Di tengah derasnya arus digital yang kerap menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Blue Savant Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) justru menghadirkan pendekatan berbeda. Mereka menginisiasi gerakan “Sentuhan Digital di Kampung Binaan Ramadan” sebagai bentuk integrasi antara teknologi dan dakwah yang membumi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) Darul Arqam Dasar (DAD) yang dilaksanakan pada 9–11 Maret 2026 di Masjid At-Taqwa Pogot, Surabaya. Tidak sekadar agenda kaderisasi, RTL ini menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai Trilogi dan Trikoda IMM dalam bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat.
Sejak hari pertama, suasana TPA di sekitar masjid mulai hidup dengan semangat belajar anak-anak. Kegiatan dibagi ke dalam beberapa kelas sesuai kemampuan.
Di satu sisi, anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan penuh semangat meski masih terbata-bata. Di sisi lain, hafalan demi hafalan mulai disusun, sementara materi tajwid diberikan sebagai jembatan untuk memahami bacaan secara lebih baik.
Namun, yang terbangun bukan hanya proses pembelajaran. Interaksi hangat, dialog sederhana, dan tawa yang tercipta menjadi penanda hadirnya kedekatan emosional. Kader IMM tidak menempatkan diri sebagai pengajar semata, melainkan sebagai teman belajar yang membersamai.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan pembagian takjil kepada masyarakat sekitar. Sebuah langkah sederhana, namun sarat makna—bahwa kehadiran kader harus dapat dirasakan secara langsung.
Memasuki hari kedua, pendekatan pembelajaran dikemas lebih kreatif melalui kegiatan seni seperti kaligrafi, menggambar, dan mewarnai. Di balik aktivitas tersebut, kader IMM menyisipkan nilai edukatif dengan mengenalkan sejarah dan makna kaligrafi dalam Islam.
Berbagai metode seperti diskusi ringan, ice breaking, dan interaksi aktif diterapkan untuk menjaga antusiasme peserta. Pembelajaran pun tidak lagi terasa sebagai kewajiban, tetapi menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pada hari ini pula, kegiatan sosial seperti pembagian takjil dan bantuan sosial kembali dilakukan sebagai wujud nyata nilai humanitas dalam gerakan IMM.
Hari ketiga menjadi puncak kegiatan melalui kajian dan workshop bertema “Dari Layar ke Sajadah”. Tema ini mengajak peserta merefleksikan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana mengarahkannya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Diskusi berlangsung interaktif, mengangkat berbagai keresahan bersama, mulai dari distraksi digital hingga pengelolaan waktu yang sering terabaikan. Kader IMM hadir bukan untuk menghakimi, melainkan mengajak dan membuka ruang kesadaran kolektif.
Keterlibatan adik-adik Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam kegiatan ini menjadi simbol penting kesinambungan kaderisasi. IMM dan IPM bertemu dalam satu ruang pengabdian, memperkuat silaturahim sekaligus menegaskan bahwa gerakan dakwah adalah kerja kolektif lintas generasi.
Ketua Pelaksana, Deni Lukmana, menegaskan bahwa RTL tidak boleh berhenti sebagai agenda formal semata.
“Kami ingin RTL hidup sebagai gerakan yang hadir, yang mendengar, dan benar-benar menjadi bagian dari solusi, baik di ruang sosial maupun digital,” ujarnya dalam rilis yang diterima PWMU.CO, Senin (23/3/2026) .
Kata Deni, apa yang dilakukan selama tiga hari ini mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, tersimpan pesan kuat bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan bermakna.
“Kegiatan ini menjadi penanda arah baru bagi kader IMM Blue Savant UMSURA dalam menapaki jalan pengabdian yang lebih relevan, adaptif, dan membumi,” terangnya.
Deni menambahkan, sari kampung binaan, dari interaksi sederhana, tumbuh harapan besar, yakni lahirnya kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga peka secara sosial, reflektif, serta mampu menjawab tantangan zaman dan perkembangan teknologi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments