
Orangtua dan siswa saat melihat pameran hasil karya kelas candramawa dan gemintang dalam Pameran Karya P5 SD Muri, Sabtu (21/06/2025). (Novi/PWMU).
PWMU.CO – Halaman SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri), Gresik, tampak semarak pada Sabtu (21/06/2025).
Warna-warni karya siswa menghiasi setiap sudut sekolah dalam gelaran Pameran Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Turut hadir dalam pameran itu seluruh siswa dari kelas I hingga kelas V, baik dari jalur reguler maupun inklusi dan juga siswa ekstrakulikuler menggambar.
Lebih lanjut, kegiatan ini menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi yang patut dihargai. Melalui pameran ini, SD Muri mempertegas komitmennya sebagai sekolah yang membuka ruang seluas-luasnya bagi berkembangnya minat dan bakat siswa secara inklusif dan berkarakter.
“Allah menciptakan manusia itu unik. Masing-masing anak punya keistimewaan. Di SD Muri, kami percaya bahwa semua anak cerdas di bidangnya masing-masing” ujar Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan, Bellah Iasyah Meylindah SPd.
Ia menambahkan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan hasil karya. Namun, juga media untuk mengasah keberanian, empati, dan rasa percaya diri siswa.
Galeri Mini, Ekspresi Besar dari Siswa Reguler
Setiap depan kelas tersulap menjadi galeri mini yang memamerkan karya siswa hasil proses belajar berbasis proyek. Mulai dari kerajinan tangan, lukisan, poster bertema budaya lokal, hingga karya lingkungan, semuanya terpajang dengan rapi dan penuh warna.
Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Aisyah Giri Prameswari Hasanah, siswa kelas I. Ia membuat pigura dari kardus bekas, dihias warna-warni dan diberi foto dirinya bersama keluarga.
“Aku senang sekali bisa bikin pigura ini. Di dalamnya ada foto aku dan keluargaku. Ini kado buat mereka, supaya tahu aku sayang mereka” ujar Giri dengan mata berbinar.
Ragam karya lainnya juga menggambarkan nilai-nilai kemandirian, gotong royong, dan cinta lingkungan. Keterlibatan siswa dalam proses kreatif ini menunjukkan bagaimana pembelajaran bermakna dapat dihadirkan secara nyata dan menyenangkan.
Wadah Ekspresi Bermakna bagi Siswa Inklusi
Tak hanya siswa reguler, siswa-siswa inklusi pun tampil percaya diri melalui karya-karya yang menyentuh hati. Mereka mendapat ruang dan pendampingan khusus untuk mengekspresikan diri sesuai kemampuan dan perasaan masing-masing.
Salah satunya adalah Achmad Zhian Alfarizqi, siswa kelas II Gemintang, yang memamerkan gambar berjudul Aku Sedih. Di atas selembar kertas putih A4, ia menggambarkan seorang anak laki-laki dengan wajah murung dan air mata di pipinya, menggunakan pensil warna hitam.
“Kenapa menggambar seperti ini, Zhian?” tanya wali kelasnya, Ustadzah Qomariyah SPd.
“Zhian sedih ditinggal Mama pergi” jawabnya lirih, lalu menangis.
Ustadzah Qomariyah pun tersenyum dan memeluknya penuh empati. Ia menjelaskan bahwa suatu hari, Mama Zhian hanya pergi sebentar ke kantin sekolah, namun hal kecil itu cukup membuatnya merasa kehilangan.
“Momen seperti ini penting untuk kami pahami. Dari karya seperti ini, kami belajar bahwa anak inklusi pun memiliki cara luar biasa dalam menyampaikan rasa dan pikirannya” ungkap sang wali kelas.
Tak Sekadar Apresiasi Hasil
Lebih lanjut, Kepala SD Muri, Riza Agustina Wahyu Setyawati SPd MPd, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan bentuk nyata dari pendekatan pendidikan yang menghargai proses, bukan sekadar hasil.
“Kami ingin semua anak merasa diterima, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai potensinya. Pendidikan adalah tentang membentuk karakter dan jati diri, bukan hanya soal nilai akademik” tegasnya.
Pameran Karya P5 ini menjadi cermin bahwa pendidikan yang berpusat pada anak, inklusif, dan kolaboratif benar-benar dapat terwujud. Tentunya, ketika guru, siswa, dan orang tua berjalan dalam satu tujuan yang seirama.
Penulis Novita Dyah Puspitasari, Editor Danar Trivasya Fikri






0 Tanggapan
Empty Comments