
PWMU.CO – Suasana Dusun Jedong, Desa Sekarputih, Kecamatan Balongpanggang, pada kamis (24/7/2025) pagi itu mendadak begitu semarak. Bukan karena ada hajatan atau pasar dadakan, melainkan karena kehadiran sekelompok mahasiswa berjas almamater biru muda yang menyulap balai dusun menjadi pos kesehatan mini. Beberapa dari mereka tampak sibuk menyiapkan meja, alat kesehatan, dan brosur edukasi.
Mereka adalah mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Pagi itu mereka menyelenggarakan layanan cek kesehatan gratis bagi warga, khususnya para lanjut usia (lansia). Program ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa. Selaras dengan program yang dilaksanakan.
“Banyak lansia yang kesulitan ke puskesmas karena jarak dan keterbatasan fisik. Kami ingin mereka tetap bisa memantau kondisi kesehatannya,” ujar Ricky Affandi, Ketua Kelompok KKN, di sela kegiatan.
Bekerja sama dengan Puskesmas Pembantu Sekarputih dan dosen pembimbing lapangan Yanuar Pandu Negoro, para mahasiswa memeriksa tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat, hingga memberikan konsultasi umum dan edukasi PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Brosur-brosur edukatif pun dibagikan kepada warga sebagai bekal menjaga pola hidup sehat.
Antusiasme warga pun luar biasa. Sejak pagi, para lansia berdatangan dengan semangat. Salah satunya, Fathona (70), mengaku bersyukur dengan adanya layanan ini.
“Terima kasih untuk adik-adik mahasiswa. Biasanya saya harus nebeng anak ke kota kalau mau periksa. Sekarang bisa cek di sini, gratis pula. Saya jadi tahu tekanan darah dan gula saya berapa. Alhamdulillah,” ujarnya dengan senyum hangat.
Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Sekarputih, Swi, menyambut positif inisiatif ini.
“Ini tidak hanya membantu secara medis, tapi juga menumbuhkan kesadaran warga tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin. Semoga bisa berlanjut,” katanya.
Tak ketinggalan, salah satu kader kesehatan desa bernama Laili turut merasakan dampaknya.
“Kami jadi lebih ringan tugasnya. Warga lebih terbuka untuk diajak hidup sehat,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama – sebagai simbol kolaborasi antara kampus, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Lewat tensimeter, brosur, dan kepedulian tulus, mahasiswa KKN UMG membuktikan bahwa pelayanan kesehatan bisa dimulai dari dusun, dan kemanusiaan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana. ***
Penulis Ahmad Azharuddin, Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments