SD Muhammadiyah 1 Wringinanom (SD Muwri) menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada Selasa (1/10/2025) di halaman sekolah.
Upacara yang berlangsung khidmat tersebut memiliki nuansa istimewa karena seluruh petugas upacara berasal dari unsur guru dan karyawan sekolah. Mulai dari pemimpin upacara, pengibar bendera merah putih, pembaca teks UUD 1945, dirigen, doa, hingga petugas protokol semuanya dilaksanakan oleh bapak-ibu guru, serta karyawan SD Muwri.
Menariknya, pada upacara kali ini para petugas tidak mengenakan pakaian formal sebagaimana biasanya, melainkan kostum ala pahlawan kemerdekaan dan berbagai profesi.
Hal tersebut menandakan bahwa perjuangan dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh para prajurit di medan perang, melainkan juga melibatkan berbagai kalangan profesi. Semangat perjuangan itu pula yang menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini.
Selaku pembina upacara, hadir David Yulianto dari Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Wringinanom. Beliau tampil dengan mengenakan kostum Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam). Pakaian itu dipilih bukan tanpa alasan.
Selain memperingati Hari Kesaktian Pancasila, tanggal 1 Oktober juga bertepatan dengan hari berdirinya Kokam, sebuah organisasi otonom Muhammadiyah yang lahir sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa serta membela ideologi Pancasila.
Dalam amanatnya, David menyampaikan pesan mendalam mengenai arti penting Hari Kesaktian Pancasila. Ia menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan, melainkan momentum untuk kembali meneguhkan tekad dalam menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
“Perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan Pancasila tidaklah mudah. Mereka berkorban jiwa, raga, dan tenaga demi tetap tegaknya ideologi negara kita.
Tugas kita hari ini sebagai generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, menjaga persatuan, dan berkontribusi untuk keutuhan NKRI. Bagi para pelajar, perjuangan itu diwujudkan dengan semangat belajar yang sungguh-sungguh,” ungkap David di hadapan ratusan siswa SD Muwri.
Upacara berjalan lancar dan penuh semangat. Pengibaran bendera merah putih dilakukan oleh tiga orang guru yang mengenakan kostum ala TNI Angkatan Darat, memberikan suasana heroik di halaman sekolah.
Suasana makin terasa khidmat saat lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta berkumandang. Anak-anak tampak antusias menyaksikan para gurunya berperan sebagai petugas, sesuatu yang jarang mereka lihat dalam keseharian.
Menurut Kepala SD Muwri, Kholiq Idris yang bertugas menjadi pemimpin upacara, kegiatan ini dirancang agar siswa memiliki pengalaman berbeda dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
“Biasanya petugas upacara selalu dari siswa, tetapi tahun ini kami sengaja memberikan nuansa baru dengan melibatkan guru dan karyawan. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa perjuangan dan pengabdian dapat dilakukan siapa saja sesuai dengan perannya masing-masing,” jelasnya.
Selain itu, pemilihan kostum pahlawan dan profesi juga memiliki makna simbolis. Guru-guru yang mengenakan pakaian pejuang, tentara, maupun profesi lain seperti dokter dan petani menunjukkan bahwa semua elemen bangsa memiliki andil dalam mempertahankan Pancasila.
Hal ini sejalan dengan nilai gotong royong yang terkandung dalam sila ketiga dan kelima Pancasila, yaitu persatuan Indonesia serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Upacara diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta karyawan dengan penuh semangat. Para siswa duduk dengan tertib, menyimak setiap prosesi, hingga mendengarkan amanat pembina dengan penuh perhatian.
Banyak dari mereka mengaku terkesan melihat para guru tampil berbeda dengan balutan kostum perjuangan. Beberapa siswa bahkan memberikan tepuk tangan riuh setelah prosesi upacara selesai.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SD Muwri tahun ini diharapkan menjadi sarana edukasi yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Tidak hanya sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini kepada para siswa. Pihak sekolah berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan kreatif yang mendidik serta menanamkan cinta tanah air.
Dengan penuh khidmat, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh guru al-Quran, Siti Naimah, S.Pd. Seluruh hadirin berdoa agar bangsa Indonesia senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI.
Hari itu, SD Muwri berhasil menunjukkan bahwa upacara bendera bukan sekadar rutinitas, tetapi juga wahana membangun karakter, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur demi tegaknya ideologi negara.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments