
PWMU.CO – Dalam rangka mengawali tahun ajaran 2025/2026, SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A menyelenggarakan Workshop Konseling bertema “Mata Hati Guru, Telinga Sekolah” pada Selasa (8/7/2025) bertempat di Aula Sang Surya SD Mugres.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru Kampus A sebagai bagian dari pembekalan awal tahun untuk memperkuat aspek emosional dan psikososial dalam proses pendidikan.
Dalam sambutannya, Kepala SD Mugres Kampus A, Luluk Subaidah SPd, menyampaikan tujuan kegiatan ini adalah untuk membekali para guru dengan keterampilan dasar dalam konseling dan komunikasi empatik, guna mendampingi anak-anak usia sekolah dasar yang sedang berada dalam fase perkembangan emosional yang dinamis.
“Pendekatan konseling seperti ini menjadi kebutuhan utama bagi guru abad ke-21. Kami ingin guru-guru SD Mugres tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing yang peduli dan siap menjadi tempat bertumbuh bagi murid secara utuh,” ujarnya.
Workshop ini menghadirkan seorang praktisi psikologi dan trainer dari CV NOL Enterprise Indonesia, Muhammad Badril Riza SPsi. Ia dikenal sebagai fasilitator nasional di bidang pengembangan diri, hipnoterapi edukatif, serta pendekatan konseling berbasis empati di lingkungan pendidikan.
Dalam pemaparannya, Badril sapaan akrabnya, mengajak para guru untuk menjadi sosok pendengar yang sejati dan peka terhadap pesan-pesan non verbal dari murid.
“Guru yang baik bukan hanya mengajar, tetapi juga mampu merasakan isi hati anak yang mungkin tak terucapkan. Guru adalah mata hati yang melihat lebih dari apa yang tampak, dan menjadi telinga bagi sekolah untuk menangkap suara-suara yang kadang tak terdengar,” tegas Badril, yang disambut antusias oleh para peserta.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan dengan murid, agar mereka merasa aman dan nyaman dalam mengungkapkan perasaan. Sesi berlangsung dengan penuh semangat, diselingi simulasi peran serta studi kasus nyata yang sering terjadi di lingkungan kelas.
Salah satu Guru kelas 1, Fitri Indawati SPd, menyampaikan kesannya mengikuti kegiatan ini.
“Saya tersadar bahwa mendidik bukan hanya soal transfer ilmu, tapi juga mendengar, memahami, dan menerima murid apa adanya. Terkadang, anak tidak butuh solusi, mereka hanya butuh didengarkan,” ungkapnya. (*)
Penulis Venna Yulia Rachmawati Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments