School Leaders Conference 2025 yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) di Aula Mas Mansur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menghadirkan Dr. Willy A. Renandya, Expert in Language Teacher Education and Second Language Learning, sebagai salah satu narasumber utama. Dalam paparannya, ia mengangkat tema Creating a Vibrant Bilingual Environment in Muhammadiyah Schools.
Dr. Willy memulai pemaparannya dengan mengatakan, “Di Singapura, penggunaan bahasa Inggris sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan di dalam rumah.”
Ia menjelaskan bahwa pemaparannya dengan menjelaskan kondisi penggunaan bahasa di Singapura. Sekitar 50 persen masyarakat di sana menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di rumah, diikuti oleh bahasa Mandarin, Melayu, Tamil, dan bahasa lainnya. Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris yang kuat menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan sistem pendidikan mereka.
Ia kemudian memaparkan tiga tahapan perkembangan pendidikan bilingual di Singapura. “Proses ini panjang, dan setiap fase memiliki tantangannya sendiri,” ujarnya.
Tiga tahapan perkembangan pendidikan bilingual di Singapura
Tahap pertama, initial stage, berlangsung pada tahun 1960-an hingga 1970-an, ditandai dengan penggunaan masif buku teks berbahasa Inggris dan peralihan bertahap dari bahasa tradisional.
Tahap kedua, consolidation stage, terjadi pada era 1980 hingga 1990-an, ketika bahasa Inggris semakin digalakkan dalam pembelajaran, termasuk penerapan kurikulum berbasis Inggris (UK based).
Tahap ketiga, mature stage, berlangsung sejak tahun 2000-an hingga sekarang, ditandai dengan lahirnya berbagai metode pembelajaran inovatif untuk mendukung pendidikan bilingual.
Dr. Willy menekankan bahwa untuk memajukan pendidikan, terutama di sekolah-sekolah Muhammadiyah, peran guru adalah kunci utama.
“Guru adalah fondasi dari kualitas pembelajaran. Jika gurunya kuat, maka pendidikan kita juga akan kuat,” tegasnya.
Untuk memajukan pendidikan, terutama di sekolah-sekolah Muhammadiyah, peran guru menjadi faktor utama. Guru harus memiliki integritas, empati, dan sikap adil terhadap siswa, serta terus meningkatkan kompetensi sesuai bidang masing-masing.
Ia juga mencontohkan praktik di Singapura, sambil berkata, “Di Singapura, guru tidak hanya dituntut menguasai bahasa Inggris, tetapi juga menggunakannya secara aktif dalam berbagai situasi, baik formal maupun informal.”
Praktik di Singapura, di mana guru dituntut mampu menggunakan bahasa Inggris secara aktif, baik di dalam kelas maupun di luar pembelajaran.
Menurutnya, penerapan pendidikan bilingual secara masif menjadi langkah penting agar kualitas pendidikan Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Dengan dukungan guru yang kompeten dan lingkungan belajar yang kondusif, sekolah-sekolah Muhammadiyah diyakini dapat menjadi pelopor dalam pengembangan pendidikan bilingual yang lebih maju. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments