pwmu.co - Penampilan tari saman dalam panggung gembira Al Mizan. (Alfain/PWMU.CO)
PWMU.CO– Sabtu malam (27/5/2025) halaman Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan disulap menjadi panggung seni yang megah.
Suasana penuh suka cita menyelimuti acara bertajuk “The Spectacular Perform from Precious Generation”, yang menjadi ajang perpisahan kelas akhir santri Diniyah ke-6.
Namun, ini bukan sekadar perpisahan. Panggung Gembira 639 adalah panggung nilai. Tempat para santri menampilkan seni, bukan hanya sebagai ekspresi budaya, tapi juga sebagai wasilah dakwa, cara menyampaikan pesan keislaman yang menggembirakan.
“Kami sadar, tidak semua santri akan berdakwah di mimbar-mimbar masjid. Ada yang akan berdakwah lewat seni, budaya, bahkan olahraga,” ujar Anggun Imanto MPd, Wakil Mudir Al Mizan dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa Al Mizan bukan hanya mencetak penghafal atau pendakwah, tapi juga mendidik manusia yang memanusiakan manusia, mereka yang mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui berbagai jalan, termasuk pertunjukan budaya yang santun dan sarat makna.
Panggung Bukan Sekadar Hiburan
Dengan panggung yang dibangun dari semangat gotong royong, santri Al Mizan menampilkan beragam pertunjukan memukau: tari Reog, tari Mandau, tari Saman, Tapak Suci, puisi Palestina, nasyid, hingga campursari. Puncaknya, kelas 6 menyuguhkan kolaborasi seni sebagai penampilan pamungkas.
Ketua Panitia, Alif Zulqarnain, mengungkapkan bahwa panggung ini bukan hanya ajang tampil, tapi juga ruang belajar langsung. Dari proses membangun panggung, mengatur acara, hingga mengelola keuangan, santri belajar kepemimpinan, manajemen, komunikasi, dan tanggung jawab secara nyata.
“Kami belajar hal-hal yang tak kami temukan di ruang kelas. Ini adalah puncak pendidikan bagi kami,” ujarnya penuh haru.
Dakwah Bergembira ala Santri
Anggun Imanto menambahkan bahwa makna terdalam dari panggung ini adalah filosofi kehidupan. Panggung adalah duniaindah namun fana. Seperti kata pepatah bahwa perintah terhadap sesuatu adalah perintah terhadap sarana-sarana menuju ke sana. Maka jika dakwah adalah kewajiban, seni bisa menjadi jembatannya.
Ia mencontohkan Walisongo yang berdakwah lewat wayang, atau KH Ahmad Dahlan yang memainkan biola. Seni, jika berada di tangan orang yang tepat, bisa menjadi jalan ibadah yang indah.
“Agama ini adalah keindahan. Dan keindahan itu bisa dieksplorasi lewat seni yang beradab,” tuturnya.
Anggun Imanto memberikan sambutan. (Alfain/PWMU.CO)
Persembahan Terakhir, Warisan yang Abadi
Meski dana yang tersedia terbatas, kreativitas santri Al Mizan tak terbendung. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk melahirkan karya terbaik.
Dalam suasana malam yang hangat dan penuh haru, para wali santri, alumni, dan keluarga besar Al Mizan menyaksikan persembahan terakhir dari generasi yang akan segera melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.
Panggung Gembira 639 tak hanya meninggalkan kenangan, tapi juga meninggalkan nilai: bahwa menjadi santri adalah tentang mencintai ilmu, menjaga budaya, dan berdakwah dengan cara yang menggembirakan.
Dan malam itu, halaman Al Mizan menjadi saksi: para santri bukan sekadar lulus, mereka tumbuh dan bertumbuh dengan seni, dengan nilai, dan dengan cinta. (*)
0 Tanggapan
Empty Comments