Di tengah hiruk pikuk November, 25 November selalu terasa berbeda. Hari Guru Nasional bukan hanya momen di kalender, melainkan sebuah festival rasa syukur yang tulus dari jutaan siswa. Pagi di sekolah terasa lebih hangat, bukan karena matahari, melainkan karena getaran emosional yang dibawa oleh setiap langkah murid menuju gerbang.
Fenomena yang paling mengharukan adalah banjir ucapan dan bingkisan sederhana yang membanjiri meja para pendidik. Mulai dari setangkai mawar layu yang dipetik di halaman rumah, kartu ucapan tulisan tangan yang penuh coretan tinta, hingga kotak bekal berisi masakan ibu, semua itu adalah simbol, simbol dari ungkapan terima kasih yang seringkali sulit diucapkan dengan kata-kata.
Ucapan “Selamat Hari Guru” yang disertai bingkisan itu sebetulnya adalah pengakuan atas peran multidimensi yang diemban seorang guru. Mereka adalah pahlawan sejati di ruang kelas yang memberikan lebih dari sekadar materi pelajaran.
Seorang guru adalah pembuka pintu pengetahuan. Mereka bukan hanya menjejalkan rumus, tanggal sejarah, atau teori, tetapi mereka mengajarkan cara berpikir kritis, cara menghubungkan titik-titik fakta, dan yang terpenting, cara menumbuhkan rasa ingin tahu.
Tanpa ilmu yang mereka berikan, cakrawala masa depan siswa akan terbatas. Mereka memastikan bahwa setiap anak memiliki bekal intelektual untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Figur Kedua Orang Tua
Di balik papan tulis dan tumpukan buku nilai, seorang guru adalah figur kedua orang tua. Mereka memperhatikan hal-hal kecil: senyum yang pudar, penurunan semangat belajar, atau bahkan masalah pribadi yang membebani pikiran seorang siswa.
Guru mendidik dengan hati. Mereka tahu kapan harus tegas dan kapan harus merangkul. Mereka mampu melihat potensi di balik kenakalan, dan mampu memberikan motivasi saat seorang siswa merasa gagal.
Perhatian inilah yang membuat ikatan antara guru dan murid tidak hanya bersifat transaksional (mengajar-belajar), tetapi bersifat emosional dan kekeluargaan. Bingkisan itu adalah balasan atas perhatian tak terhingga yang telah mereka curahkan.
Namun, apa balasan yang paling tulus dan berharga dari seorang guru atas segala ucapan syukur dan bingkisan yang mereka terima? Jawabannya sungguh mulia: doa.
Ketika seorang guru membuka bingkisan, membaca kartu ucapan, atau sekadar melihat wajah muridnya yang berseri-seri, balasan terbaik yang keluar dari hati mereka bukanlah ucapan terima kasih lisan semata. Melainkan, sebuah doa yang diam-diam dipanjatkan untuk murid-muridnya:
“Ya Allah, jadikanlah ilmu yang telah kuberikan bermanfaat bagi mereka. Lindungilah langkah mereka. Kuatkanlah mental mereka dalam menghadapi ujian hidup. Jadikanlah mereka anak-anak yang shalih/shalihah, sukses, dan berguna bagi bangsa dan agama.”
Doa ini adalah esensi dari pengabdian. Seorang guru menyadari bahwa keberhasilan sejati muridnya melampaui nilai di rapor; ia terletak pada bagaimana murid tersebut hidup sebagai manusia yang bermakna.
Mereka memberikan segalanya, dan sebagai imbalannya, mereka hanya mengharapkan yang terbaik bagi masa depan anak didiknya, sebuah masa depan yang hanya bisa dijamin oleh kehendak Tuhan.
Profesi Abadi
Hari Guru adalah pengakuan bahwa profesi ini adalah profesi abadi yang tidak mengenal kata “mantan.” Setiap kartu, setiap bingkisan, dan setiap ucapan syukur dari siswa menegaskan bahwa guru adalah pilar ingatan, moral, dan ilmu yang akan selalu hidup dalam hati mereka.
Namun, di balik kegembiraan menerima ungkapan syukur berupa bingkisan, sebetulnya hati seorang guru jauh lebih tersentuh oleh hal yang tak terlihat: doa tulus dari murid-muridnya. Guru tidak pernah berharap mendapatkan balasan materi yang berlimpah; bagi mereka, melihat muridnya tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan sukses dalam hidup sudah merupakan hadiah terindah yang tak ternilai harganya.
Mereka memahami bahwa bingkisan fisik hanyalah simbol, sementara doa yang dipanjatkan oleh anak didik adalah investasi spiritual yang abadi, yang diharapkan akan menjadi pahala jariyah bagi sang guru hingga di akhirat kelak. Maka, jika ada satu hadiah yang paling dinantikan guru, itu adalah ucapan syukur yang disertai doa tulus agar mereka senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan dalam mengemban amanah mulia ini.
Maka, mari kita jadikan Hari Guru bukan hanya sebagai perayaan formal, tetapi sebagai waktu untuk mengenang dan mendoakan para pendidik kita, yang telah memberikan ilmu, perhatian, dan hati mereka tanpa pernah meminta imbalan, selain kesuksesan kita. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments