Berita wafatnya Pendekar Besar Tapak Suci, KH Ahmad Kasuwi Thorif, MA., P.Br, pada 18 November 2025 tepat di hari Milad ke-113 Muhammadiyah menimbulkan duka mendalam bagi banyak kalangan.
Salah satu yang paling tersentuh adalah Thahirtalas, seniman asal Makassar yang pernah berjumpa dengan sosok alim sederhana itu di Bantimurung, Maros.
Meski pertemuan mereka tidak kerap terjadi, namun bagi Thahirtalas, nasihat dan ceramah-ceramah Kiai Kasuwi telah menjadi “pertemuan batin” yang jauh lebih kuat daripada sekadar tatap muka. Dari tutur sang kiai, ia merasakan keluasan ilmu, keikhlasan, dan aura lembut seorang pendekar yang menjadikan adab sebagai nafas kehidupan.
Sebagai bentuk penghormatan, Thahirtalas menuliskan sebuah puisi khusus, sebuah elegi yang melintasi ruang kenangan, spiritualitas, dan jejak-jejak laku seorang pendekar yang berjudul:
“Semiotika Cahaya yang Tak Akan Pernah Padam”
(Puisi karya Thahirtalas)
Di antara galengan sawah Godog
yang subuhnya masih meneteskan embun
seperti dzikir yang turun perlahan dari langit,
namamu sang— Kiai, Guru, dan Pendekar—
menjelma semaian abadi
di tanah yang mula-mula pendekar pijak
dengan langkah sederhana,
namun bersuara seperti ayat
yang sedang mencari penafsirnya.
***
Dari Laren yang hening,
pendekar lahir sebagai tanda,
sebuah isyarat yang dibacakan angin
di sela-sela bambu yang merunduk.
Di sanalah kerendahan hati menjadi suluk,
dan kedermawanan menjelma irigasi
yang mengalir tanpa pernah meminta
untuk dikenang.
***
Ilmu keimananmu—jernih seperti air sumur tua
yang dijaga tangan para leluhur—
akhirnya menjadi cermin
bagi siapa pun yang haus makna.
Sementara ilmu silatmu,
Tapak Suci yang pendekar wariskan
dengan telapak tangan yang penuh adab,
bukan sekadar gerak tubuh,
melainkan tafsir panjang
tentang pertarungan manusia
melawan gelap dirinya sendiri.
***
Dan pendekar mengajarkan bahwa pukulan
bukan untuk melukai,
bahwa tendangan
bukan untuk menjatuhkan martabat orang lain;
melainkan untuk menguatkan
sendi-sendi kemanusiaan
yang kerap goyah oleh sombong dan lupa.
Pada gelanggang sunyi,
di mana murid-muridmu menunduk
sebelum menyentuh tanah,
kami merasakan getar restu
dari jejakmu yang tak terhapus angin.
***
Kini, setelah sang pendekar kembali
ke pangkuan zikir yang paling dalam,
namun tidak pergi dari kami,
namamu KH Ahmad Kasuwi Thorif
berdiri seperti pohon randu di tepi persawahan
menjadi peta, menjadi kompas,
menjadi arah pulang
bagi tapak-tapak yang mencari arti.
***
Dari desa Godog hingga ke ruang abadi
yang tak mengenal senja,
sang pendekar tetap sebuah cahaya yang tak padam;
terus menyala di telapak tangan kami
setiap kali bersalaman
dengan adab yang pendekar ajarkan.
***
Sang pendekar adalah bab yang tak pernah selesai,
ayat yang terus dibaca,
dan legenda yang tinggal
di antara detak nadi para pendekar-pendekar lanjut.
***
Semoga Allah menerima seluruh amalmu,
dan menjadikan setiap tetes ilmu
yang pendekar titipkan kepada dunia
sebagai sungai jernih
yang terus mengalir di bawah namamu.
Dan kami—para murid, para pewaris niat baikmu—
akan terus berjalan
dengan langkah yang telah pendekar ajari:
tenang, rendah hati,
dan setia pada cahaya.
Makassar, 19 November 2025
Thahirtalas





0 Tanggapan
Empty Comments