Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekolah Muhammadiyah: Antara Idealisme, Identitas, dan Realitas

Iklan Landscape Smamda
Sekolah Muhammadiyah: Antara Idealisme, Identitas, dan Realitas
Asri Muhammad. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Asruri Muhammad Pegiat Dakwah Muhammadiyah
pwmu.co -

Di banyak daerah, sekolah Muhammadiyah berdiri megah dengan gedung bertingkat, fasilitas lengkap, dan seragam yang khas. Spanduk dan brosur promosi menampilkan slogan besar: “Sekolah Berbasis Islam dan Berkemajuan.”

Namun di balik kemegahan itu, muncul pertanyaan mendasar yang patut direnungkan bersama: apakah ruh Muhammadiyah benar-benar hidup di dalam sekolah-sekolah tersebut?

Apakah siswa, guru, dan pengelola masih memahami tujuan awal pendirian sekolah Muhammadiyah, ataukah semuanya telah larut dalam rutinitas administratif dan kompetisi pasar pendidikan?

Ketika Sekolah Menjadi Merek

Tidak sedikit sekolah Muhammadiyah hari ini dikenal bukan karena semangat gerakannya, melainkan karena prestasi akademik dan kelengkapan fasilitas. Identitas Muhammadiyah kerap berhenti pada nama dan logo, sementara ruhnya perlahan memudar.

Sekolah berlomba meniru sistem pendidikan umum: unggul dalam nilai ujian, menjuarai lomba, mencetak prestasi olimpiade. Semua itu tentu penting. Namun ketika misi ideologis terlupakan, sekolah kehilangan arah dasarnya.

Padahal, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah bukan sekadar untuk mencetak orang pandai, melainkan manusia yang memahami ilmunya dan mengabdikan diri bagi masyarakat. Ketika orientasi itu bergeser, sekolah mungkin sukses secara administratif, tetapi gagal secara ideologis.

Antara Idealisme dan Tuntutan Zaman

Menjaga idealisme di tengah tuntutan zaman memang tidak mudah. Sekolah dituntut bersaing dalam kualitas, akreditasi, dan pemasaran. Orang tua memilih sekolah karena label “favorit”, bukan karena nilai gerakan.

Kondisi ini mendorong sebagian sekolah Muhammadiyah menyesuaikan diri dengan logika pasar, bahkan sampai kehilangan distingsi jati dirinya. Di titik inilah ujian sesungguhnya muncul: mampukah sekolah Muhammadiyah tetap berkemajuan tanpa kehilangan identitas?

Kemajuan sejati bukan hanya modernisasi fasilitas, tetapi modernisasi nilai—kemampuan menjawab zaman tanpa kehilangan arah ilahi. Sekolah Muhammadiyah perlu terus bertanya pada dirinya sendiri: apakah kita mendidik generasi pencinta Allah, atau sekadar pemburu ijazah?

Ruh Gerakan di Tengah Kompetisi

Dalam banyak forum rapat sekolah, pembahasan sering berkisar pada dana BOS, target PPDB, dan strategi promosi. Sangat jarang dibicarakan bagaimana menumbuhkan ruh gerakan di kalangan guru dan siswa.

Padahal tanpa ruh itu, seluruh aktivitas pendidikan menjadi kering dan kehilangan makna. Ruh Muhammadiyah adalah semangat tajdid—pembaruan dalam berpikir dan beramal. Ruh ini semestinya hadir dalam setiap kebijakan sekolah.

Ketika kurikulum disusun, ada semangat amar ma’ruf nahi munkar.

Ketika fasilitas dibangun, ada niat memudahkan dakwah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketika siswa dididik, ada cita-cita melahirkan kader umat dan bangsa.

Ruh tersebut tidak lahir dari spanduk atau visi-misi di dinding, tetapi dari keteladanan dan konsistensi para pengelola sekolah.

Menemukan Kembali Wajah Sekolah Muhammadiyah

Sekolah Muhammadiyah sejatinya adalah ruang yang berbeda. Siswa tidak hanya diajarkan pandai berhitung, tetapi juga pandai bersyukur. Guru tidak hanya kompeten mengajar, tetapi juga berkomitmen berdakwah.

Bayangkan jika setiap guru memandang dirinya bukan sekadar pegawai, melainkan mubaligh yang berdiri di ruang kelas. Maka setiap pelajaran menjadi ladang dakwah, setiap tugas menjadi sarana menanam nilai.

Begitu pula kepala sekolah. Ia bukan hanya administrator, tetapi penggerak gerakan. Nilai Muhammadiyah tidak ditanamkan lewat pidato seremonial, melainkan melalui kebijakan dan keteladanan sehari-hari.

Dari Sekolah ke Gerakan

Sekolah Muhammadiyah adalah bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Jika sekolah gagal menumbuhkan kecintaan terhadap gerakan, maka mata rantai perjuangan akan terputus.

Karena itu, tugas utama sekolah bukan hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan penerus. Sudah saatnya sekolah Muhammadiyah dikenal tidak hanya karena kualitas akademiknya, tetapi juga karena jiwa keikhlasan, semangat kebersamaan, dan kepedulian sosialnya.

Identitas sejati Muhammadiyah tidak terletak pada logo, melainkan pada jiwa gerakan yang hidup di hati warga sekolah.

Penutup

Sekolah Muhammadiyah hari ini berada di persimpangan: antara menjaga identitas gerakan dan memenuhi tuntutan zaman. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, selama arah kompas tetap jelas—pendidikan sebagai ladang dakwah dan pembentukan insan berkemajuan.

Ketika ruh itu kembali dihidupkan, sekolah Muhammadiyah tidak hanya akan melahirkan siswa berprestasi, tetapi juga kader yang tercerahkan dan berjiwa gerakan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu