Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sebelum Dunia Menggelapkan Hati Kita

Iklan Landscape Smamda
Sebelum Dunia Menggelapkan Hati Kita
Foto: Pexels
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Ayat ini menjadi panggilan lembut dari Allah agar manusia tidak hanya sibuk memperindah tampilan luar, tetapi lebih dalam dari itu: membersihkan jiwa (nafs) yang menjadi inti kehidupan.

Jiwa yang suci akan memancarkan cahaya iman, sedangkan jiwa yang kotor akan menimbulkan gelisah, iri, dengki, dan jauh dari ketenangan.

Sering kali kita berdiri lama di depan cermin, memastikan wajah bersih dan rapi. Tapi, kapan terakhir kali kita memeriksa cermin hati kita?

Betapa sering kita membiarkan debu dosa menumpuk: amarah yang tak terkendali, prasangka buruk, dan kesombongan halus yang bersemayam tanpa disadari.

Rasulullah saw bersabda: “Ketika seorang hamba melakukan dosa, maka titik hitam akan muncul di hatinya. Jika ia bertobat dan memohon ampun, hatinya akan menjadi bersih. Namun jika ia terus mengulang dosa itu, maka titik hitam tersebut akan semakin menutupi hatinya.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa penyucian jiwa bukanlah peristiwa sekali jadi, tetapi perjalanan panjang yang harus dilakukan dengan kesungguhan.

Setiap kali kita berbuat salah, Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Namun, kita harus mau membersihkan noda itu dengan taubat, dzikir, dan amal saleh.

“Yaa Allah yaa Ghafur, kami datang bukan membawa pahala, tapi membawa aib yang tak terhitung. Kami malu, tapi kepada siapa lagi kami kembali kalau bukan kepadaMu?”

Doa ini mengingatkan kita akan hakikat manusia: penuh kelemahan dan kekhilafan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh, maka sesungguhnya dia kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 71)

Seorang ulama sufi pernah berkata, “Orang yang paling dekat dengan Allah bukanlah yang tak pernah berdosa, tapi yang setiap kali jatuh segera bangkit untuk kembali kepada-Nya.”

Kita semua pernah jatuh dalam lumpur dosa. Namun, Allah tidak menolak hamba yang datang dengan hati hancur dan air mata penyesalan. Seperti tanah yang gersang menanti hujan, hati yang berdosa pun menanti tetes rahmat dari Allah Yang Maha Pengampun.

Pertempuran dalam Diri

“Yaa Allah yaa Hadi, tunjukkan kami jalan orang-orang yang Engkau sucikan jiwanya. Beri kami kekuatan untuk melawan hawa nafsu yang terus menggoda dan menjatuhkan.”

Rasulullah saw  pernah bersabda setelah pulang dari perang besar:

“Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.”
Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.” (HR. Baihaqi)

Betapa sulit menundukkan nafsu—entah nafsu amarah, keinginan dunia, atau keinginan untuk dipuji. Nafsu itu seperti api kecil dalam sekam; jika tidak dikendalikan, ia bisa membakar seluruh amal dan keikhlasan kita.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, menyucikan jiwa berarti menolak untuk larut dalam keserakahan, menjaga lisan dari fitnah, dan menahan diri dari riya’ di media sosial. Orang yang jiwanya bersih tidak berlomba menampilkan kebaikan, tetapi menanamnya dalam diam.

“Yaa Allah yaa Nur, terangilah hati kami yang gelap oleh dunia. Jangan biarkan kami mencintai dunia yang fana lebih daripada mencintaiMu yang abadi.”

Allah menggambarkan hati orang beriman sebagai tempat cahaya:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi… Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nur: 35)

Cahaya itu muncul dari dzikir dan amal saleh. Hati yang sering berdzikir tidak mudah gelap, karena selalu tersambung dengan sumber cahaya itu sendiri: Allah.

Ilustrasinya seperti lentera di malam yang pekat. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menyesatkan arah, hanya hati yang bercahaya yang mampu menunjukkan jalan pulang kepada Tuhan.

“Yaa Allah yaa Tawwab, bimbing kami dalam tobat yang tak sekadar di lisan. Jadikan kami bagian dari hambaMu yang beruntung karena berhasil menyucikan jiwa.”

Taubat sejati bukan hanya menyesali dosa, tapi juga berani berubah. Dalam hadis disebutkan:

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. Tirmidzi)

Menyucikan jiwa berarti berani meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan kebaikan. Orang yang dulu sombong, kini belajar rendah hati. Yang dulu pendendam, kini belajar memaafkan. Yang dulu lalai salat, kini menegakkan salat dengan khusyuk.

Karena, pada akhirnya, kesucian jiwa bukan diukur dari banyaknya amal, tapi dari seberapa tulus kita kembali kepada Allah setiap kali kita tersesat.

Perjalanan Panjang Menuju Kesucian

Menyucikan jiwa adalah perjalanan seumur hidup. Tak ada manusia yang benar-benar suci, tapi setiap kita bisa berusaha untuk selalu dibersihkan oleh ampunan dan rahmat Allah.

“Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Maka marilah kita berdoa:

Yaa Allah, sucikanlah hati kami dari riya, dengki, dan kesombongan. Jadikan setiap langkah kami menuju cahaya-Mu. Dan bimbing kami agar mati dalam keadaan jiwa yang tenang — jiwa yang Engkau panggil dengan lembut: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridai.” (QS. Al-Fajr: 27–28).

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu