
PWMU.CO – Kisah-kisah mukjizat nabi di dalam Alquran bukan hanya bertujuan untuk dongeng. Lebih dari itu, ada ibrah yang harus diambil manusia dari kisah-kisah terdahulu.
Seperti disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr H Abdul Mu’ti MEd pada gelaran Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Politik 2019 dan Kemandirian Bangsa memperingati Milad Ke-106 Muhammadiyah, di Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (10/11/18).
Mu’ti mengatakan, yang paling dikenal dari Nabi Sulaiman selain sebagai nabi paling kaya, ialah kemampuannya mengerti bahasa binatang. Kisah ini, menurut Mu’ti dapat diejawantahkan dalam bahasa komunikasi politik.
“Nabi Sulaiman paham bahas burung, bahkan semut. Itu adalah analogi bahwa pemimpin harus bisa memahami siapa pun rakyat yang dipimpinnya,” jelas Mu’ti.
Semut, imbuh Mu’ti ialah penggambaran rakyat kecil. “Rakyat kecil saja, suaranya didengar oleh Nabi Sulaiman. Artinya, bukan yang tidak terdengar suaranya lantas tidak didengarkan. Kita bisa menangkap ibrah dari kisah ini, tak semata dongeng,” ujarnya berfilosofi.
Menghadapi tahun politik seperti saat ini, Mu’ti menegaskan, saatnya rakyat menentukan pilihan yang sesuai dengan ideologi dan perjuangan. “Terkadang, warga Muhammadiyah ini saking teologis dan ideologisnya, sampai terlalu kaku dalam bersiasah,” sentilnya yang disambut tawa renyah hadirin yang memenuhi Aula Mas Mansyur.
Di dalam politik, kata Mu’ti, bisa jadi terhadap pilihan-pilihan itu kita tidak setuju secara keseluruhan. “Tapi, sesuatu yang tidak bisa diambil semua juga jangan ditolak semua,” ucap pria berkacamata ini.
Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang kerap digadang-gadang Muhammadiyah, ditegaskan Mu’ti, akan terlaksana melalui mekanisme muamalah, salah satunya melalui jalan ijtihad politik.
“Maka, tidak bisa kita katakan ‘Saya dukung A, B, atau C.’ Jangan-jangan itu dukungan lisan saja. Jangan hanya dukung, tapi juga coblos!” seru Mu’ti disambut tepukan tangan peserta seminar. (Isna)






0 Tanggapan
Empty Comments