Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seolah Hanya Ada Satu Solusi: UMKM

Iklan Landscape Smamda
Seolah Hanya Ada Satu Solusi: UMKM
Zainal Arifin Emka. Foto: Dok/Pri
Oleh : Zainal Arifin Emka Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik
pwmu.co -

Setiap kali ekonomi memburuk, jawabannya selalu sama: UMKM. PHK naik? UMKM. Lapangan kerja sempit? UMKM. Daya beli turun? UMKM lagi.

Seolah-olah UMKM adalah obat segala penyakit. Padahal, pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur adalah: mengapa semakin banyak UMKM, tapi semakin banyak juga orang yang tetap miskin?

Indonesia tidak kekurangan orang rajin. Yang kurang adalah sistem yang adil.

Semua Disuruh Jualan

Hari ini, hampir semua orang “jadi pengusaha”. Bukan karena visi bisnis, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Lapak kopi, gorengan, kue rumahan, minuman viral tumbuh di mana-mana. Tapi mayoritas bermain di kelas yang sama: produk murah, margin tipis, pembeli sensitif harga.

Mereka tidak bersaing dengan korporasi besar. Mereka saling bertabrakan satu sama lain.

Ini bukan ekonomi kreatif. Ini ekonomi saling sikut di ruang sempit. Dan anehnya, kondisi ini justru dirayakan.

Lupa Hitung Nasib

Pemerintah bangga dengan angka: puluhan juta UMKM, tulang punggung ekonomi nasional.

Tapi mari jujur: berapa yang benar-benar naik kelas? Berapa yang bisa menembus pasar menengah? Berapa yang bertahan lebih dari tiga tahun?

Yang sering terjadi: UMKM mikro dijadikan statistik politik, bukan subjek kebijakan serius. Negara puas dengan keramaian, bukan dengan kualitas.

UMKM dipuji agar rakyat sibuk, bukan agar rakyat sejahtera. Selama rakyat masih jualan, pengangguran bisa ditekan. Tapi kemiskinan? Dibiarkan berputar.

Alat Penenang ini bagian yang jarang diakui. Usaha mikro hari ini lebih berfungsi sebagai peredam ledakan sosial daripada mesin mobilitas ekonomi.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Orang tidak menganggur, tapi juga tidak naik kelas. Orang capek bekerja, tapi tetap di tempat yang sama. Dan selama itu terjadi, negara terlihat “berhasil”.

Kita diajari mengagumi ketangguhan rakyat, tapi tidak diajak mempertanyakan:
mengapa rakyat harus setangguh itu hanya untuk hidup biasa?

Romantisasi yang Berbahaya

UMKM sering dibungkus dengan narasi heroik: mandiri, kreatif, tahan banting. Masalahnya, romantisasi ini menutup kegagalan struktural.

Ketika UMKM dipuja tanpa kritik, negara bisa cuci tangan. Rakyat disuruh adaptif, fleksibel, dan inovatif, sementara akses modal, pendampingan serius, perlindungan pasar, dan jalur naik kelas tetap macet.

Akibatnya sederhana tapi kejam: orang miskin melayani orang miskin, uang berputar di lingkaran kecil, dan keadilan ekonomi tidak pernah bergerak.

Bukan Solusi

Mari hentikan kepura-puraan. Banyak UMKM makanan hari ini adalah gejala tekanan ekonomi, bukan solusi pembangunan.

Yang salah bukan penjual kopi, gorengan, atau es. Mereka sedang bertahan. Yang bermasalah adalah sistem yang membuat jualan murah menjadi satu-satunya jalan rasional bagi jutaan orang.

Lebih bermasalah lagi ketika kondisi itu dipuji sebagai keberhasilan. Kalau UMKM terus dirayakan tanpa keberanian mengakui akar persoalannya, maka yang sedang kita rawat bukan kesejahteraan, melainkan kepasrahan kolektif.

Dan dari kepasrahan itulah, masa depan yang rapuh sedang kita bangun—sambil bertepuk tangan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu