Sejarah takbiran Idulfitri tidak dapat dipisahkan dari tradisi umat Islam mengumandangkan kalimat takbir pada malam hari raya. Di Indonesia, momentum ini kerap dirayakan dengan pawai takbiran yang meramaikan masjid, jalan kampung, hingga alun-alun kota.
Lantunan “Allahu Akbar” yang menggema bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi ungkapan syukur dan pengagungan kepada Allah SWT setelah umat Islam menuntaskan ibadah puasa Ramadan.
Takbiran sendiri merupakan kebiasaan umat Islam melafalkan kalimat takbir untuk membesarkan dan mengagungkan Allah SWT.
Tradisi ini umumnya dilakukan pada malam Idulfitri dan Iduladha sebagai simbol kemenangan spiritual sekaligus ungkapan rasa syukur atas nikmat dan petunjuk yang diberikan Allah.
Takbiran yang dilakukan masyarakat Indonesia umumnya berbunyi sebagai berikut:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Artinya, “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.”
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dartim, S.Pd., M.Pd. mengatakan takbiran berarti mengagungkan dan membesarkan Allah melalui nama-nama-Nya.
“Takbiran itu membesarkan via nama-nama-Nya, membesarkan via kalimat-kalimat-Nya, membesarkan termasuk dengan kita merenungkan segala penciptaan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Dartim, Rabu (11/3/2026).
Lantas bagaimanakah Islam memandang takbiran?
Asal Usul Takbiran
Dartim menjelaskan takbiran secara bahasa berasal dari kata kabaro. Kabaro memiliki arti mengagungkan atau membesarkan.
“Ini sebagaimana salah satu nama Allah, yakni Al-Akbar, yang artinya Maha Besar. Ini juga identik dengan kalimat takbir yang sering kita lafalkan, yaitu Allahu Akbar,” katanya.
Perintah bertakbir telah Allah firmankan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
Dartim menjelaskan ayat tersebut menjadi dasar Tarjih Muhammadiyah dalam melaksanakan perintah takbiran menjelang Idulfitri.
“Jadi setelah selesai atau menyempurnakan hitungan bulan Ramadan atau berpuasa di bulan Ramadan, maka hari berikutnya mulailah untuk kumandangkan takbir,” imbuh Dartim.
Di zaman Rasulullah saw, umat Islam mengumandangkan takbir menjelang salat Idulfitri. Kebiasaan ini terekam dalam hadis riwayat asy-Syafi’i yang berbunyi:
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir.” (HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis no. 444 dan 445).
Tradisi takbiran kemudian berkembang di Indonesia seiring masuknya Islam ke Nusantara sejak abad ke-13 melalui para ulama dan saudagar Timur Tengah. Pada masa Kesultanan Demak, takbiran dilakukan di masjid dan di alun-alun.
Seiring waktu, takbiran mulai berkembang di Indonesia. Tradisi takbiran kemudian diwarnai dengan parade mobil hias, pawai obor, hingga memanfaatkan media elektronik dan digital.
Makna Takbiran
Takbiran memiliki makna membesarkan Allah, sekaligus meyakinkan manusia untuk tidak berlaku sombong. Sebab, hanya Allah-lah yang pantas merasa besar.
“Karena manusia memang kecil, sehingga tidak pantas kalau merasa besar karena Allah yang seharusnya kita agungkan,” katanya.
Takbiran adalah bentuk taqarrub, yakni cara diri mendekatkan kepada Allah SWT. Takbiran menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Lantunan takbir pada momentum Idulfitri juga bermakna suka cita menyambut datangnya hari kemenangan. Takbir menjadi tanda bahwa umat Islam berhasil melalui ujian sepanjang bulan suci Ramadan. Kemenangan ini ditandai dengan ketakwaan kepada Allah, meningkatnya amal ibadah, dan kemenangan spiritual.
Salah satu Hadis Riwayat Ahmad menyebutkan, Rasulullah SAW bersabda bahwa takbiran dapat melebur dosa yang telah lalu.
Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal itu dapat melebur dosa-dosa. (HR. Ahmad)
“Dengan kita bertakbiran, dengan kita mengagungkan nama Allah, kita menyaksikan ayat-ayat Allah yang sangat besar itu dalam rangka kita itu menjadi orang yang bersyukur. Nah jadi wujud rasa syukur kita itu adalah dengan berzikir, salah satunya adalah dengan takbiran,” tutur Dartim.
Takbiran Menurut Muhammadiyah
Tradisi takbiran di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara. Sebagian memilih mengumandangkan takbir menggunakan pengeras suara di masjid. Sebagian lainnya memilih untuk berpawai keliling kampung sambil memukul beduk dan menyalakan obor.
Lantas bagaimana pandangan Muhammadiyah terhadap tradisi takbiran masyarakat Indonesia?
Dartim menjelaskan esensi takbiran adalah syiar agama Islam. Syiar tersebut bertujuan untuk menggelorakan semangat Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam).
Ketika takbiran memiliki unsur yang merusak, seperti penggunaan pengeras suara berlebihan atau sound horek, hingga atraksi pawai yang berbahaya, maka esensi rahmatan lil ‘alamin dalam takbiran berpotensi buyar.
“Bukan takbirannya yang bermasalah, tapi cara kita membawakannya apakah sudah sesuai dengan rahmatan lil ‘alamin tersebut. Kunci sebenarnya kan mensyiarkan Islam,” beber dia.
Muhammadiyah, kata dia, berpandangan jangan sampai takbiran menggunakan hal-hal yang merusak. Mengingat kini takbiran cenderung mengedepankan euforianya ketimbang memaknai filosofi takbiran. Contohnya berkeliling dengan memutar lagu-lagu yang kurang pantas dengan semangat takbiran.
Dartim mengajak umat Islam untuk kembali memaknai takbiran sebagai momentum syiar dan mendekatkan diri pada Allah. Perayaan yang menyeleweng hendaknya dihentikan untuk mengembalikan fitrah takbiran sebagaimana mestinya.
“Saya rasa ini menjadi hal yang harus diperhatikan di mana takbiran itu esensinya adalah ingat kepada Allah. Tapi ketika dikemas dengan mungkin mengatasnamakan budaya yang tidak relevan dengan semangat takbiran itu sendiri, maka ini juga menjadi kurang pantas,” tegasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments