Memasuki awal semester genap tahun ajaran baru, SD Muhammadiyah 13 Surabaya menggelar pertemuan khusus bersama para wali murid, Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah ini difokuskan pada sosialisasi pola pengawasan dan penggunaan gawai (handphone) bagi anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam merespons tantangan era digital yang kian masif menyentuh kehidupan anak-anak usia sekolah dasar.
Kepala SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Amang Muazam, dalam sambutannya menegaskan bahwa teknologi saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi kebutuhan yang terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa zaman sekarang semuanya harus menggunakan teknologi, termasuk handphone. Hampir semua layanan dan aktivitas sudah berbasis digital,” ujarnya di hadapan para orang tua.
Namun demikian, Amang mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus dikelola secara bijak. Menurutnya, persoalan utama bukan pada ada atau tidaknya gawai di tangan anak, melainkan bagaimana cara penggunaannya dikondisikan agar tetap membawa dampak positif.
“Yang menjadi catatan penting adalah bagaimana penggunaan tersebut diarahkan, diawasi, dan disesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak,” tambahnya.
Dalam sesi sosialisasi, pihak sekolah memaparkan sejumlah poin penting terkait manajemen penggunaan gawai pada anak. Edukasi ini dirancang agar orang tua memiliki pemahaman yang sama dengan sekolah dalam membimbing putra-putrinya.
Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain:
1. Menentukan Jam Khusus Penggunaan Gawai
Orang tua dianjurkan menetapkan waktu tertentu kapan anak boleh menggunakan gawai. Dengan pembatasan waktu yang jelas, anak belajar disiplin dan tidak terbiasa mengakses gawai tanpa kontrol.
2. Pendampingan Orang Tua
Pengawasan terhadap konten yang diakses anak menjadi hal yang sangat krusial. Orang tua diharapkan memastikan bahwa aplikasi, permainan, maupun tontonan yang diakses sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
3. Menyeimbangkan Screen Time dengan Aktivitas Nyata
Waktu layar (screen time) perlu diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, serta kegiatan belajar yang melibatkan motorik dan kreativitas. Anak tetap membutuhkan ruang untuk bermain secara langsung, berinteraksi dengan teman, dan membangun keterampilan sosial.
Pihak sekolah juga menekankan bahwa kebiasaan digital yang sehat harus dibangun sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak bergantung secara berlebihan pada gawai.
Pertemuan ini sekaligus menandai dimulainya langkah baru di semester genap. SD Muhammadiyah 13 Surabaya berharap terbangun sinergi yang kuat antara guru dan orang tua dalam mendampingi anak menghadapi dunia digital.
Menurut Amang, keberhasilan pendidikan di era modern sangat ditentukan oleh kolaborasi antara rumah dan sekolah. Jika aturan di sekolah tidak selaras dengan pola asuh di rumah, maka pembentukan karakter anak akan berjalan kurang optimal.
“Anak-anak kita adalah generasi digital. Tugas kita bukan melarang, tetapi membimbing. Dengan pengawasan yang tepat, teknologi bisa menjadi sarana belajar yang sangat efektif,” tegasnya.
Dengan pengelolaan yang baik, sekolah optimistis konsentrasi belajar siswa dapat meningkat dan prestasi di semester kedua ini dapat diraih secara lebih maksimal.
Melalui sosialisasi ini, SD Muhammadiyah 13 Surabaya menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi yang tidak hanya mahir dalam penggunaan teknologi (IT-literate), tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, serta mampu mengendalikan diri dalam memanfaatkannya.
Pendekatan edukatif ini menjadi bagian dari visi sekolah dalam membangun peserta didik yang cerdas secara akademik, matang secara emosional, dan bijak dalam menghadapi perkembangan zaman.
Dengan semangat kolaborasi dan penguatan karakter sejak dini, semester genap di SD Muhammadiyah 13 Surabaya diharapkan menjadi momentum baru untuk melahirkan generasi yang adaptif, berprestasi, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments