Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seni Memikat Hati, Begini Cara Menasihati

Iklan Landscape Smamda
Seni Memikat Hati, Begini Cara Menasihati
pwmu.co -
Siswa kelas III SD Mugeb membuka Halaqah Ummahat dengan tarjim surat al-Fatihah. (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Beramal Shaleh dan Paham Kondisi

Kedua, harus banyak amal shaleh. Evi menegaskan, “Islam itu bergerak. Bergeraklah! Karena dalam gerakan itu pasti ada barakahnya.”

“Sebelum kita menyampaikan sesuatu kita siapkan ilmu dan amalnya. Power terbaik adalah kebaikan, amal salih. Itu yang menjadikan kita digdaya, sakti,” ungkapnya.

Ketiga, seni memikat hati harus paham kondisi. Evi mengimbau, “Cerdas membaca kondisi! Amunisi (amal) sudah siap, ilmu sudah tahu. Tapi saya tahan untuk tidak reaktif. Kumpulkan data dulu. Kalau dilihat agak bete, nggak jadi (menasihati).”

Begitu malam hari melihat anaknya sudah bisa diajak bicara, sebelum menyampaikan, Evi mengajarkan untuk mengucap doa pamungkas ini:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Arti surat Taha ayat 25-28 itu, “Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.”

Evi menekankan, “Ya Allah, bantu aku melepaskan kekakuan lidahku. Sampaikan nasihatku di hatinya.”

Barulah setelah itu Evi mencontohkan bagaimana dia mengajak bicara anak laki-lakinya. “Mas, boleh Bunda bicara? Duduklah. Boleh bunda ngomong? Bunda kepikiran tentang acara besok, Pensi. Bunda khawatir kalau kamu datang di tempat itu, di sana ada musik, ada gadis tidak berkerudung dance campur.”

“Bunda belajar darimu, kalau ada orang shalih ke tempat yang Allah tidak ridha, kalau ada laknat Allah turun, orang shalih itu kena laknat Allah. Omongono po’o temanmu yang tujuh itu, be’e mereka nggak tahu,” imbuhnya dengan tetap lembut dan menatapnya, tidak sambil melakukan aktivitas lainnya seperti menyapu atau memasak.

Dengan segala persiapan memperbanyak amal selama sepekan, mempelajari berbagai ilmu, dan mendoakan dengan khusyuk, Evi pun mendapat jawaban dari putranya bahwa tidak jadi ke Pensi. “Itu pertolongan Allah dari kebaikan kita, dari cara kita menegurnya. Ini nasihat!” ujarnya.

Terus-menerus

Evi pun mengajak jamaah para bunda untuk memberikan nasihat terus-menerus. “Dalam kondisi stabil dan harus banyak doa,” imbuhnya.

Misalnya ketika anak mau berangkat sekolah, maka ibu bisa menyampaikan dengan lembut, “Bismillah itu transaksi hamba dengan Allah agar saat berangkat sampai pulang itu dihitung di sisi Allah. Niatkan ya Nak ini untuk Allah.”

Evi terus mendampingi langkah anaknya sampai keluar pagar rumah sambil melanjutkan, “Kalau mobilmu kecelakaan dan kau mati, jangan khawatir. Kau mati dalam kondisi syahid!” Menurutnya, nasihat seperti itu yang harus ibu tanamkan pada anak.

Selain itu, Evi menekankan, pemberian nasihat kepada anak memerlukan kolaborasi antara guru dan orang tua. “Jenengan tidak bisa berharap semua kebaikan dilakukan di sekolah. Sekolah bukan pabrik panci: yang masuk seng, keluar panci. Harus ada kolaborasi dengan orang tua untuk menyamakan visi misi,” jelasnya.

Dia juga berpesan, “Kalau sudah menyekolahkan anak, begitu anak ditegur (di sekolah) njenengan supporting (mendukung) teguran itu. Bukan malah melaporkan ke polisi.” (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu