Pagi yang cerah di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik terasa begitu hidup, khususnya di kelas III Edelweis. Pada Selasa pagi (9/9/2025), Tim Matematika SDMM menggelar kegiatan “Buka Kelas” dengan Nisfil Mafidah, S.Pd. sebagai guru model.
Kehadiran para guru matematika SDMM dalam kesempatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah observasi penting untuk melihat bagaimana murid-murid belajar sesuai dengan lesson design yang telah mereka susun bersama sebelumnya.
Di ruang kelas yang penuh warna, puluhan murid kelas III tampak antusias menyiapkan peralatan belajar mereka. Di setiap meja kelompok, telah tersedia potongan-potongan kertas kotak berwarna-warni yang akan digunakan sebagai media pembelajaran konsep perkalian.
Suara canda tawa dan obrolan kecil anak-anak memenuhi ruangan, namun segera berubah menjadi fokus ketika Nisfil Mafidah memulai pembelajaran.
“Hari ini kita akan belajar perkalian dengan cara yang menyenangkan. Kalian akan bermain dengan kotak-kotak ini untuk memahami bagaimana perkalian bekerja,” ujar Nisfil dengan senyum ramah yang menenangkan para siswa.
Inovasi Pembelajaran: Bar Models untuk Konsep Perkalian
Lesson design yang dikembangkan oleh Tim Matematika SDMM kali ini sengaja dirancang berbeda dari pembelajaran matematika konvensional. Alih-alih menghafalkan rumus perkalian, siswa diajak memahami konsep dasar perkalian melalui pendekatan visual dan konkret, menggunakan bar models atau potongan kertas kotak-kotak sebagai media belajar.
“Bar models ini sangat efektif untuk membantu anak-anak memvisualisasikan konsep perkalian. Dengan menyusun kotak-kotak ini, mereka bisa melihat bahwa 3 × 4 sama dengan 3 kelompok yang masing-masing berisi 4 kotak. Cara ini jauh lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar menghafal fakta perkalian,” jelas Nisfil saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Metode ini dipilih berdasarkan pertimbangan mendalam dari Tim Matematika SDMM. Mereka menyadari bahwa banyak murid sekolah dasar yang kesulitan memahami konsep abstrak perkalian jika hanya diajarkan secara simbolis.
Dengan menggunakan manipulatif fisik berupa potongan kertas kotak-kotak, konsep matematika yang abstrak dapat dikonkretkan sehingga lebih mudah dipahami oleh anak-anak usia sekolah dasar.
Proses Belajar: Kolaborasi dan Kreativitas dalam Kelompok
Setelah mendengarkan penjelasan singkat dari guru, para murid segera bergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang telah dibentuk sebelumnya. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anak dengan berbagai tingkat kemampuan, sengaja diatur demikian untuk memfasilitasi pembelajaran kolaboratif.
Di salah satu sudut kelas, sebuah kelompok yang terdiri dari empat siswa tampak serius menyusun kotak-kotak kecil menjadi bar models. Mereka berdiskusi dengan antusias untuk menyelesaikan tugas pertama, yaitu menyusun model untuk operasi 2 x 3.
“Kita buat dua baris, masing-masing tiga kotak,” usul salah satu anak dengan semangat.
Anak lain menimpali sambil menyusun enam kotak menjadi dua baris berjajar, “Iya, kayak gini nih.”
Murid lainnya kemudian menghitung ulang untuk memastikan, lalu berseru, “Benar, enam kotak. Berarti 2 x 3= 6,” dengan mata berbinar penuh antusiasme.
Di kelompok lain, terlihat beberapa murid mengalami kesulitan dalam menyusun model untuk 4 x 5. Namun, bukannya menyerah, mereka justru semakin termotivasi untuk mencoba berbagai cara hingga akhirnya menemukan pola yang tepat.
Nisfil dan guru-guru matematika lainnya yang hadir berkeliling kelas, sesekali memberikan arahan tanpa langsung memberikan jawaban, memberi ruang bagi anak-anak untuk menemukan solusi sendiri.
Menarik untuk diamati bagaimana dinamika kelompok berlangsung. Ada siswa yang menjadi pemimpin alami, ada yang aktif mengajukan pertanyaan, ada yang teliti dalam menghitung, serta yang kreatif menemukan pola alternatif.
Semua peran tersebut saling melengkapi dan menciptakan proses pembelajaran yang kaya akan berbagai dimensi. Setelah itu, mereka mempresentasikan model hasil temuan mereka di depan teman-teman.
SOLO Taxonomy: Mengukur Kedalaman Pemahaman
Salah satu aspek penting dari lesson design yang dikembangkan Tim Matematika SDMM adalah penerapan SOLO Taxonomy (Structure of Observed Learning Outcomes) untuk mengukur kedalaman pemahaman siswa.
SOLO Taxonomy adalah kerangka kerja yang mengkategorikan tingkat pemahaman siswa menjadi lima tingkatan: pre-structural, uni-structural, multi-structural, relational, dan extended abstract.
“Kami sengaja menyusun aktivitas pembelajaran ini agar pemahaman akhir anak minimal berada di tahap relasional, bahkan diharapkan bisa mencapai extended abstract,” jelas Nisfil.
Ia menyampaikan bahwa pada tahap relasional, anak sudah mampu menghubungkan berbagai konsep dan mengenali pola, sedangkan pada tahap extended abstract, mereka dapat menggeneralisasi serta menerapkan konsep tersebut ke situasi baru.
Dari hasil observasi yang dilakukan, terlihat bahwa sebagian besar murid telah mencapai tahap relasional, bahkan beberapa di antaranya sudah menunjukkan indikator pada tahap extended abstract.
Puzzle Perkalian: Aplikasi Menyenangkan di Akhir Pembelajaran
Setelah selesai dengan aktivitas utama menyusun bar models, pembelajaran dilanjutkan dengan permainan puzzle yang mendapat sambutan luar biasa dari para siswa.
Puzzle ini terdiri dari kepingan-kepingan gambar yang masing-masing memiliki nomor yang merupakan hasil perkalian dari soal-soal di papan perkalian.
“Siapa yang bisa menyusun puzzle ini dengan benar?,” tantang Nisfil. Seketika, puluhan tangan terangkat tinggi menjulang.
Para murid dibagi menjadi beberapa kelompok besar, masing-masing mendapatkan satu set puzzle yang berbeda. Tugas mereka adalah mencocokkan nomor pada kepingan puzzle dengan hasil perkalian yang tertulis di papan, kemudian menyusun kepingan tersebut menjadi gambar utuh yang besar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments