
PWMU.CO – Ada yang berbeda di ruang pertemuan GreenSA Inn & Training Center Hotel, Rabu (21/5/2025). Di tengah forum akademik yang biasanya didominasi suara dari balik meja dosen, hadir pula suara dari dunia praktik, suara sekolah, suara kehidupan nyata.
Suara itu datang dari SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman Sidoarjo—atau yang lebih dikenal sebagai SD Mumtaz.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SD Mumtaz, Heni Dwi Utami SSos SPd hadir sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Review dan Redesain Kurikulum yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
Dengan nada tenang namun sarat makna, ia menyampaikan perspektif tajam dari posisi sebagai pengguna (user) lulusan UINSA.
“Kami di sekolah tidak butuh lulusan yang hanya unggul di atas kertas. Kami butuh lulusan yang siap menghadapi dunia kerja yang dinamis, yang mampu mengelola manusia, bukan sekadar materi,” ujarnya mantap.
Heni menyoroti bahwa saat ini terdapat sekitar 35 alumni UINSA yang aktif berkontribusi di SD Mumtaz. Mereka mengabdi sebagai Guru Inklusi, Guru Bimbingan Konseling, Koordinator Program Inklusi, hingga Guru Al-Islam.
Tak hanya itu, mahasiswa UINSA juga secara rutin melaksanakan program magang dan MBKM di SD Mumtaz. Hubungan ini menjadi bukti nyata bahwa relasi antara dunia kampus dan dunia kerja telah terbentuk—tinggal bagaimana memperkuat jembatan yang menghubungkannya.
Ketika diminta memberikan masukan konkret, Heni menyampaikan dengan lugas namun santun, “Masukkan dalam kurikulum keterampilan yang benar-benar dibutuhkan di lapangan. Ajarkan komunikasi asertif, kemampuan membangun personal branding, serta pelayanan prima (excellent service). Bangun etos kerja tinggi, latih critical thinking, dan tambahkan kompetensi coaching sebagai penguatan dari konseling,” paparnya.
Tak hanya itu, Heni juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi pedagogi. “Calon guru perlu dibekali kemampuan melakukan observasi dini anak secara holistik, mampu merancang model pembelajaran yang sesuai dengan profil unik tiap siswa, serta memiliki kompetensi dasar dalam memberikan terapi atau intervensi sederhana bagi siswa berkebutuhan khusus, terutama dalam konteks sekolah inklusi,” tambahnya.
Ia menegaskan, keterampilan tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan merupakan roh dari profesi yang berurusan dengan manusia.
Terlebih di sekolah inklusi dan multitalenta seperti SD Mumtaz, guru dituntut tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga menjadi pembimbing, pendengar, motivator, bahkan pemimpin kecil dalam ruang kelas yang kompleks.
Sebagai moderator dari pihak UINSA, Dr Sokhi Huda MAg menyampaikan, FGD ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi para pengelola prodi. Dengan mengusung pendekatan Outcome-Based Education (OBE), proses redesain kurikulum ini bertujuan untuk menyesuaikan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
Mulai dari mengevaluasi kesenjangan antara isi kurikulum dan praktik lapangan, mengidentifikasi kompetensi utama yang dibutuhkan industri, hingga menyusun strategi kolaborasi jangka panjang antara kampus dan institusi pengguna lulusan.
Para peserta FGD tidak hanya diajak berpikir ulang tentang apa yang diajarkan, tetapi juga mengapa dan untuk siapa mereka mengajarkannya.
Kurikulum didorong agar lebih adaptif, komunikatif, dan relevan dengan zaman. Tidak boleh ada lagi ruang bagi pendidikan yang berjalan di menara gading, tanpa mendengar denyut nadi realitas.
Menutup sesi pemaparannya, Heni menyampaikan ajakan terbuka yang penuh semangat kolaborasi. “Kami siap menjadi mitra kampus, bukan hanya sebagai tempat praktik, tetapi juga sebagai cermin dunia nyata yang terus berubah. Mari kita desain masa depan pendidikan bersama, dengan semangat belajar yang tak pernah usai,” tuturnya.
Hari itu, di GreenSA Inn & Training Center Hotel, seolah tercipta sebuah kesepakatan sunyi namun bermakna, bahwa perubahan kurikulum bukan sekadar soal mengganti silabus, melainkan menanam harapan.
Tentang lahirnya generasi yang lebih siap, lebih tangguh, dan lebih bermakna bagi umat, masyarakat, dan bangsa.(*)
Penulis Tri Utami Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments