Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sawah sebagai Sekolah Kehidupan: Tanamkan Rasa Syukur pada Anak lewat Tadabbur Alam

Iklan Landscape Smamda
Sawah sebagai Sekolah Kehidupan: Tanamkan Rasa Syukur pada Anak lewat Tadabbur Alam
Anak-anak asyik bermain lumpur di sawah. Foto: Erni Fatmawati/PWMU.CO.
Oleh : Erni Fatmawati Guru TK Tahfidz Raudhatul Qur'an Kota Malang
pwmu.co -

Liburan kali ini terasa berbeda. Bukan ke mal, bukan ke tempat wisata modern, dan bukan pula ke wahana permainan mahal.

Kami memilih pulang kampung ke Desa Medalem, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, kampung halaman suami. Perjalanan kami menyusuri jalan-jalan kecil yang di kanan kirinya terbentang hamparan hijau yang menenangkan.

Tujuan kami sederhana: mengajak anak-anak bermain sekaligus bertadabbur di sawah milik Mbah Bu (nenek) dan Mbah Kung (kakek).

Di kota, sawah sering kali hanya hadir di buku pelajaran atau layar YouTube. Anak-anak mengenal beras, tetapi tak selalu memahami siapa yang menanamnya. Mereka menyantap nasi setiap hari, namun jarang merenungi proses panjang di balik sebutir padi.

Oleh karena itu, mengajak mereka melihat langsung sawah bukan sekadar rekreasi, melainkan pelajaran kehidupan yang nyata.

Sawah: Sekolah Kehidupan yang Nyata

Di desa, anak-anak berlarian di pematang sawah, tertawa riang saat kaki mereka bersentuhan dengan lumpur. Mereka menyaksikan para petani menanam padi sambil bercakap santai, seolah tanpa beban. Bagi masyarakat desa, pemandangan ini adalah keseharian. Namun bagi anak-anak kota, inilah pengalaman langka yang begitu berharga.

Di ruang inilah tadabbur bekerja dengan memandang kehijauan daun padi yang menyejukkan mata, menatap langit luas tanpa sekat gedung-gedung tinggi, menyaksikan tetes keringat para petani, bermain air dan lumpur, sekaligus merasakan betapa Allah menghadirkan rezeki melalui tangan-tangan sederhana.

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk merenungi alam, bukan sekadar melihatnya, tetapi juga memikirkannya serta mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman:

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏ الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‏

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia” (QS. Ali Imran: 190-191)

Di sawah, anak belajar bahwa makanan tidak datang dari magic rice cooker, melainkan dari bumi yang Allah tumbuhkan.

Allah juga mengingatkan manusia untuk memperhatikan sumber makanan mereka, sebagaimana firman-Nya:

فَلۡيَنۡظُرِ الۡاِنۡسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖۤۙ‏ اَنَّا صَبَبۡنَا الۡمَآءَ صَبًّا ۙ‏ثُمَّ شَقَقۡنَا الۡاَرۡضَ شَقًّا ۙ‏ فَاَنۡۢبَتۡنَا فِيۡهَا حَبًّا ۙ

Artinya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.
Kami benar-benar telah mencurahkan air (hujan), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu.”
(QS. ‘Abasa: 24–27)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di sawah, ayat ini terasa hidup. Anak melihat langsung tanah, air, tanaman, dan proses tumbuhnya rezeki.

Allah pun menegaskan bahwa bumi ini disiapkan untuk manusia agar disyukuri:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ۝

Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Dalam firman-Nya yang lain:

هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لَّـكُمۡ مِّنۡهُ شَرَابٌ وَّمِنۡهُ شَجَرٌ فِيۡهِ تُسِيۡمُوۡنَ‏, يُنۡۢبِتُ لَـكُمۡ بِهِ الزَّرۡعَ وَالزَّيۡتُوۡنَ وَالنَّخِيۡلَ وَالۡاَعۡنَابَ وَمِنۡ كُلِّ الثَّمَرٰتِؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيَةً لِّـقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ‏

Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11)

Mendidik Anak Agar Lebih Bersyukur

Dengan melihat sawah, anak belajar bahwa rezeki tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses dan jerih payah para petani yang dimuliakan Allah. Dari sana pula tumbuh kesadaran bahwa makanan adalah nikmat yang patut disyukuri.

Inilah bentuk pendidikan tauhid yang membumi, menghubungkan pengalaman hidup sehari-hari dengan kebesaran Allah. Tanpa harus duduk kaku di ruang kelas atau mendengar banyak ceramah, alam menjadi guru terbaik.

Orang tua cukup membimbing dengan kalimat sederhana, “Lihat, Nak, beginilah cara Allah memberi kita nasi. Karena itu kita harus bersyukur, tidak menyia-nyiakan makanan, dan menghormati para petani.”

Tadabbur di sawah mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya meninggalkan jejak mendalam di hati. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, mengajak anak berhenti sejenak untuk memandang bumi dan mengingat Allah merupakan investasi iman yang sangat berharga.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bersyukur, rendah hati, dan senantiasa dekat dengan Allah. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu