Tidak terasa kita akan masuk di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Waktu berjalan begitu cepat. Baru kemarin kita menyambutnya dengan takbir dan harapan, kini ia hampir meninggalkan kita.
Banyak orang semangat di awal, lalu melemah di akhir. Masjid penuh di malam pertama, grup WhatsApp ramai dengan jadwal kajian, target khatam Al-Qur’an dibuat dengan penuh optimisme.
Namun memasuki hari ke-20, mulai terdengar kalimat, “Capek,” “Besok saja tahajudnya,” atau “Yang penting sudah puasa sebulan.”
Padahal dalam Islam, nilai terbesar justru ada di penutup. Akhir menentukan nilai dalam kehidupan. Yang dinilai bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhiri.
Orang bisa saja memulai dengan biasa-biasa saja, tetapi jika ia menutup dengan kesungguhan, maka ia mulia. Sebaliknya, awal yang gemilang bisa kehilangan makna jika ditutup dengan kelalaian.
Begitu pula Ramadan. Sepuluh hari terakhir adalah kesempatan terakhir untuk:
- Memperbaiki kekurangan ibadah
- Menambal kelalaian di hari-hari awal
- Menggapai malam Lailatul Qadr
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Malam itu lebih baik dari seribu bulan. Satu malam setara lebih dari 83 tahun ibadah. Siapa yang tidak ingin umurnya “dipanjangkan” dengan cara yang Allah sendiri sediakan?
Ujian di Menit Terakhir
Bayangkan seorang mahasiswa yang mengikuti ujian dua jam. Selama satu setengah jam ia santai, merasa soal mudah. Namun di 30 menit terakhir ia mulai fokus, meneliti kembali jawabannya, memperbaiki kesalahan kecil, dan memastikan tidak ada yang kosong. Justru 30 menit terakhir itulah yang menentukan nilainya.
Ramadhan pun demikian. Sepuluh hari terakhir adalah “30 menit terakhir” kehidupan spiritual kita tahun ini.
Atau seperti pelari maraton. Ia tidak mempercepat langkah di kilometer pertama, tetapi menyimpan tenaga untuk sprint menjelang garis akhir. Sorak penonton biasanya paling keras terdengar di akhir lintasan, bukan di awal. Karena akhir adalah penentu.
Teladan Rasulullah
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, dari Aisyah ra: “Apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah bersungguh-sungguh melebihi hari-hari lainnya.”
Bahkan dalam riwayat lain disebutkan beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggang—tanda keseriusan dan fokus penuh dalam ibadah.
Di saat yang lain mulai lelah, Rasulullah ﷺ justru meningkatkan kesungguhan. Ini pesan yang sangat jelas bagi kita: jangan kendur.
Proyek yang Hampir Selesai
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat proyek pembangunan rumah yang hampir selesai. Dinding sudah berdiri, atap sudah terpasang.
Namun jika bagian akhir—finishing—dikerjakan asal-asalan, hasilnya tetap terlihat buruk. Finishing menentukan kesan keseluruhan.
Ramadan juga demikian. Jangan biarkan “finishing” ibadah kita terlihat lemah. Justru di sinilah kita rapikan, kita kuatkan, kita indahkan.
Amal yang Dijaga di 10 Hari Terakhir
Mari jaga dan kuatkan:
- Salat malam dan witir
- Tilawah dan tadabbur Al-Qur’an
- Istighfar dan doa
- Sedekah, sekecil apa pun
- Menjaga hati dan lisan
Mungkin kita tidak mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Tapi jangan berhenti. Jangan turunkan standar ibadah hanya karena lelah. Lelah itu manusiawi, tetapi menyerah itu pilihan.
Terutama doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika mencari Lailatul Qadr:
“Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.”
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku).
Doa ini sederhana, namun dalam maknanya. Kita tidak meminta harta, tidak meminta jabatan, tidak meminta dunia. Kita meminta ampunan. Karena siapa yang diampuni, ia telah mendapatkan segalanya.
Jangan Sampai Menyesal
Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Tidak ada yang bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan tahun depan. Berapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, kini hanya tinggal nama dan doa.
Sepuluh hari terakhir bukan sekadar penutup, tetapi penentu.
Mari kuatkan langkah. Mari hidupkan malam. Mari lembutkan hati. Mari isi hari-hari terakhir ini dengan kesungguhan yang mungkin belum kita lakukan di awal.
Insyaa Allah kita dipertemukan dengan Lailatul Qadr, Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima seluruh amal kita. Āamīin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments