Berbagai lomba memeriahkan Semarak Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, Surabaya. Salah satunya adalah lomba Kreasi Jajanan Tradisional Berbahan Ubi yang diikuti oleh SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya pada Sabtu (1/11/2025).
Peserta dari SD Musix memilih kreasi jajanan tradisional berbahan ubi. Ubi diolah menjadi tiga jenis jajanan dengan rasa berbeda, yaitu Gethuk, Klepon, dan Serawut.
Berbeda dengan lomba tahun lalu yang hanya menekankan pada penyajian, tahun ini lomba mencakup seluruh proses, mulai dari perancangan, pengolahan, hingga penyajian.
“Saat ini, lombanya mulai dari merancang, mengolah, hingga menyajikan,” ujar salah satu peserta, Ninik Nur Faridah, S.Pd.
Tidak memakan waktu lama, setelah semua bahan siap, pekerjaan berat itu selesai dengan cepat.
“Alhamdulillah, sesuai durasi waktu yang ditetapkan panitia, dalam waktu 90 menit kami berhasil menyelesaikan semua jajanan yang akan kami sajikan,” ungkap Guru kelas 6-A, Khusnul Khotimah, S.Pd.
Setelah hidangan siap, dewan juri dari SMK Muhammadiyah 2 Surabaya datang untuk menilai. Mereka tampak serius mengamati hasil karya para peserta SD Musix.
Kreasi Serawut, berbahan dasar ketela pohon berwarna krem yang ditaburi parutan kelapa putih, dibuat menjadi tema bertuliskan MILAD. Di kanan dan kiri tema terdapat logo bertuliskan Muhammadiyah dalam tulisan Arab.
“Tumpeng yang kami buat tidak kami taburi kelapa supaya bisa lebih rapi,” jelas Guru kelas 2-ICP, Jihan Nurila, S.Pd.
Sementara itu, lanjutnya, bagian bawah tumpeng dihias dengan beberapa butir klepon yang membentuk angka 113, menandakan Milad ke-113 Muhammadiyah.
“Tape ini dibuat sendiri juga?,” goda salah satu juri dari SMK Muhammadiyah 2 sambil tersenyum.
Lalu Khusnul Khotimah menjawab bahwa tidak membuat tape sendiri karena kalau dibuat sendiri akan membutuhkan waktu dua hari sedangkan durasi lomba hanya 90 menit.
Dua juri tampak sangat menikmati karya tiga guru senior SD Musix tersebut.
“Apa filosofi dari gethuk tales ini?,” tanya juri.
Dengan lancar, Ninik, sapaan akrab Ninik Nur Faridah, yang juga guru Bahasa Jawa, menjelaskan filosofi jajanan tersebut sehingga juri terlihat sangat mengangguk setuju.
Filosofinya ada tiga, menurut Ninik:
1. Kesederhanaan dan keteguhan, mencerminkan orang Jawa yang nrimo ing pandum (menerima apa adanya).
2. Talas yang keras namun lembut setelah diolah, melambangkan manusia yang kuat menghadapi kesulitan hidup.
3. Warna lembut dan bentuk padat, menggambarkan kekompakan dan kebersamaan.
“Silakan dicicipi hidangan jajanan ndeso ini,” pungkas Ninik. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments