Suasana penuh semangat mewarnai penyampaian materi pertama yang berjudul Pengenalan Tunas Athfal dan Atribut yang Melekat dalam kegiatan Orientasi Pelatih Tunas Athfal, yang diikuti oleh para guru Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) se-Kabupaten Kediri.
Materi tersebut disampaikan oleh Bunda Yuli Rovitasari MPdI pada Sabtu (9/8/2025) di Aula SD Muhammadiyah 2 Assalam Gurah, Kediri.
Kegiatan diawali dengan pantun motivasi yang mengundang tawa dan membangkitkan semangat peserta. Selanjutnya, dilakukan ice breaking berupa senam otak yang sukses mencairkan suasana ruangan.
“Ice breaking ini membuat peserta lebih fokus dan siap menerima materi,” ujar Bunda Yuli.
Materi kemudian disampaikan melalui presentasi PowerPoint, diselingi dengan tepuk-tepuk semangat khas Hizbul Wathan agar peserta tetap antusias dan tidak merasa jenuh.
Dalam pemaparan materinya, Bunda Yuli menyampaikan bahwa Tunas Athfal merupakan jenjang awal dalam sistem pendidikan Kepanduan Hizbul Wathan yang ditujukan bagi anak usia TK/PAUD. Tujuan dari pembinaan Tunas Athfal antara lain adalah menanamkan nilai-nilai akidah dan akhlak sejak dini, membentuk karakter yang jujur, sopan, dan bertanggung jawab, serta mengenalkan dasar-dasar kepanduan dan semangat kebersamaan.
Selanjutnya, Bunda Vita melanjutkan penyampaian materi dengan menjelaskan tiga pilar penggerak Pandu Tunas Athfal.
“Pilar pertama adalah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) sebagai pelaku pendidikan yang membumi. Pilar kedua, Majelis PAUD Dikdasmen, berperan sebagai perancang kebijakan dan penjamin mutu. Pilar ketiga adalah Kwartir Hizbul Wathan yang menjadi penjaga nilai dan roh gerakan. Jika ketiganya bersinergi, Tunas Athfal akan menjadi gerakan yang kuat,” jelasnya.
Materi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan rinci mengenai atribut resmi Pandu Tunas Athfal, yang meliputi: topi berwarna hijau, hasduk berwarna hijau tua dengan pelisir kuning, baju cokelat khaki tua, celana atau rok biru tua, jilbab cokelat khaki tua, serta sepatu dan kaus kaki hitam. Penjelasan ini disampaikan dengan gaya santai namun tetap informatif, sehingga mudah dipahami oleh para peserta.
Menjelang akhir sesi, dibuka sesi tanya jawab yang diikuti dengan antusias. Tiga penanya pertama mendapatkan doorprize, sementara peserta lainnya tetap antusias dan tersenyum meski tidak memperoleh hadiah.
“Yang penting kami dapat ilmu baru,” kata salah satu peserta sambil tertawa.
Materi ditutup dalam suasana riang dan penuh kebersamaan. Harapannya, para guru ABA yang mengikuti orientasi ini mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam membina Pandu Tunas Athfal di sekolah masing-masing.
“Semoga Tunas Athfal terus berkembang, melintasi zaman, serta mencetak tunas-tunas bangsa yang tangguh dan bertakwa,” pungkas Bunda Yuli dengan penuh optimisme. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments