Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) PWM Jawa Timur bekerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE) Singapura menyelenggarakan kajian menjelang berbuka puasa pada Jumat, (13/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Harris Gubeng Surabaya ini menghadirkan Dr. Eko Hardiansyah, M.Psi., Sekretaris Majelis Dikdasmen & PNF PWM Jawa Timur, sebagai pemateri utama.
Dalam kajian tersebut, Dr. Eko Hardiansyah mengulas makna kesuksesan tokoh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan. Menurutnya, kesuksesan Ahmad Dahlan dapat dilihat dari dua sisi.
Pertama, kesuksesan Muhammadiyah yang ditandai dengan berkembangnya jumlah amal usaha, meluasnya jaringan hingga tingkat global, serta semakin bertambahnya jumlah anggota. Kedua, kesuksesan pribadi Ahmad Dahlan yang diyakini memperoleh kebahagiaan di alam barzah sebagai buah dari perjuangan dan pengabdian yang telah dilakukannya semasa hidup.
Dr. Eko menjelaskan bahwa kunci kesuksesan Ahmad Dahlan dapat dirangkum dalam konsep “Segitiga Sukses Ahmad Dahlan” yang terdiri atas tiga pilar utama, yakni ilmu, ta’awun, dan tauhid.
Pilar pertama adalah ilmu yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan janji Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dari pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan.
Sikap Ahmad Dahlan terhadap ilmu menjadi teladan penting bagi umat. Sejak muda, ia rela berkelana jauh demi menuntut ilmu, termasuk belajar di Mekkah pada usia 15 tahun selama lima tahun, lalu kembali lagi pada tahun 1903 selama dua tahun.
Ia juga memiliki cakrawala keilmuan yang luas dengan berguru kepada sekitar 15 ulama dan tokoh. Selain itu, Ahmad Dahlan dikenal memiliki pikiran terbuka untuk mempelajari hal-hal baru serta memiliki semangat belajar yang tinggi dan sikap kritis terhadap berbagai persoalan kontekstual.
Ilmu adalah Darah Daging Muhammadiyah
Dalam refleksi pendidikan Muhammadiyah, Dr. Eko menegaskan bahwa ilmu merupakan darah daging Muhammadiyah, sedangkan guru adalah tubuhnya. Oleh karena itu, kompetensi guru perlu terus dievaluasi melalui beberapa aspek, antara lain kualifikasi, frekuensi eksplorasi ilmu, intensitas mengikuti pelatihan, keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum, linieritas bidang keilmuan, serta habituasi yang bersumber pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Taawun
Pilar kedua adalah ta’awun atau semangat tolong-menolong yang menjadikan kehidupan lebih produktif. Prinsip ini didasarkan pada perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. Menurut Dr. Eko, kehidupan yang dilandasi semangat ta’awun akan membuat beban berat menjadi lebih ringan, kebaikan tersebar luas, dan produktivitas meningkat.
Ahmad Dahlan telah mencontohkan nilai ta’awun melalui berbagai tindakan nyata. Ia menerapkan teologi Al-Ma’un yang menekankan pelayanan kepada sesama tanpa memandang latar belakang.
Ia juga rela mengorbankan harta pribadinya untuk kepentingan dakwah dan pendidikan. Selain itu, Ahmad Dahlan mendirikan berbagai lembaga dan amal usaha Muhammadiyah serta dikenal mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang elegan dan penuh kebijaksanaan.
Dalam konteks masa kini, gerakan ta’awun Muhammadiyah dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kerja bersama, seperti sinergi, kolaborasi, solidaritas, ukhuwah, komitmen berjamaah, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Tauhid
Pilar ketiga adalah tauhid sebagai fondasi paling mendasar dalam kehidupan. Keyakinan tauhid yang lurus akan membuat seseorang lebih mudah menghadapi berbagai persoalan hidup. Landasan ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an untuk menyembah hanya kepada-Nya agar manusia mencapai derajat takwa.
Keteguhan tauhid Ahmad Dahlan terlihat dari berbagai sikap istiqamahnya dalam berdakwah. Ia tetap menghadiri pengajian meskipun sedang sakit dan diminta untuk beristirahat.
Ia juga berani meluruskan arah kiblat Masjid Gede Kauman meskipun menuai perdebatan. Bahkan, ia tetap istiqamah bergerak meskipun mendapat penolakan keras hingga pernah disebut sebagai “Kyai Kafir”. Ancaman pembunuhan pun tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mengajar dan berdakwah.
Sebagai refleksi, Dr. Eko menegaskan bahwa tauhid merupakan ruh Muhammadiyah yang menghidupkan seluruh gerakan persyarikatan.
Implementasi nilai tauhid tersebut dapat dilihat melalui beberapa indikator, seperti orientasi niat yang hanya ditujukan kepada Allah, komitmen dalam menjalankan amanah, keberanian menghadapi tantangan, kemampuan berinovasi dalam menyelesaikan masalah, keikhlasan sistemik yang mendahulukan kepentingan persyarikatan, serta kesabaran dalam menuntaskan setiap persoalan dengan hati yang lapang.
Mengakhiri kajian tersebut, Dr. Eko menyampaikan pesan reflektif tentang makna tauhid dalam kehidupan. Menurutnya, hidup akan terasa lebih mudah ketika tauhid seseorang lurus. Ketika harapan sepenuhnya digantungkan kepada Allah, maka berbagai kesulitan hidup tidak akan mampu mematahkan semangat dan keteguhan hati. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments