Sementara dalam ranah rohaniah, persyarikatan membina masyarakat melalui masjid, panti asuhan, taman pendidikan al-Quran, perpustakaan, serta lembaga sosial-keagamaan lainnya.
Menurut beliau, keseimbangan antara dua bentuk kesejahteraan inilah yang menjadi salah satu keunggulan dakwah Muhammadiyah.
Fokus utama materi kajian kemudian diarahkan pada QS. Ali Imran ayat 164, ayat yang menegaskan misi kenabian Rasulullah SAW: membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, dan mengajarkan al-Quran serta hikmah.
Tiga unsur tersebut—yatlu ‘alaihim ayātihi, yuzakkīhim, dan yu‘allimuhumul kitāba wal-ḥikmah—menurut beliau menjadi fondasi keseimbangan kesejahteraan spiritual yang harus terus dihidupkan dalam gerakan dakwah.
Pesan tersebut sejalan dengan arah gerak Muhammadiyah dalam membangun masyarakat berkemajuan, meneguhkan akidah, memperkuat pemahaman, serta mendorong kemajuan sains dan sosial yang seimbang dengan nilai-nilai agama.
Mengakhiri rangkaian semarak milad, PRM Ketegan mengadakan pawai taaruf yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Acara ini disambut meriah sebagai simbol kebersamaan warga dan sarana memperlihatkan semangat dakwah di lingkungan sekitar. Selain itu, digelar pula gebyar seni, kegiatan donor darah, dan layanan cek kesehatan gratis.
Keseluruhan rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk syukur atas perjalanan panjang Muhammadiyah selama 113 tahun, tetapi juga menjadi momentum memperluas peran dakwah sosial, memperkuat kolaborasi, serta memperteguh komitmen menghadirkan Islam berkemajuan di tengah masyarakat Ketegan dan sekitarnya.
Semangat tersebut diharapkan dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi gerakan dakwah persyarikatan di masa mendatang.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments