Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seni Membuat Soal HOTS: Cara Guru Menyalakan Otak Anak SD

Iklan Landscape Smamda
Seni Membuat Soal HOTS: Cara Guru Menyalakan Otak Anak SD
Mochamad Rafiansyah Hartono-Guru SD Muhammadiyah 18 Surabaya. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Mochamad Rafiansyah Hartono Guru SD Muhammadiyah 18 Surabaya
pwmu.co -

Pendidikan dasar adalah fondasi yang menentukan arah perkembangan anak di masa depan. Pada tahap ini, anak tidak hanya diajak untuk mengingat fakta atau menghafalkan rumus, melainkan juga dilatih untuk mengolah pengetahuan secara lebih dalam. Salah satu konsep yang mendukung tujuan tersebut adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS).

HOTS menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan analisis, evaluasi, dan kreasi. Dengan pendekatan ini, murid tidak sekadar menerima informasi, tetapi diajak untuk menelaah, menimbang, dan mengembangkan ide dari informasi yang ada.

HOTS memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan adaptif. Anak yang terbiasa dilatih dengan soal-soal HOTS akan mampu menghadapi masalah sehari-hari dengan strategi yang lebih matang. Mereka belajar untuk tidak cepat puas dengan jawaban singkat, melainkan terbiasa menelusuri alasan di balik sebuah fenomena dan mencoba menemukan solusi baru.

Pada tingkat sekolah dasar, pembiasaan ini harus dilakukan secara perlahan, dengan menyesuaikan kemampuan kognitif anak, sehingga mereka merasa tertantang tanpa terbebani. Inilah titik awal di mana seni seorang guru benar-benar berperan, karena merancang soal HOTS untuk anak kecil membutuhkan kreativitas sekaligus kepekaan pedagogis.

Pemilihan Konteks yang Relevan

Konteks adalah pintu masuk utama bagi anak untuk memahami soal. Ilmu yang hadir dalam bentuk cerita lebih mudah dicerna oleh anak karena mereka dapat membayangkan situasi yang dipaparkan. Dalam merancang soal, guru perlu memilih konteks yang akrab dengan keseharian siswa.

Contoh konteks meliputi lingkungan rumah, halaman sekolah, permainan di lapangan, kegiatan berbelanja sederhana, makanan favorit, binatang peliharaan, dan aktivitas sosial yang biasa anak alami. Pemilihan konteks harus mempertimbangkan latar budaya dan lingkungan lokal sehingga soal terasa dekat dan bermakna bagi mayoritas murid di kelas tersebut.

Perumusan soal sebaiknya menghadirkan detail sensorik secukupnya. Detail seperti warna, jumlah, nama tempat, atau aktivitas yang spesifik membantu anak membangun gambar mental.

Contoh: alih-alih menuliskan “Hitunglah luas persegi panjang”, soal dapat berbunyi “Ibu menanam bunga di kebun berbentuk persegi panjang. Panjang kebun 6 meter, lebar 4 meter. Berapa meter persegi yang perlu ditanami?” Kalimat semacam ini menempatkan angka dalam situasi nyata sehingga murid dapat mengaitkan operasi matematika dengan tindakan yang mereka pahami.

Struktur Berjenjang

Struktur tugas sebaiknya berjenjang. Awali dengan pertanyaan pemicu yang sederhana untuk mengaktifkan pengetahuan awal, lalu lanjutkan ke tugas yang meminta analisis atau perbandingan alternatif tindakan, dan tutup dengan tugas yang mendorong kreativitas atau perencanaan.

Pendekatan berjenjang memudahkan guru memberi scaffolding. Guru dapat menyediakan petunjuk bertahap, contoh penyelesaian, atau alat bantu visual yang memandu murid menuju jawaban yang lebih kompleks. Teknik ini menjaga suasana tenang di kelas ketika soal menuntut pemikiran lebih dalam.

Penyesuaian bahasa menjadi hal teknis yang krusial. Pilih kosakata yang familiar, gunakan kalimat pendek yang fokus pada satu ide per kalimat, dan hindari konsep yang memerlukan pengetahuan prasyarat berlapis tanpa pengantar. Jika soal dimaksudkan untuk menguji kemampuan analitis, sertakan peta konsep sederhana atau gambar pendukung agar murid dapat memakai alat visual sebagai jembatan menuju abstraksi.

Di lain waktu, konteks dapat diperkaya dengan data kecil yang harus diolah, misalnya tabel singkat, gambar diagram, atau susunan benda yang harus dihitung. Keseluruhan tujuan pemilihan konteks adalah menciptakan jembatan antara pengalaman riil anak dengan proses berpikir yang lebih tinggi.

Penguatan Imajinasi Peserta Didik

Imajinasi menjadi bahan bakar untuk soal yang menuntut kreativitas dan solusi orisinal. Anak sekolah dasar hidup dalam dunia bermain dan cerita. Soal yang mengundang peran serta imajinasi akan memicu keterlibatan emosional dan kognitif. Guru dapat merancang tugas yang meminta murid membayangkan skenario, merancang sesuatu, atau memecahkan masalah dalam cerita yang disajikan.

Contoh tugas: “Kamu diminta merancang taman kelas yang hemat air. Sebutkan tiga jenis tanaman yang cocok, jelaskan alasan pemilihan, dan gambar tata letak taman.” Tugas semacam ini menggabungkan pengetahuan lingkungan, kemampuan pengambilan keputusan, serta ekspresi visual.

Bentuk soal yang efektif melibatkan berbagai modalitas. Gunakan gambar, potongan teks cerita, dialog pendek antara tokoh, atau benda nyata sebagai pemicu. Soal berbasis gambar memudahkan murid memulai analisis tanpa bergantung sepenuhnya pada teks panjang.

Soal berbasis peran mengajak murid menilai situasi dari perspektif tokoh, lalu membuat keputusan dan mempertanggungjawabkannya secara singkat. Teknik ini mengasah kemampuan berpikir sebab-akibat, empati, dan perencanaan.

Format pertanyaan sebaiknya terbuka pada opsi jawaban yang beragam. Hindari pertanyaan yang mengarahkan jawaban tunggal bila tujuan soal adalah melatih kreativitas. Beri kriteria penilaian yang jelas agar murid memahami aspek yang dinilai: kejelasan alasan, kreativitas solusi, keterkaitan dengan konteks, dan kemampuan menyajikan jawaban secara tertib. Guru dapat menggunakan rubrik sederhana yang dicantumkan bersama soal sehingga murid tahu aspek apa yang harus diutamakan.

Metode evaluasi yang sesuai untuk soal imajinatif melibatkan penilaian formatif. Guru memberi umpan balik yang menyorot proses berpikir, bukan sekadar benar-salah. Umpan balik yang mengapresiasi langkah pemikiran, menanyakan alternatif lain, atau menyarankan pengayaan akan menguatkan kebiasaan reflektif.

Pengayaan dapat berbentuk tugas lanjutan yang menantang murid menguji ide mereka lewat eksperimen kecil, diskusi kelompok, atau presentasi singkat. Aktivitas lanjutan ini memperdalam pemahaman dan memberi ruang bagi pengembangan ide lebih matang.

Penyisipan Nilai Kehidupan

Soal yang baik mengandung muatan pengetahuan sekaligus kesempatan bagi pengembangan karakter. Penyisipan nilai kehidupan dalam proses berpikir mendorong murid mengaitkan pilihan intelektual dengan konsekuensi sosial dan etis. Guru dapat menyusun skenario sederhana yang menuntut murid mempertimbangkan aspek keadilan, tanggung jawab, kejujuran, atau kerja sama.

Contoh: “Kelompokmu menemukan sisa makanan di lapangan. Rancang rencana agar makanan itu tidak mubazir dan manfaatnya tersebar merata.” Pertanyaan tersebut menegakkan keterampilan problem solving sekaligus memperkuat nilai peduli lingkungan dan solidaritas.

Penggunaan dialog hipotetis menjadi teknik efektif untuk memancing refleksi moral. Guru memperkenalkan situasi singkat yang mengandung pilihan etis, meminta murid menjelaskan keputusan mereka, dan meminta alasan yang jelas.

Langkah berikutnya adalah meminta murid merancang tindak lanjut yang nyata, misalnya membuat poster kampanye kebersihan atau program jaga kebun. Output konkret mempertautkan pemikiran abstrak dengan tindakan nyata sehingga nilai yang dipelajari mudah melekat.

Penilaian Aspek

Penilaian aspek nilai dapat dilakukan melalui observasi dan portofolio sederhana. Guru mencatat argumen murid, pilihan solusi yang diajukan, dan cara murid berinteraksi dalam kerja kelompok.

Portofolio berisi refleksi singkat dari murid tentang apa yang mereka pelajari dari soal dan bagaimana rencana mereka menerapkan pelajaran tersebut di rumah atau lingkungan sekolah. Dokumentasi semacam ini memberi bahan bukti perkembangan karakter yang dapat dibahas dalam rapat orangtua-guru atau pertemuan kelas.

Integrasi nilai dalam soal juga membuka peluang kolaborasi lintas mata pelajaran. Proyek mini yang mengombinasikan matematika, ilmu pengetahuan, dan kewarganegaraan misalnya memberi ruang bagi murid mengaplikasikan konsep hitung, pengamatan, dan sikap bertanggung jawab dalam satu kegiatan. Kegiatan kolaboratif ini memberi pengalaman bermakna yang memperkuat keterampilan berpikir serta kebiasaan bertindak yang diharapkan.

Penyusunan soal HOTS memerlukan latihan. Guru yang berlatih menulis soal dengan memperhatikan konteks, mengundang imajinasi, dan menanamkan nilai akan menemukan proses ini semakin natural. Soal yang dirancang dengan rumus estetis dan pedagogis tersebut memberi jalan bagi murid untuk berpikir sistematis, kreatif, dan berdampak pada kehidupan nyata. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu