melainkan teknis dan konseptual. Kalender Islam memerlukan kerangka global agar selaras dengan realitas dunia yang telah lama terhubung.

Memerlukan Kalender Hijriah Global Tunggal

Muhammadiyah kini mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai upaya untuk mengakhiri “skizofrenia” waktu ini.

Melalui KHGT, prinsip keselarasan hari dan tanggal di seluruh dunia ditegakkan. Satu hari memiliki satu tanggal yang sama bagi seluruh penghuni bumi.

Kesatuan ini menjadi krusial untuk menyatukan pelaksanaan ibadah kolektif seperti Idulfitri dan Iduladha secara global, tanpa harus menunggu konfirmasi visual yang bergantung pada cuaca di sebuah koordinat tertentu.

Penopang utamanya adalah penggunaan hisab. Dalam penentuan awal bulan kamariah, hisab dipandang sah dan sejalan dengan sunah Nabi Saw.

Hadis tentang umat yang ummi bersifat deskriptif terhadap kondisi sosial pada masanya, bukan larangan abadi terhadap perhitungan.

Al-Qur’an sendiri berbicara tentang keteraturan kosmos dan perhitungan waktu (QS Yasin: 39-40; Yunus: 5; al-Rahman: 5). Dalam konteks peradaban yang telah mampu berhitung dengan presisi tinggi, hisab memberikan kepastian yang tidak dapat ditandingi.

Dari sisi teknis, rukyat yang baru dapat diketahui sehari sebelumnya menjadikan penyatuan kalender mustahil. Tidak ada kalender global yang disusun berdasarkan informasi mendadak.

Sebaliknya, hisab memungkinkan perencanaan jauh ke depan, sebagaimana penentuan waktu salat yang sepenuhnya bergantung pada perhitungan astronomis tanpa menunggu pengamatan harian terhadap matahari.

Prinsip berikutnya adalah kesatuan matlak. Seluruh permukaan bumi dipandang sebagai satu kesatuan astronomis. Konsep perbedaan matlak tidak dijadikan rujukan dalam kalender global tunggal.

Kalender zonal yang membagi bumi ke dalam wilayah-wilayah berbeda mungkin berguna secara administratif, tetapi gagal menciptakan keselarasan tanggal. KHGT hanya mengenal satu matlak yang mencakup seluruh bumi.

Parameter global atau transfer imkan rukyat melengkapi kerangka tersebut. Imkanu rukyat adalah prediksi astronomis tentang kemungkinan terlihatnya hilal pada posisi geometris tertentu.

Bulan baru tidak dimulai sebelum imkanu rukyat terjadi di suatu tempat di muka bumi, khususnya di kawasan barat. Prinsip ini mencegah kawasan timur memasuki bulan baru sebelum ijtimak terjadi.

Transfer ini berarti hasil rukyat atau kemungkinan terlihatnya hilal di satu wilayah diberlakukan ke wilayah lain yang belum mengalaminya.

Landasannya adalah keumuman hadis tentang perintah berpuasa dan berhari raya karena rukyat, yang ditujukan kepada umat secara keseluruhan tanpa batas geografis. Dengan demikian, dunia dipahami sebagai satu matlak ibadah.

Pada akhirnya, terbenam matahari dan terbit fajar selalu berubah dan bergantung lokasi. Peradaban global membutuhkan jangkar yang stabil.

Sebagaimana Kamis, 1 Januari 2026 diterima tanpa perdebatan di seluruh dunia, Kalender Hijriah Global Tunggal berusaha menempatkan umat Islam dalam logika sejarah yang sama.

Dalam perspektif panjang peradaban, ini bukan lompatan radikal, melainkan penyesuaian yang datang sedikit terlambat. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments