Semangat nasionalisme membara di SD Mugres Kampus A pada Jumat pagi (15/8/2025). Ratusan murid memadati lapangan AR Fakhrudin Square dengan pakaian bernuansa merah putih. Suasana meriah dan penuh semangat ini menjadi wujud peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang disambut istimewa oleh sekolah yang dikenal sebagai sekolah penuh cinta.
Sejak pukul 07.00 WIB, halaman sekolah sudah ramai dengan keceriaan murid dari kelas 1 hingga 6. Mereka datang mengenakan busana merah putih. Setiap kelas berfoto bersama, menunjukkan kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
Api Merah Putih
Drama kolosal berdurasi sekitar 20 menit dipentaskan dengan mengisahkan semangat perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia, mulai dari peristiwa Rengasdengklok hingga proklamasi kemerdekaan. Murid terbagi ke dalam berbagai peran: golongan tua, golongan muda, masyarakat, dan penari.
Tidak hanya mengandalkan narasi dan adegan heroik, drama ini juga disisipi monolog reflektif, pembacaan teks proklamasi, serta iringan tari tradisional yang menambah kekuatan emosional pementasan.
Setiap adegan dimainkan oleh murid dari berbagai tingkat kelas yang sebelumnya telah berlatih, baik secara parsial maupun latihan bersama. Keterlibatan lintas kelas ini menciptakan kolaborasi kuat, bukan hanya antar-murid, tetapi juga guru pembimbing dan orang tua yang turut mendukung dari balik layar.
Wuryantini, atau akrab disapa Kak Si, sutradara drama, mengungkapkan rasa bangganya terhadap murid yang tampil penuh semangat.
“Setiap anak punya peran dalam drama ini, tidak ada yang sekadar tampil. Mereka belajar sejarah melalui emosi dan aksi. Kami ingin mereka bukan hanya tahu bahwa Indonesia merdeka, tetapi juga memahami bagaimana dan mengapa kemerdekaan itu begitu berarti,” ujarnya.
Drama kolosal ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Melalui peran sebagai pahlawan dan rakyat kecil, murid diajak memahami nilai perjuangan, keberanian, kerja sama, serta menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air.
Kepala SD Mugres Kampus A, Luluk Subaidah SPd, menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan bagian dari visi besar sekolah dalam membentuk generasi muda yang berkarakter kuat dan cinta tanah air.
“Jas merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah (ungkapan Soekarno, ed.). Drama ini memberikan pengetahuan sejarah masa menjelang kemerdekaan kepada murid. Pementasan luar biasa dari perwakilan murid ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air,” jelas Luluk. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments