Mengabdi kepada umat adalah panggilan mulia yang menuntut keikhlasan hati dan keteguhan tekad. Dalam pandangan Islam, seorang Muslim tidak hanya diukur dari seberapa banyak ibadah ritualnya, tetapi juga dari sejauh mana ia memberikan manfaat bagi sesama.
Rasulullullah Saw bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad)
Pengabdian sejati memerlukan kesadaran bahwa hidup ini adalah amanah dari Allah. Al-Qur’an mengingatkan “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa kerja sama dan kontribusi positif adalah bagian dari ketaatan. Dalam konteks ini, pengabdian bukan sekadar rutinitas sosial, tetapi ibadah yang bernilai di sisi Allah.
Pengabdian yang tulus melahirkan amal jariyah, yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah tiada.
Rasulullah Saw bersabda “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Memberikan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk pendidikan, kesehatan, atau kegiatan sosial adalah bagian dari sedekah jariyah yang akan menjadi bekal di akhirat.
Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, pernah berpesan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Pesan ini mengandung makna mendalam: pengabdian di organisasi atau gerakan Islam seharusnya didasari semangat memberi, bukan mencari keuntungan pribadi.
Di tengah arus materialisme, pesan ini mengingatkan agar kita menempatkan pelayanan kepada umat di atas kepentingan pribadi.
Tokoh Muhammadiyah lainnya, Buya AR Fachruddin, juga menekankan pentingnya kesederhanaan dan pengabdian “Jangan takut menjadi orang kecil, karena justru orang kecil yang mampu mendekati hati rakyat.”
Ini mengajarkan bahwa pengabdian tidak menuntut pangkat atau jabatan, tetapi ketulusan dan kerendahan hati.
Spirit pengabdian dapat ditumbuhkan melalui tiga langkah
Satu, Ikhlas dalam niat – Menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah.
Dua, Profesional dalam bekerja – Memberikan pelayanan terbaik sesuai kemampuan.
Tiga, Istiqamah dalam perjuangan – Tidak mudah putus asa meski menghadapi tantangan.
Dalam Islam, bekerja untuk kemaslahatan umat adalah bagian dari jihad di jalan Allah. Semakin besar manfaat yang kita berikan, semakin tinggi pula derajat kita di sisi-Nya.
Mengabdi untuk umat adalah panggilan suci yang memerlukan perpaduan antara iman, ilmu, dan amal. Ayat al-Qur’an, sabda Rasulullah Saw, dan pesan tokoh Muhammadiyah mengajarkan bahwa pengabdian adalah jalan menuju kemuliaan.
Selama kita tulus dan istiqamah, insya Allah pengabdian kita akan menjadi cahaya di dunia dan akhirat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments