Selama matahari masih menyinari bumi, harapan belum pernah padam. Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling bersih dari dosa, melainkan siapa yang paling jujur memperbaiki diri.
Dalam ceramahnya, UAH mengajak umat Islam untuk berhenti menoleh ke belakang dengan putus asa, dan mulai melangkah ke depan dengan amal saleh, tobat yang sungguh-sungguh, serta keyakinan penuh bahwa rahmat Allah selalu lebih besar daripada kesalahan manusia.
“Hidup tidak boleh dijalani secara biasa-biasa saja tanpa kesadaran spiritual. Setiap hari adalah peluang untuk menanam kebaikan dan memperbaiki kekurangan diri,” katanya seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH menegaskan bahwa poin pertama dalam kehidupan seorang mukmin adalah berupaya terus menghadirkan amal saleh dalam seluruh aktivitas hidup. Amal saleh bukan hanya dalam bentuk ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap, ucapan, dan tanggung jawab sosial.
Poin kedua, lanjut UAH, adalah kemampuan untuk belajar dari musibah. Musibah tidak selalu bermakna hukuman, tetapi sering kali menjadi sarana peringatan dan pendidikan dari Allah agar manusia menyadari kesalahan dan memperbaiki diri.
“Kadang-kadang untuk menyadarkan kita, Allah kasih musibah supaya yang tidak baik itu diperbaiki,” ujarnya.
Jika seseorang mampu berubah menjadi lebih baik setelah mendapat ujian, dan mampu mempertahankan perubahan itu, maka itulah tanda cinta Allah.
UAH juga mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik para nabi dan rasul. Selain mereka, setiap manusia pasti pernah berbuat salah, termasuk para ustaz dan tokoh agama.
“Tidak ada ustaz yang sempurna. Maka kalau belajar dari siapa pun, ambil kebaikannya. Kalau tidak sepakat, tinggalkan saja tanpa harus menghukumi orangnya,” pesannya.
Sikap ini, menurut UAH, penting agar seseorang tidak membawa urusan yang tidak perlu hingga hari Kiamat.
Salah satu pesan terkuat dalam ceramah tersebut adalah tentang makna tobat. UAH menegaskan bahwa Allah sangat mencintai pelaku maksiat yang gemar bertobat dibandingkan orang saleh yang tidak pernah merasa bersalah.
“Allah sangat mencintai pelaku maksiat yang gemar bertobat dibandingkan orang saleh yang tidak pernah merasa salah,” tegasnya.
Setiap manusia memiliki masa lalu. Namun masa lalu tidak boleh menjadi penghalang untuk masa depan yang lebih baik. Justru, kesadaran atas dosa harus menjadi pintu pembuka menuju perbaikan diri.
UAH mengutip Surah Az-Zumar ayat 53, yang menegaskan larangan berputus asa dari rahmat Allah. Dalam ayat tersebut, Allah menyeru hamba-hamba-Nya yang telah melampaui batas agar tidak berputus asa, karena Allah mengampuni seluruh dosa bagi siapa saja yang mau kembali.
Bertanggung Jawab atas Kesalahan
UAH juga menyoroti pentingnya tanggung jawab pribadi, khususnya dalam keluarga. Ia mengingatkan agar orang tua tidak mudah menyalahkan anak atau guru atas perilaku anak.
“Kalau anak salah, jangan langsung salahkan anak atau guru. Orang tua harus introspeksi. Tanggung jawab utama mendidik itu ada pada ayah dan ibu,” ujarnya.
Guru, menurut UAH, hanyalah pihak yang membantu karena keterbatasan waktu orang tua. Oleh karena itu, kesalahan dalam pengasuhan harus diakui dengan lapang dada dan diperbaiki.
Ciri utama tobat yang diterima Allah, jelas UAH, adalah perubahan perilaku. Dalam Al-Qur’an sering disebutkan frasa tāba wa ‘amila ṣāliḥā—bertobat dan kemudian beramal saleh.
Jika seseorang benar-benar menyesali dosa masa lalu, menangis dalam tobat, lalu berubah menjadi pribadi yang lebih baik, maka itu adalah tanda kuat bahwa tobatnya diterima oleh Allah.
Namun UAH berpesan agar setelah bertobat, seseorang tidak terus-menerus mengungkit masa lalu. Mengingat-ingat dosa lama justru bisa menjadi pintu masuk godaan setan, yang membisikkan keputusasaan dan keraguan terhadap ampunan Allah.
“Sudah tobat, sudah berubah, jangan diingat-ingat lagi. Teruskan amal saleh,” tegasnya.
UAH mengajak jamaah untuk selalu bersyukur setiap kali melihat matahari terbit, karena itu pertanda Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dia mengingatkan tentang kematian sebagai musibah kecil dan kiamat sebagai musibah besar yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Selagi masih hidup, manusia diberi kesempatan untuk “mengedit” hidupnya—mengedit ucapan dengan istigfar dan mengedit perbuatan dengan tobat dan amal saleh.
“Kalau pun meninggal, kita siap,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments