Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seni Memanggil Hati Anak Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Iklan Landscape Smamda
Seni Memanggil Hati Anak Saat Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Imam Sapari (Chat-GPT/PWMU.CO)
Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
pwmu.co -

“Dan kapal itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Wahai anakku (ya bunayya), naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’” (QS. Hud: 42)

 

Di tengah derasnya arus zaman yang kian kompleks, Al-Qur’an menghadirkan pelajaran komunikasi yang begitu menyentuh melalui kisah Nabi Nuh a.s. Dalam situasi paling genting—ketika gelombang setinggi gunung mengancam keselamatan—beliau tetap memanggil anaknya dengan penuh kasih: “Ya Bunayya” (wahai anakku tersayang).

Seruan ini bukan sekadar panggilan, melainkan seni menyentuh hati di tengah krisis. Ia menjadi refleksi penting bagi orang tua dan pendidik masa kini, saat anak-anak tidak lagi menghadapi banjir air, tetapi “banjir” informasi, godaan gaya hidup, dan tantangan moral yang tak kalah dahsyat.

Gelombang “Laksana Gunung” di Era Digital

Al-Qur’an menggambarkan gelombang pada masa Nabi Nuh setinggi gunung. Hari ini, “gelombang” itu hadir dalam bentuk lain: derasnya arus media sosial, hoaks, dekadensi moral, hingga budaya hedonisme yang menggerus nilai.

Dalam situasi dunia yang sering kali “tidak baik-baik saja”, rumah dan sekolah tidak boleh ikut menjadi sumber tekanan. Justru sebaliknya, keduanya harus menjadi “bahtera” yang menenangkan—ruang aman yang menghadirkan penerimaan, bukan penghakiman. Inilah makna mendalam dari konsep baitii jannati—rumahku adalah surgaku.

“Ya Bunayya”: Diksi Penuh Cinta di Tengah Krisis

Nabi Nuh a.s. tidak memilih kata yang keras atau menyakitkan. Ia tidak melabeli anaknya dengan sebutan negatif, meski sedang membangkang. Ia justru menggunakan diksi yang lembut, penuh cinta, dan mengandung kedekatan emosional.

Pelajaran ini sangat relevan hari ini. Ketika anak terjebak dalam kesalahan, respons yang penuh empati akan jauh lebih efektif daripada kemarahan. Lisan yang lembut bisa menjadi jembatan, sementara kata-kata kasar justru bisa menjadi jurang pemisah.

Ilusi “Gunung” di Era Modern

Anak Nabi Nuh merasa aman dengan berlindung di gunung. Ia percaya pada logika sempitnya, bahwa ketinggian fisik mampu menyelamatkan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Fenomena serupa terjadi di era digital. Banyak anak merasa “aman” dalam popularitas semu, validasi media sosial, atau pemikiran yang menjauh dari nilai agama. Padahal, semua itu hanyalah “gunung” ilusi yang rapuh.

Di sinilah peran orang tua dan pendidik: terus mengingatkan bahwa keselamatan sejati hanya ada pada iman, adab, dan ilmu yang bermanfaat.

Ketangguhan Pendidik: Ikhtiar Tanpa Henti

Nabi Nuh a.s. tidak berhenti memanggil hingga detik terakhir. Itu adalah simbol keteguhan, kesabaran, dan doa yang terus mengalir.

Mendidik anak bukan hanya soal metode, tetapi juga soal ketulusan dan keteguhan hati. Ada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh logika dan usaha manusia, yaitu hidayah. Di situlah doa menjadi kekuatan utama.

Kesimpulan

Kisah Nabi Nuh a.s. dalam Surat Hud ayat 42 mengajarkan satu hal mendasar: semakin besar badai di luar, semakin lembut seharusnya panggilan kita di dalam.

Di tengah dunia yang penuh tantangan, jangan biarkan kasih sayang memudar. Teruslah memanggil dengan hati. Karena bisa jadi, satu kalimat sederhana—“Ya Bunayya”—yang diucapkan dengan tulus, menjadi pelampung terakhir yang menyelamatkan anak-anak kita dari tenggelam dalam derasnya arus zaman.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡